Dewi Mangrove Sari: Daya Tarik Mangrove Pesisir Brebes

Wisatawan dari berbagai daerah menaiki perahu yang disediakan pengelola kawasan wisata alam Dewi Mangrove Sari, Brebes, untuk memasuki kawasan hutan mangrove (dok. villagerspost.com/rizaldi abror)

Brebes, Villagerspost.com – Kawasan pesisir Jawa, khususnya wilayah pantai Utara (Pantura) kini memiliki destinasi wisata baru. Mengusung konsep wisata ekologis, destinasi yang terletak di Desa Pandansari, Kaliwlingi, Kabupaten Brebes ini menjadi kawasan pertama di Pantura yang menawarkan hutan mangrove sebagai daya tarik wisata.

Kawasan yang dikelola oleh kelompok masyarakat sadar wisata (Pokdarwis) Dewi Mangrove Sari atau Desa Wisata Mangrove Pandansari tersebut telah menjelma menjadi primadona bagi wisatawan dan pegiat lingkungan, khususnya kawasan pesisir utara Brebes, Jawa Tengah. Pegiat lingkungan yang mengelola Dewi Mangrove Sari, Mashadi mengatakan, desa wisata ini terwujud karena ketidaksengajaan.

Wisatawan berkeliling menikmati keindahan kawasan hutan mangrove Dewi Mangrove Sari (dok. villagerspost.com/rizaldi abror)

“Awalnya kami hanya ingin mengendalikan abrasi yang masuk ke Desa Pandansari. Tak disangka, selama 10 tahun berusaha, akhirnya sudah tertanam tiga juta delapan ratus lima poloh ribu (3.850.000) batang mangrove, di lahan seluas 250 hektare,” jelas Mashadi kepada Villagerspost.com saat ditemui di kawasan Eko Wisata Dewi Mangrove Sari, Brebes, Minggu (17/6).

Setelah menjadi kawasan konservasi, masyarakat Pandansari mulai berpikir untuk memanfaatkan kawasan tersebut sebagai sarana untuk meningkatkan taraf ekonomi masyararakat. “Dibantu para pakar, yang menyatakan kawasan kami layak untuk dikunjungi, akhirnya kami membuat destinasi wisata baru di Kabupaten Brebes,” ujar Mashadi.

Pusat Perekonomian Masyarakat

Desa wisata ini, kata Mashadi, dikelola secara swadaya oleh masyarakat. Di sepanjang perjalanannya, Dewi Mangrove Sari akhirnya mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah (Pemda) Brenes, yang melalui regulasi dari Dinas Pariwisata Daerah (Disparda) Brebes, lanjut Kang Hadi, sapaan akrab Mashadi membantu mengembangkan desa wisata ini.

Mashadi, pelopor pengembangan kawasan mangrove Dewi Mangrove Sari memperlihatkan kawasan budidaya kepiting soka (dok. villagerspost.com/rizaldi abror)

“Dampaknya luar biasa, terutama untuk kegiatan ekonomi. Untuk pengelolaan wisata saja, kami sudah memiliki 58 karyawan, ada 70 kios yang dikelola masyarakat, dan 22 rumah yang memiliki 52 kamar homestay,” ungkap Hadi.

Tak hanya itu, Dewi Mangrove Pandansari juga mengembangkan wisata edukasi melalui Sekolah Alam, yaitu sebuah wahana belajar yang menyajikan sistem pemberdayaan masyarakat pesisir, juga nilai adat istiadat dan budaya masyarakat Desa Pandansari. Termasuk, kata Mashadi, memunculkan kembali tradisi merebus garam. Dahulu, merebus garam adalah menjadi proses pengolahan garam dari air laut yang dilakukan secara diam-diam, agar tidak diketahui Veerenigde Oostindische Compagnie (VOC) alias kompeni.

Kawasan hutan mangrove Dewi Mangrove Sari juga menjadi lokasi favorit wisatawan melakukan swafoto atau selfie (dok. dewi mangrove sari)

Di sektor budidaya, Dewi Mangrove Sari telah mengembangkan budidaya kerang dara, dan ikan kerapu. Para pemuda yang tergabung dalam karang taruna juga tengah membudidayakan kepiting soka, atau kepiting cangkang lunak yang bernilai jual tinggi.

“Karang Taruna mulai bangkit mengembangkan budidaya karang soka, atau kerang cangkang lunak. Pemuda juga membuka spot pemancingan baru untuk pecinta olahraga memancing. Untuk hasil hutan bukan kayu, kami memanfaatkan daun mangrove sebagai pewarna alami untuk batik, dan buah mangrove sebagai pangan lokal, sirup, selai, cendol, dodol dari buah mangrove,” tandasnya.

Laporan/Foto: Rizaldi Abror/Villagerspost.com

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *