Didera Karhutla Berkepanjangan, Masyarakat Kalteng Terancam Kanker Paru-Paru

Kebakaran hutan di kawasan gambut Sebangau, Kalteng. Kasus karhutla menjadi contoh lemahnya tata kelola lingkungan hidup dan kehutanan (dok. wwf.or.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Anggota Komisi IX DPR RI Hang Ali Saputra Syah Pahan mengingatkan, asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Kalimantan Tengah (Kalteng) menimbulkan risiko penyakit berbahaya seperti infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), bahkan dalam jangka panjang bisa menyebabkan kanker paru-paru. “jika tidak ada tindakan serius, maka 10-15 tahun ke depan risiko penyakit kanker paru-paru bisa menimpa masyarakat Kalteng akibat karhutla ini,” ujarnya, dalam siaran pers yang diterima Villagespost.com, Selasa (30/7).

Ali mengatakan, dampak karhutal tahun 2015 saja belum selesai. “Perokok pasif saja risikonya besar apalagi asap karhutla yang pedih di mata dan sesak jika terhirup, ini sangat berbahaya bagi kesehatan bayi hingga orang dewasa dalam jangka panjang,” tegasnya.

Ali sendiri, pada Jumat (26/7) lalu, melakukan kunjungan kerja bersama Komisi IX ke Palangka Raya, Kalteng. Dalam kesempatan itu, kata Ali, dia mempertanyakan langkah penelitian dan pemeriksaan lebih lanjut dari Dinas Kesehatan dan instansi terkait mengenai risiko jangka panjang ini. Pemerintah sampai saat ini menurutnya belum mengambil langkah penelitian dan pemeriksaan secara serius dan intensif.

Hanya orang-orang tertentu yang memiliki kesadaran dan kemampuan finansial saja yang memeriksakan dirinya. “Bagaimana dengan orang yang tidak mengerti dan tidak memiliki biaya, di sinilah peran pemerintah diharapkan dapat memberikan solusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat,” tegas Ali.

Dia mengatakan, sejak dulu, sudah mengingatkan kepada Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah terkait perlunya melakukan upaya secara komprehensif dan jangka panjang untuk mengatasi dampak karhutla ini. “Karhutla menjadi masalah klasik yang hingga kini belum bisa diselesaikan,” ujar politukusi Partai Amanat Nasional (PAN) ini.

Terkait penyebab karhutla, Ali menengarai, pembukaan lahan dengan cara ditebang (metode biasa) membutuhkan biaya mahal, sehingga ada oknum yang mengambil jalan pintas dengan membersihkan lahan dengan cara dibakar. “Hal semacam ini harus segera dihentikan, saya mendorong semua pihak mengambil tindakan tegas terhadap pembakaran lahan ini,” tegasnya.

Ali yang merupakan legislator dari daerah pemilihan Kalteng itu menilai, munculnya karhutla juga tak lepas dari banyaknya lahan tidur di Kalteng. Karhutla sebenarnya bisa diminimalisir jika pemerintah daerah mendorong masyarakat untuk memanfaatkan lahan yang ada. Sebab jika lahan tersebut produktif kecil kemungkinan terjadi kebakaran.

Artinya di Kalteng ini masih banyak lahan tidak produktif, sehingga potensi kebakaran lahan masih sangat tinggi. Ini sebuah tantangan bagaimana Pemda mendorong agar lahan-lahan yang tidak produktif bisa menjadi produktif. “Di Kalteng ini masyarakat yang berprofesi sebagai petani masih sedikit, susah mencari orang lokal yang berminat menjadi petani,” pungkasnya.

Sementara itu, Perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng Yayuk Indriarti menjelaskan, penderita ISPA di Kalteng memang mengalami kenaikan, pihaknya sudah melakukan antisipasi dengan membagikan masker kepada masyarakat. “Untuk persiapan obat-obatan dalam penanggulangan warga yang terdampak seperti ISPA dan penyakit lainnya, sudah kami lakukan antisipasi sejak dini. Stok obat masih cukup saat ini ada di masing-masing pusat pelayanan kesehatan,” ujarnya.

Dalam pertemuan dengan Komisi IX DPR tersebut, pihaknya juga mengakui masalah kualitas sarana dan prasarana kesehatan di Kalteng yang masih rendah. Jumlah tenaga kesehatan yang berkualitas belum optimal terutama di daerah terpencil.

“Masih rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya rumah yang layak huni, sanitasi layak (sampah, limbah dan drainase lingkungan), air bersih dan air minum layak. Serta belum optimalnya penyediaan pelayanan kesehatan dasar,” pungkas Yayuk.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *