Dongkrak Pendapatan Petani, Kementan Bentuk SP3T | Villagerspost.com

Dongkrak Pendapatan Petani, Kementan Bentuk SP3T

Petani cabai di Pati, jawa Tengah, tak putu asa meski harga komoditas yang mereka tanam selalu jatuh saat panen (villagerspost.com/sudargo)

Jakarta, Villagerspost.com – Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementan, Gatut Sumbogodjati mengatakan, pihaknya telah membentuk Sentra Pelayanan Pertanian Padi Terpadu (SP3T). Pembentukan SP3T ini dibentuk dengan tujuan menciptakan sistem pengelolaan yang terstruktur untuk menghasilkan penanganan pasca panen yang baik.

Penanganan pasca panen yang baik sangat penting untuk menjamin agar harga jual yang diperoleh petani pada posisi tinggi supaya menikmati keuntungan. Sentra Pelayanan Pertanian Padi Terpadu (SP3T) lahir atas dasar keprihatinan. Yakni selama ini petani padi banyak yang tidak menikmati hasil panennya secara maksimal karena banyak dijual dalam bentuk gabah kering panen.

“Bahkan, ada yang dijual secara tebasan ketika gabah masih ada di lahan. Tentunya kami tidak diam begitu saja dengan kondisi tersebut. Kami berikan bantuan alsintan seperti combine harvester, vertical dryer, RMU, dan mesin packing untuk UPJA (unit pengelolala jasa alat mesin pertanian, red),” ujar Gatut, di Jakarta, Minggu (11/8).

Gatut berharap melalui bantuan tersebut tidak ada lagi cerita gabah rusak ketika musim hujan karena tidak ada mesin pengering atau harga jatuh karena panen raya. Bahkan, dengan adanya paket sarana ini lembaga tani bisa memproduksi beras kemasan dengan label yang khas. “Mereka dapat menyesuaikan dengan kearifan lokal setempat yang tentunya akan memberikan nilai plus bagi produk yang dipasarkan,” cetusnya.

Gatut menegaskan bantuan alsintan yang diberikan Kementan ke daerah sesuai dengan kebutuhan atau misi daerah setempat untuk meningkatkan produksi dan kesejahteraan petani. Ia mencontohkan daerah yang dikunjungi beberapa saat lalu, yakni Desa Guntung Ujung Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan untuk meresmikan bantuan Alsintan dari Kementan berupa paket SP3T UPJA. “Bantuan pemerintah tersebut sesuai dengan misi Bupati dalam rangka mengangkat Kabupaten Banjar menjadi Sejahtera dan Barokah,” tegasnya.

Dalam kunjungan ini, tidak hanya meresmikan SP3T UPJA Berkat bersama Bupati Banjar Khalillurrahman, tapi juga melaunching Beras Mayang Gambut Khas Banjar “Karindangan”. Khalillurrahman mengatakan beras gambut sudah terkenal kemana-mana, bahkan siapapun yang ke Banjar, tidak akan disebut pernah ke Banjar kalau belum pernah mencicipi rasa beras gambut yang mempunyai aroma khas dan tekstur rasa yang unik. “Rasa yang khas dan aroma yang memikat membuat masyarakat Banjar tidak bisa berpindah ke lain hati,” ujarnya.

Kondisi ini memberikan peluang ketika pasar beras sudah menciptakan konsumen yang fanatik maka berapapun produksi yang ada pasti akan terserap. Namun karena beras gambut varietas lokal hanya tersedia atau dibudidayakan di daerah Banjar, musimnya tertentu, dan produksi terbatas, sehingga hal ini yang masih menjadi kendala kami saat ini.

Varietas Gambut ini hanya bisa diproduksi sekali dalam setahun dengan umur tanaman cukup panjang mencapai 180 hingga 210 hari, dengan produktivitas mencapai 3,2 ton per hektar. “Varietas Gambut disini ada di lahan seluas 715 ha. Harga jual GKP sekitar Rp6.500 per kilogram dan harga berasnya cukup lumayan sebesar Rp11.000 sampai Rp12.000 per kikogram”, tambahnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *