Dijanjikan Bantuan Miliaran Dolar, Kondisi Gaza Masih Mengenaskan | Villagerspost.com

Dijanjikan Bantuan Miliaran Dolar, Kondisi Gaza Masih Mengenaskan

Anak-anak di Gaza (dok. oxfam.org)

Anak-anak Palestina di Gaza (dok. oxfam.org)

Jakarta, Villagerspost.com – Dalam enam bulan belakangan ini, Sawsan al Najjar dan keluarganya tinggal berdesakan di sebuah ruangan kecil berdinding retak dan atap yang rapuh. “Saya khawatir tembok ini akan runtuh menimpa kami saat kami tertidur,” katanya lewat sebuah siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Selasa (14/4).

Bagian rumah Sawsan selebihnya sudahlah tinggal puing-puing belaka, dihancurkan oleh pemboman yang dilakukan Israel saat musim panas lalu ketika terjadi perang selama 51 hari antara pasukan Israel melawan pejuang Hamas. Dunia internasional memang sudah menjanjikan bantuan sebesar US$3,5 miliar untuk rekonstruksi Gaza namun, enam bulan kemudian setelah janji diberikan, penduduk Gaza seperti Sawsan masih hidup dalam situasi yang sangat menyedihkan.

Laporan terbaru yang dirilis Oxfam bersama 46 agensi internasional lainnya menyebutkan tidak satupun dari 19.000 rumah yang hancur akibat pemboman Israel dibangun kembali dan janji untuk mengubah situasi politik tidak terealisasi. Blokade Israel atas Gaza yang sudah berlangsung selama delapan tahun ini tetap terjadi dan sangat membatasi arus keluar masuk penduduk dan barang-barang.

Dua anak Sawsan, Ameer (2 tahun) dan Ahmed (16) menderita penyakit kerdil dan suaminya Faraj, terpaksa bekerja siang dan malam untuk mendapatkan uang untuk mengobati mereka. “Saya dahulu punya bisnis sendiri menjual sepeda motor,” kata Faraj.

Bisnis itu, kata dia, memburuk setelah terjadinya blokade atas Gaza di tahun 2007. “Tetapi saya menghasilkan lebih dari cukup untuk menghidupi keluarga. Kemudian sepanjang peperangan saya kehilangan motor-motor itu yang harganya bisa mencapai US$7000. Sekarang saya bekerja 12 jam sehari memperbaiki suku cadang hanya untuk mendapatkan 20 shekels (sekira US$5) sehari. Ini tidak cukup, bahkan sekadar untuk membeli makanan,” ujarnya.

Kondisi kehidupan mereka saat ini membuat hidup Sawsan dan keluarganya semakin sulit. “Musim dingin di sini sangat keras. Hujan masuk melalui atap yang bocor dan tembok yang retak, anak-anak saya menderita sakit sepanjang waktu di sini,” kata Sawsan.

Seorang warga Gaza lainnya, Dr. Ihab Dabour membantu menyediakan pertolongan kesehatan darurat kepada ribuan penduduk saat konflik memuncak, meskipun rumahnya sendiri hancur dibombandir Israel. Setiap dua pekan dia membawa klinik kesehatan berjalan miliknya yang dikelola oleh Palestinian Medical Relief Society (PMRS) yang didanai oleh Oxfam, untuk merawat mereka yang sakit di sebuah desa yang hancur di dekat Khuza’a tempat dimana Sawsan tinggal.

Oxfam dan para mitranya di Gaza juga menyediakan air bersih, menolong keluarga untuk membeli makanan dan mendukung layanan kesehatan lokal. “Banyak keluarga berada dalam kondisi yang sangat tidak sehat dan tinggal dalam kondisi sangat berdesakan,” kata Dr. Dabour.

Air bersih sangat terbatas dan penduduk juga kekurangan pemanas yang sangat dibutuhkan selama musim dingin. “Semua itu menimbulkan penyakit berlanjut seperti kudis dan masalah pernapasan. Sepanjang warga tinggal dalam kondisi seperti ini, mereka akan terus mengalami gangguan kesehatan seperti ini. Saya hanya bisa berharap saya dapat lebih membantu,” ujarnya.

Setidaknya saat ini 81 klinik dan rumah sakit di sekitar Gaza mengalami kerusakan akibat konflik. Hal yang sama juga terjadi pada sekolah-sekolah, sistem air bersih dan infrastruktur lainnya. Dan fasilitas yang hancur tersebut sampai saat ini belum juga mendapatkan bantuan dana. Di bawah blokade, bahkan beberapa dana yang sudah dikucurkan tidak bisa digunakan untuk membeli material bangunan penting untuk memulai pembangunan.

“Klinik berjalan memberikan kami layanan kesehatan yang kami butuhkan untuk menghentikan masalah-masalah kesehatan ini,” kata Sawsan.

Tetapi, kata dia, apa yang dibutuhkan keluarga di sini adalah membangun kembali kehidupan mereka. “Untuk itu, yang kami perlukan adalah gencatan senjata permanen dan pengakhiran blokade. Gaza membutuhkan rekonstruksi tetapi juga bantuan untuk membangun kembali perekonomiannya yang hancur akibat blokade dan konflik yang terus berulang. 63 persen anak muda sekarang hidup tanpa pekerjaan dan orang semakin bergantung pada bantuan internasional. Anak-anak kamilah yang membayar harganya,” kata Sawsan.

“Kami tadinya adalah keluarga yang berbahagia dengan rumah yang bagus dan usaha yang baik, kami tidaklah kaya tetapi kami tidak membutuhkan bantuan dari orang lain. Sekarang kami mencari berbagai bantuan. Kami mulai kehilangan harapan bahwa rekonstruksi akan bisa terjadi,” ujar sawsan lagi. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *