Dorong Ekspor, Susi Minta Kapal Ekspor Turut Angkut Ikan Dari Daerah Timur | Villagerspost.com

Dorong Ekspor, Susi Minta Kapal Ekspor Turut Angkut Ikan Dari Daerah Timur

Ikan tuna hasil tangkapan kapal perikanan Indonesia diturunkan di pelabuhan (dok. kkp.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti meminta kapal ekspor turut mengangkut ikan di daerah Timur. Hal itu, kata Susi perlu dilakukan untuk mendorong mendorong ekspor perikanan. Susi menegaskan, produksi ikan di daerah Timur lebih banyak dibandingkan dari daerah Tengah Indonesia. Hanya saja, biaya pengangkutan ikan justru mahal.

Sayangnya, kata susi, kapal-kapal ekspor tidak berhenti di kawasan Timur, sehingga meski produksi banyak, ikan dari kawasan Timur sulit di ekspor. “Ngelewatin Bitung, Makassar nggak mau ngambil (ikan). Bisa, jadi kalau lewat selat Malaka tolong berhenti ya dia juga nggak keluar duit kok itu kan lewatan, mampir satu jam tidak akan banyak,” kata Susi, di Kantor KKP, Jumat (25/1) malam.

Untuk saat ini, kata Susi, dia memang belum belum berani meminta kapal-kapal ekspor berhenti di pelabuhan kawasan Timur. Hanya saja, ke depan, Susi berharap agar ke depannya bisa mengembangkan jalur perikanan sehingga bisa menekan biaya logistik untuk membawa ikan dari Timur ke Indonesia bagian Tengah.

Selain mendorong ekspor, Susi juga mendorong peningkatan konsumsi ikan dalam negeri. Ikan, kata Susi, mengandung berbagai zat penting yang dibutuhkan tubuh, seperti protein dan omega dibandingkan beras dan daging.

“Jadi bagaimana penting mengonsumsi makanan yang berkualitas. Bukan hanya sekadar beras, jagung, karbohidrat kita butuh lebih, yaitu protein, omega dan itu ada di ikan, lebih penting daripada beras, jagung, daging juga sangat mahal,” ujar Susi.

Menurut Susi mengonsumsi ikan lebih baik ketimbang daging yang mengandung trigliserida dan kolestrol. “Mengandung trigliserida, kolestrol sangat tidak sehat. Ikan lebih bagus untuk pendidik kita jadi ke depan substitusi suplemen untuk rakyat makan ikan,” sambung dia.

Ia pun berharap agar ikan menjadi konsumsi wajib makanan setiap orang agar masyarakat Indonesia memiliki nutrisi yang baik. Dengan begitu, masyarakat di Indonesia bisa memiliki kecerdasan intelektual atau IQ minimal 110.

Dalam kesempatan itu, Susi juga memaparkan, KKP akan membuka setiap data izin pembuatan kapal di Indonesia. Hal ini dilakukan guna menghindari kecurangan data pemilik kapal. “Ini harus kita atur. Harus kredibel setiap izin. Jadi mulai 1 Februari semua pemilik kapal, posisinya di mana, statusnya di mana akan saya publish,” ujar Susi.

Susi mengakui, saat ini masih banyak pemilik kapal yang mencurangi data, khususnya kapasitas kapal. “Hal ini dilakukan oleh pihak-pihak yang ingin menghindari pembayaran pajak,” tegas Susi.

Sementara itu, terkait sulitnya kapal ekspor masuk ke wilayah Timur, Sekretaris Jenderal KKP Nilanto Perbowo menjelaskan, saat ini biaya logistik dari daerah Timur ke Indonesia bagian Tengah mencapai Rp4.000 per kg. Sedangkan, ongkos biaya Jakarta-China dipatok jauh lebih murah. Ia pun berharap agar biaya logistik di dalam negeri jauh lebih kompetitif ke depannya.

“Harganya sekitar Rp 4.000 plus per kilogram (ongkos logistik). Ikan misalnya dari Jakarta ke China itu jauh lebih murah. Jadi harapannya biaya logistik dalam negeri ke depan lebih kompetitif,” ujarnya.

Terkait data kapal, Nilanto membenarkan banyak yang mencurangi data kapasitas demi menghindari pajak. Contohnya kapal dengan biaya yang mencapai Rp3 miliar, dilaporkan hanya senilai Rp300 juta. KKP, kata Nilanto, tidak ingin hal seperti ini terus terulang.

“Jadi setiap kapal 30 GT harus lapor LKP (Laporan Kegiatan Penangkapan) dan LKU (Laporan Kegiatan Usaha). Nah, LKP dan LKU laporan jauh lebih rendah dari kondisi kapal. Contoh lapor Rp300 juta tapi dicek bisa Rp3 miliar itu gap jauh banget, underreported,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *