Dongkrak Produksi Jeruk Lewat Bujangseta

Tanaman jeruk Pontianak (dok. kementerian pertanian)

Jakarta, Villagerspost.com – Peneliti jeruk dari Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kementerian Pertanian Sutopo mengungkapkan, pihak saat ini tengah mengembangkan teknologi Teknologi Pembuahan Jeruk Berjenjang Sepanjang Tahun (Bujangseta) untuk mendongkrak produksi jeruk. Dengan teknologi ini, tanaman jeruk bisa dipanen lebih cepat dan berbuah sepanjang tahun.

Biasanya panen jeruk hanya dua kali dalam satu tahun, namun dengan Bujangseta, petani bisa melakukan panen sepanjang tahun. “Jadi, dalam satu tahun bisa lima kali panen. Artinya, setiap dua atau tiga bulan bisa panen, sehingga ketersediaan buah sepanjang tahun tetap terjaga,” ujarnya.

Sutopo memaparkan, teknologi Bujangseta merupakan solusi yang ditunggu-tunggu oleh petani karena dengan teknologi tersebut petani dapat panen sepanjang tahun. Dengan Teknologi Bujangseta dapat menghasilkan 80 kg per pohon per tahun. Sementara sebelumnya hanya sekitar 30kg per pohon pertahun.

Bujangseta sendiri telah diaplikasikan di kebun petani Banyuwangi dan telah panen beberapa kali. Masa panen mencapai 5-6 kali dalam setahun sehingga keuntungan petani meningkat karena harga yang bagus dan masa panen yang dapat diatur.

Lebih lanjut Sutopo menyampaikan, varietas jeruk yang banyak berkembang di Indonesia merupakan jenis common mandarin (Citrus reticulata Blanco). Beberapa varietas lokal Indonesia yang masuk dalam kelompok ini adalah Keprok dan Siam. Jenis domestik yang telah dikembangkan diantaranya Keprok Soe, Keprok Batu 55, dan Siam Madu, Keprok Brasitepu, dan Keprok Garut,Keprok Gayo, Siam Pontianak dan lainnya.

Sementara itu, Ketua Kontak Bisnis Hortikultura Indonesia Ilud, selaku pelaku usaha menyampaikan, ada empat hal yang dibutuhkan dalam bisnis jeruk. “Saya memberikan motivasi ke petani bahwa ada 4K yang penting yaitu Kuantitas, Kualitas, Kontinuitas, dan Kreativitas. Dengan adanya metode Bujangseta, Alhamdulillah bisnis jeruk menjadi stabil,” ujar Ilud.

Dia mengungkapkan, kebutuhan jeruk nasional mencapai sekitar 2,2 juta ton/tahun. “Kami sebagai supplier sekarang tidak lagi kebingungan karena stok buah tersedia sepanjang tahun sehingga kontinuitas pasar pun terpenuhi,” tambahnya.

Kedepannya, diharapkan kita bisa mengatur pasar internasional. “Ketika pasar di negara lain sedang kosong, kita dapat mengisi kesempatan tersebut karena kita sudah dapat mengatur produksi,” tegasnya.

Kepala Badan Litbang Pertanian Fadjry Djufry mengungkapkan, Balitbangtan memiliki koleksi Sumber Daya Genetik (SDG) Jeruk yang cukup besar serta menghasilkan benih pokok jeruk bebas penyakit yang dikelola Balitjestro dan tersebar hampir di seluruh provinsi di Indonesia.

“Dengan adanya pengembangan buah jeruk oleh Kementan di Balitjestro Batu, produksi jeruk di Indonesia diupayakan terus meningkat dengan kualitas ekspor yang tidak kalah dengan jeruk negara lain,” ujarnya.

Fadjry juga menyampaikan, Balitjestro telah membagikan satu juta benih bermutu bebas penyakit yang disebar kepada petani daerah di Indonesia. “Upaya tersebut untuk mendukung program perbenihan buah-buahan nasional yang dicanangkan Menteri Pertanian yang salah satunya adalah jeruk,” ujarnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *