Derita Petani Lembor Atas Nama Nawacita

Perkebunan sorgum. Petani Lembor menderita atas nama Nawacita, lahan sorgum mereka digusur untuk pembangunan waduk Lembor (dok. agro.kemenperin.go.id)
Perkebunan sorgum. Petani Lembor menderita atas nama Nawacita, lahan sorgum mereka digusur untuk pembangunan waduk Lembor (dok. agro.kemenperin.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Panen sorgum dan kacang hijau oleh kelompok petani di Lembor, Manggarai Barat yang sudah di pelupuk mata, musnah. Musababnya adalah penggusuran lahan demi pembangunan irigasi di kecamatan Lembor, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. “Panen tahun ini gagal karena manusia,” kata Ketua Aliansi Petani Lembor (APEL) Benediktus Pambur, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Selasa (19/4).

Akibat penggusuran itu, sejumlah tanaman pertanian milik Petani Lembor, dikorbankan atas nama program ekstensifikasi pertanian yang menjadi bagian dari Nawacita Presiden Joko Widodo. Dinas Pertanian Manggarai Barat menetapkan 100 hektare untuk program pencetakan lahan sawah baru. Pernyataan Benediktus adalah ungkapan kesedihan ketika sekitar tiga hektare lahan sorgum dan dua hektare lahan kacang hijau olahan mereka mulai digusur sejak awal April 2016.

Padahal bulir sorgum di ladang itu sudah siap panen. Tanah yang digarap APEL merupakan lahan yang dibiarkan telantar oleh para pemilik sawah karena pasokan air ke daerah hilir menipis. Pemilik sawah tersebut merupakan bagian dari program sawah irigasi pada 1980-an. Akibatnya ada sekitar 70 hektare lahan yang menganggur dan ditumbuhi berbagai jenis rumput dan semak.

APEL memanfaatkan lahan terabaikan tersebut untuk pengembangan pangan lokal sejak 2012. Mereka bersama kelompok petani Lembor menanami lahan telantar itu dengan tanaman lokal, yaitu sorgum, jagung lokal, kacang-kacangan. Hasilnya adalah empat kali musim tanam berhasil menyuplai pangan bagi warga setempat. “Kemandirian terhadap pangan adalah kunci kedaulatan pangan kampung kami,” kata Benediktus.

Bukan tanpa alasan, Benediktus mengungkapkan isu kedaulatan pangan. Masih ada lima belas desa di Kecamatan Lembor yang menerima beras miskin sampai sekarang. Bahkan desa Siru, salah satu wilayah yang menjadi lahan sengketa, menerima beras bantuan tiap tahun. Benediktus mengatakan bahwa tanah kering di Lembor, lebih baik ditanami dengan pangan lokal yang bisa bertahan dengan iklim yang miskin hujan di Manggarai Barat.

Sorgum adalah bukti nyata, bahwa tanaman asli Lembor ini mampu menghijaukan padang gersang. “Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa bertani di lahan kritis itu masih memungkinkan asal sesuai dengan kearifan dan potensi lokal,” ujar Manajer Ekosistem Pertanian Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) Puji Samedi.

Diversifikasi pangan berbasis pangan lokal adalah mandat UU Pangan No 18 Tahun 2012. Program KEHATI melanjutkan mandat UU PanganĀ  tersebut yang kemudian diturunkan dalam Peraturan Presiden No. 22 Tahun 2009 tentang Kebijakan Penganekaragaman Konsumsi Pangan berbasis sumber daya lokal. Aturan itu diejawantahkan lagi dalam Peraturan Menteri Pertanian No. 43 Tahun 2009 tentang Gerakan Percepatan Konsumsi Pangan Lokal.

Bisa disimpulkan, APEL dan Petani Lembor melakukan kegiatan yang sesuai regulasi. Sayangnya, kata Puji, upaya tersebut justru dihancurkan atas nama program Nawacita yang mengusung tujuan akhir yang sama yaitu kedaulatan pangan. Praktik pertanian ekologis dengan memperhatikan kearifan lokal, menurut Puji, terbukti dapat mencegah ancaman kelaparan, meningkatkan cadangan pangan non beras dan mendorong peningkatan ekonomi masyarakat.

“KEHATI mendorong agar masyarakat memanfaatkan kekayaan plasma nutfahnya sesuai potensi lokal,” kata Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI M. S. Sembiring.

Benediktus menambahkan, bahwa petani-petani yang didampinginya dahulu mengalami ketergantungan terhadap benih-benih hibrida dan bantuan pangan pemerintah (beras miskin). Namun sejak kembali dengan benih lokal, petani perlahan mulai berdaya, lepas dari belenggu benih hibria. Mereka juga mulai mengembangkan pangan alternatif yang dahulu dikonsumsi oleh masyarakat, dan mempromosikan pola pangan sehat.

Dari sisi kesadaran lingkungan pun juga tumbuh dengan adanya gerakan penanaman pohon di daerah hulu sungai. Benediktus berharap pemerintah baik lokal maupun nasional melihat inisiatif ini. “Kearifan petani Lembor adalah model dan contoh baik pertanian ke depan,” kata dia.

Setidaknya, jika memang program Nawacita ingin ditetapkan di Lembor, proses harus transparan dan disesuaikan dengan kearifan lokal bukan serta merta dipukul rata dengan yang diinginkan pemerintah tanpa memperhatikan tanaman yang sudah tumbuh. “Untuk kasus Lembor, tunggulah sampai musim panen tiba, selamatkan sorgum dan kacangĀ  kami,” kata Benediktus. (*)

Ikuti informasi terkait isu kedaulatan pangan >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *