Dikepung Tambang Batubara, Kondisi 3 Desa di Kalimantan Hancur

Kehancuran bentang alam yang terjadi akibat pertambangan batubara (dok. greenpeace)
Kehancuran bentang alam yang terjadi akibat pertambangan batubara (dok. greenpeace)

Jakarta, Villagerspost.com – Tiga desa, diantaranya dua di Kalimantan Timur dan satu di Kalimantan Selatan, mengalami kehancuran bentang alam dan terjadinya krisis air akibat pertambangan batubara. Kondisi itu terungkap dari investigasi Greenpeace Indonesia di dua lokasi investigasi di Kalimantan Timur, dan 1 lokasi di Kalimantan Selatan.

“Salah satu studi kasus yang diamati oleh Greenpeace adalah masyarakat di Desa Kerta Buana yang terpapar dampak negatif akibat praktik tambang batubara oleh PT Kitadin,” kata Jurukampanye Batubara Greenpeace Indonesia Bondan Andriyanu, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Rabu (30/3).

Desa Kerta Buana, di Tenggarong, Kalimantan Timur, memang menjadi salah satu desa yang rusak akibat aktivitas pertambangan pertambangan batubara yang dilakukan oleh Banpu, sebuah perusahaan Thailand. Pertambangan itu telah membawa dampak buruk yaitu terjadinya perubahan bentang alam dan hancurnya lahan pertanian produktif dan menyisakan lubang-lubang tambang raksasa.

(Baca juga: Greenpeace Kecam Imbauan Subsidi Industri Batubara)

Banpu di Indonesia memiliki saham 65% pada PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITM), yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. ITM mengontrol sejumlah perusahaan di Kalimantan, diantaranya PT Kitadin, PT Indominco Mandiri, dan PT Jorong Barutama Greston.

Kini, 50 persen dari seluruh lahan pertanian Desa Kerta Buana atau sekitar 796 hektare sudah berubah menjadi konsesi tambang. “Selain meninggalkan bekas lubang tambang, masyarakat juga mengeluhkan banjir dan kekeringan di wilayah mereka,” urai Bondan.

Jika pada musim hujan terjadi banjir, sebaliknya pada musim kemarau warga terpaksa tidak bisa menanam padi di sawahnya karena tidak ada lagi air di saluran irigasi. Air yang seharusnya mengairi irigasi, terjebak di lubang-lubang bekas tambang PT Kitadin dan membentuk danau buatan. Hal ini menyebabkan panen padi warga menjadi tidak menentu, dari yang awalnya bisa menanam dua kali setahun dengan hasil kurang lebih sepuluh ton sekarang hanya sekali setahun dengan hasil hanya empat ton.

Studi kasus lainnya adalah praktik tambang batubara oleh PT Indominco Mandiri, yang berencana melakukan penimbunan Sungai Santan, di Kalimantan Selatan. Semenjak beroperasinya PT Indominco Mandiri di daerah hulu sungai Santan, warga merasakan kualitas air sungai semakin menurun yang memberi dampak langsung bagi kehidupan masyarakat lokal.

Penurunan kualitas sungai yang ditandai dengan perubahan warna air sungai, diikuti juga dengan matinya ikan-ikan yang selama ini menjadi sumber penghidupan ekonomi masyarakat setempat. Selain itu masyarakat juga kerap merasakan gatal-gatal saat mandi menggunakan air Sungai Santan.

“Warga mulai berhenti mengonsumsi air dari Sungai Santan terutama untuk minum dan memasak,” kata Bondan.

Kerusakan alam yang terjadi di ketiga wilayah tersebut terancam akan lebih parah lagi. Pasalnya, saat ini Banpu sedang merencanakan ekspansi PLTU batubara besar-besaran di wilayah Asia Tenggara. Jika hal ini terjadi, tentu saja akan membuat Banpu menggali batubara lebih banyak lagi di tanah Indonesia.

Tahun ini mereka berusaha meningkatkan sumber pendanaan mereka melalui penawaran saham perdana/IPO di Bursa Efek Thailand yang telah didaftarkan di akhir tahun 2015 lalu. Karena itu, Greenpeace Indonesia mendesak pemerintah untuk segera meninggalkan energi kotor batubara.

“Terlalu banyak kerugian yang dirasakan oleh masyarakat sekitar, Banpu seharusnya tidak lagi melakukan ekspansi bisnis batubaranya di Indonesia,” tegas Bondan.

Pemerintah Indonesia, kata dia, seharusnya juga melakukan pengawasan dan penegakan hukum yang tegas untuk melindungi rakyatnya. “Ini salah satu contoh buruk hadirnya investasi asing yang merugikan bangsa kita, masih banyak lagi keterlibatan investor asing di industri batubara Indonesia yang justru merugikan kita,” tutup Bondan.

Ikuti informasi terkait batubara >> di sini <<

Facebook Comments
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *