Dongrak Konsumsi Ikan, KKP Gelontorkan Bantuan Perikanan di Ciamis

Tebar benih lele dalam kolam bioflok oleh pihak KKP (dok. kementerian kelautan dan perikanan)

Jakarta, Villagerspost.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggelontorkan bantuan perikanan kepada beberapa pondok pesantren di Ciamis, Jawa Barat. Bantuan yang diberikan berupa sarana budidaya ikan sistem bioflok, benih ikan dan ikan segar. Bantuan tersebut juga diberikan dalam upaya mendongkrak konsumsi ikan.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan, generasi muda perlu diajarkan kecintaan mengkonsumsi ikan. Harapannya dapat mengubah pola konsumsinya dari daging merah dan aneka junk food menjadi seafood atau makanan produk kelautan dan perikanan. Ia melanjutkan, misi ini merupakan tugas bersama seluruh komponen bangsa dalam mempersiapkan generasi muda yang berkualitas melalui konsumsi ikan yang memiliki kandungan gizi menyehatkan dibandingkan protein hewani lainnya.

Peningkatan konsumsi ikan ini merupakan program pemerintah lainnya di samping menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia dan menjadikan laut masa depan bangsa. Sebagaimana diketahui, pemerintah tengah berupaya menurunkan angka gangguan pertumbuhan (stunting) di Indonesia. “Di Indonesia, yang 1 dari 3 anak tumbuh stunting,” tutur Susi, dalam kesempatan kunjungan tersebut, Senin (8/4).

Usaha ini pun sudah mulai menumbuhkan hasil. Dengan peningkatan angka konsumsi ikan nasional dari tahun ke tahun menjadi 50.69 kg per kapita di tahun 2018, data terbaru Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan 2018 menunjukkan terjadi penurunan angka stunting di Indonesia dari 37,8 persen di tahun 2013 menjadi 30,8 persen di 2018. “Mudah-mudahan nanti tidak ada lagi yang stunting. Kalau Ibu masak untuk anak-anak, sediakan masakan ikan,” imbuhnya.

Dalam kunjungan ke Ciamis, Susi tiga pesantren yaitu Ponpes Al-Quran Cijantung Kabupaten Ciamis, Ponpes Darussalam Kabupaten Ciamis; dan Ponpes Al Munawar Pasir Bokor, Tasikmalaya. Susi mengatakan, selain mengampanyekan Gemarikan guna menangggulangi persoalan stunting (gangguan pertumbuhan), kegiatan tersebut juga bertujuan untuk mendorong Gerakan Masyarakat untuk Sadar Mutu dan Karantina Ikan (Gemasatukata) melalui pengenalan ikan segar dan berkualitas.

Untuk itu, dalam kesempatan ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) dan BKIPM menyerahkan sejumlah bantuan program budidaya bioflok, benih ikan, dan ikan segar di ketiga Ponpes dimaksud.

Di Ponpes Al Quran Cijantung diserahkan bantuan berupa 12 lubang budidaya nila sistem bioflok, 20.000 ekor benih nila, 1.000 kg pakan ikan, dan 1,75 ton ikan sarden segar. Di Ponpes Darussalam diserahkan bantuan berupa 12 lubang budidaya nila sistem bioflok, 100.000 ekor benih nila, 1.500 kg pakan mandiri, dan 1,75 ton ikan sarden segar.

Sementara di Ponpes Al Munawar diserahkan 12 lubang budidaya nila sistem bioflok, 100.000 ekor benih nila, 1.000 kg pakan mandiri, dan 1 ton ikan sarden segar. Bantuan KKP berupa ikan segar tersebut dimasak untuk dimakan bersama para santri dan sebagian dibagikan bagi masyarakat sekitar.

Susi menegaskan, selain bagus untuk pertumbuhan tubuh anak, kandungan gizi pada ikan juga bagus untuk perkembangan otak dan kecerdasan manusia. Untuk itu, Susi mengimbau seluruh pesantren untuk tidak lupa menyediakan menu makanan ikan setiap harinya.

Susi menyebut, konsumsi ikan masyarakat Jawa Barat masih jauh lebih baik daripada masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Ciamis dan Tasikmalaya misalnya, meskipun kedua daerah tersebut tidak memiliki laut, angka konsumsi ikan mereka berada di atas rata-rata konsumsi ikan nasional.

Kendati demikian, angka tersebut masih di bawah konsumsi ikan di daerah timur Indonesia. “Di Jawa Barat ini saya lihat banyak sekali kolam-kolam, balong-balong. Setiap rumah punya kolam sendiri, pelihara ikan sendiri, dari nila, gurami, nilem, dan lainnya,” kata Susi.

Guna meningkatkan produksi ikan untuk kebutuhan santri, Susi juga memperkenalkan budidaya sistem bioflok. Menurutnya, dengan sistem bioflok, dengan tempat yang kecil dapat dihasilkan ikan dalam jumlah yang besar. “Bisa dapat 1 ton per kolam dalam 100 hari.”

Tak melulu bicara soal konsumsi ikan, dalam kesempatan tersebut Susi juga berbagi pengalamannya menegakkan kedaulatan di laut Indonesia. ‘Tenggelamkan’ yang kini sudah menjadi jargon merupakan sebuah upaya menyelesaikan permasalahan di laut Indonesia.

“Kalau tidak ditenggelamkan, menyelesaikan pekerjaan ini susah karena sudah puluhan tahun ribuan kapal asing terbiasa menangkap ikan di Indonesia. Mereka tidak merasa mereka salah dan mencuri. Ini satu-satunya cara untuk membuktikan negara kita tegas, negara kita berdaulat, dan kita tidak main-main memberantas pencurian ikan,” kata Susi.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *