Dinilai Rendahkan Kualitas Gula Lokal, Mendag Dikritik DPR | Villagerspost.com

Dinilai Rendahkan Kualitas Gula Lokal, Mendag Dikritik DPR

Pabrik pengolahan gula kristal putih (dok. bumn.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Sikap yang ditunjukkan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dalam menanggapi kritik ekonom Faisal Basri yang mempertanyakan melonjaknya impor gula menjelang pemilu, justru mengundang kritik keras dari Komisi II DPR. Anggota Komisi II DPR Firman Soebagyo menilai, Enggar tidak bersikap selaiknya seorang negarawan.

Terkait impor gula, kata Firman, Enggar terkesan merendahkan produk gula lokal dengan alasan tidak bisa digunakan sebagai bahan campuran dodol karena bisa menimbulkan jamuran. Firman menilai ucapan Enggar tidak memiliki dasar sama sekali.

“Sebagai pejabat pemerintah harusnya melindungi dan mendukung kreatifitas masyarakat petani dan industri, khususnya UKM. Dia malah melemahkan dan tidak memberi dukungan kepada petani tebu, garam, dan UKM,” kata Firman, dalam siaran persnya, Senin (14/1).

Dia menyesalkan sikap Enggar yang justru seolah mencari pembenaran atas kebijakan impor sejumlah komiditi. “Pernyataan Mendag itu sekali lagi seperti pedagang yang hanya bicara untung rugi. Yang diuntungkan justru para mafia importir dan menari-nari di atas kesengsaraan rakyat,” kata politikus Partai Golkar itu.

Firman meminta kepada Mendag, agar berhati-hati membuat pernyataan. Dia mengingatkan, pada setiap rezim, komonditas pangan selalu jadi mainan mafia pangan dan para importir. Saat ini justru pemerintah harus memperbaiki pruduk industri dalam negeri, bukan justru membunuh semangat petani.

Firman lalu merilis data terakhir gula di dalam negeri. Pada awal 2018 stok awal plus impor dan produksi hasil giling mencapai 7,457 ton. Sementara untuk kebutuhan konsumsi dan industri makanan dan minuman mencapai 5,4 juta ton.

Kini, di awal tahun 2019 stoknya mencapai 7,457 ton dipotong kebutuhan di dalam negeri 5,400 ton. Jadi, masih ada sisa 2,057 ton. “Di tahun politik ini, para pejabat negara sebaiknya jangan asal membuat pernyataan yang tidak populer. Saya sangat kecewa dengan pernyataan Mendag yang justru akan merugikan posisi Presiden Jokowi sendiri,” ujarnya.

Sebelumnya, ekonom Faisal Basri melalui akun twitternya mencuitkan kritik terkait impor gula yang mendadak melonjak gila-gilaan menjelang pilpres. Faisal juga mempertanyakan tingginya impor ternyata juga tak membuat harga gula eceran turun. Masih lewat cuitannya Faisal Basri pun menduga ada pemburu rente yang tengah bermain.

Menjelang pemilu, tiba-tiba Indonesia menjadi pengimpor gula terbesar di Dunia. Praktek rente gila-gilaan seperti ini berkontribusi memperburuk defisit perdagangan,” demikian, dikutip dari cuitan di Twitter-nya @FaisalBasri, pada Selasa (8/1).

Faisal juga tak lupa menampilkan grafik yang menunjukkan lonjakan impor. Dari grafik itu terlihat, sepanjang tahun 2017-2018, Indonesia mengimpor gula hingga 4,45 juta ton. Volume impor gula ini tertinggi dibanding China (4,2 juta ton), Amerika Serikat (3,11 juta ton), Uni Emirat Arab (2,94 juta ton), Bangladesh (2,67 juta ton), dan Aljazair (2,27 juta ton). Volume gula yang diimpor Indonesia itu juga melampaui negara seperti Malaysia (2,02 juta), Nigeria (1,87 juta ton), Korea Selatan (1,73 juta ton), dan Arab Saudi (1,4 juta ton).

Menanggapi cuitan ini, Enggar menjelaskan, tingginya impor tejadi karena kurangnya produksi gula dalam negeri negeri untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan industri dan kualitas gula dalam negeri yang dinilainya rendah. Pada poin kedua soal kualitas gula lokal itulah Enggar dinilai tak etis. Dia menegaskan, produk gula lokal tidak memenuhi standar industri, yang bisa dilihat dari kadae ICUMSA atau parameter kualitas dari gula ditinjau dari warna.

“Coca-Cola tidak mungkin mau terima hasil gula yang diproduksi dalam negeri yang ICUMSAnya tinggi. ICUMSA gula di Indonesia tertinggi di dunia, yang warna cokelat itu. Dodol garut gampang bulukan kalau pakai yang itu kalau kata pabrik dodol Garut,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Enggar menjelaskan, gula untuk kebutuhan industri mencapai 2,8 juta ton perkiraan 2019, sedangkan pada 2018 sebanyak 3,6 juta ton. Sementara produksi dalam negeri hanya sebanyak 2,1 juta ton.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *