Demi Air, Petani Indramayu “Berlebaran” di Sawah | Villagerspost.com

Demi Air, Petani Indramayu “Berlebaran” di Sawah

Petani Indramayu mengandalkan pompa air untuk mengairi sawahnya (dok. villagerspost.com/said abdullah)

Indramayu, Villagerspost.com – Gema takbir yang menandai berakhirnya bulan suci Ramadan dan tibanya Hari Raya Idul Fitri tahun ini, seharusnya disambut gembira oleh seluruh umat Islam di dunia. Di hari itu, umat Islam merayakan kemenangan setelah berhasil menjalankan ujian menahan hawa nafsu selama sebulan penuh di bulan Ramadan.

Namun hari lebaran tahun ini, bagi para petani di Indramayu belum lagi menjadi hari kemenangan yang sempurna. Pasalnya hari lebaran yang jatuh bersamaan dengan masuknya musim tanam kedua tahun ini, membuat para petani harus memastikan ketersediaan air di lahannya. Pasalnya, jika tidak, maka padi yang baru berumur beberapa minggu bisa terancam mati kekeringan.

Hingga malam takbiran, petani desa Muntur, Indramayu masih harus menunggu sawahnya untuk memastikan mendapatkan air (dok.villagerspost.com/zaenal mutaqien)

Celakanya, karena sistem irigasi di Indramayu yang bermasalah, sebagian lahan sawah petani, salah satunya di Desa Muntur, Losarang, Indramayu, malah tak kebagian air. Karenanya tak heran jika hingga tengah malam, bahkan dini hari, para petani terpaksa harus menyewa pompa air untuk memastikan sawah mereka terairi.

Alhasil, para petani seperti di Desa Muntur, dan beberapa desa lain di Indramayu pun terpaksa harus berlebaran di sawah. “Petani lebarannya di sawah! Yang lain merayakan kemenangan, buat petani kalau air belum datang ke sawah petani belum bisa menang,” kata seorang petani yang enggan disebut namanya kepada Villagerspost.com, Kamis (14/6) malam.

Para petani Indramayu mengandalkan ketersediaan air dari sumber air irigasi di Rentang dan Sumur Watu. Untuk Desa Muntur, sumber air dari Rentang adalah yang paling dinanti. Namun apa daya aliran air tak kunjung tiba hingga jelang lebaran.

Mengandalkan pompa air, mereka harus mengluarkan uang sebesar Rp200 ribu hingga Rp500 ribu seminggunya (dok. vilagerspost.com/zaenal mutaqien)

Informasi yang diterima petani, seperti Januari lalu saat musim tanam pertama, irigasi Rentang, mengalami kekeringan. Namun petani yakin air irigasi Rentang saat ini tidak kering. “Kami yakin air dari Rentang masih cukup untuk mengairi wilayah barat Indramayu, kalau pun tidak cukup ada jalur tersendiri dari atas mengambil langsung ke Jatigede untuk memenuhi Rentang,” kata si petani.

Sayangnya, toh, air tak mengalir juga. Si petani menduga ada permainan dari petugas pangatur air sehingga petani di kawasan barat Indramayu mengalami kekeringan. “Aturannya sudah di buat bahkan sanksinya jelas, untuk menghindari dugaan permainan air oleh mafia atau oknum birokrasi nakal,” ujarnya.

Lantaran kekeringan, petani pun hanya bisa berharap pada kiriman air dari Tuhan, alias air hujan. “Semoga doa-doa petani kita dijawab,” ujarnya. Jika tidak ada hujan, maka petani yang masih memiliki sedikit modal, mengandalkan air dari membuat sumur bor dan menyewa pompa air agar sawahnya bisa terairi.

“Minimal seminggu bisa keluar uang 200 ratus sampai 500 ribum hanya untuk mengairi sawah,” keluh si petani.

Laporan/Foto: Zaenal Mutaqien, Petani Muda Desa Muntur, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *