DPR Apresiasi Pengungkapan Kasus Pupuk Impor Ilegal dari China

Distribusi pupuk bersubsidi oleh pemerintah (dok. bojonegorokab.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Pengungkapan kasus pupuk impor ilegal asal China melalui Pelabuhan Trisakti, Kalimantan Selatan mendapat apresiasi dari Anggota Komisi III DPR Aboe Bakar Alhabsyi. “Masuknya pupuk ilegal melalui pelabuhan Trisakti ini cukup meresahkan masyarakat, karena melewati pelabuhan terbesar di Kalimantan, bukan melalui jalur tikus,” kata pria yang akrab disapa Habib itu, dalam siaran persnya, Selasa (8/5).

Seperti diketahui, ribuan ton pupuk yang diduga ilegal asal China masuk Provinsi Kalimantan Selatan yang diangkut melalui jalur laut menggunakan kapal bernama Toyo Maru, pada Jumat (4/5) siang. Belum diketahui siapa yang mengimpor pupuk tersebut, namun berdasarkan manifest atau dokumen pengiriman barang, pupuk-pupuk tersebut rencananya akan dikirim ke PT Graha Inti Jaya atau kawasan Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.

Terkait kasus pupuk impor ilegal ini, menurut Habib Aboe Bakar Alhabsyi, kejadian tersebut menimbulkan banyak prasangka dan pertanyaan di kalangan masyarakat khususnya masyarakat Kalimantan Selatan. “Tentunya hal tersebut harus direspons secara serius oleh aparat terkait agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera ini menilai negara akan mengalami kerugian besar jika pupuk tersebut sesuai standar pupuk yang berlaku di Indonesia. Namun, sebaliknya, jika pupuk tersebut tidak memiliki kualitas yang standar maka akan mengancam kehidupan masyarakat khususnya petani.

“Perkara ini perlu diusut tuntas. Aparat juga perlu memberikan penjelasan yang baik mengenai persoalan ini ke publik, sehingga tidak menimbulkan spekulasi. Dan tentunya, pengelolaan informasi intelijen perlu ditingkatkan agar ke depan tindakan sejenis bisa dihalau oleh aparat,” pungkasnya

Sementara itu, sebelumnya, Direktur Pupuk dan Pestisida Kementerian Pertanian Muhrizal Sanusi mengatakan, ada banyak pelanggaran ihwal pupuk ilegal itu karena tidak terdaftar secara resmi di Kementerian Pertanian. Pelanggaran itu diantaranya, karung pupuk tanpa dilengkapi merek, nomor pendaftaran, belum uji mutu, dan belum uji efektivitas pupuk.

Impor pupuk ilegal ini, kata Muhrizal, melanggar Pasal 37 Undang-Undang Nomor 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman. Dalam beleid itu, pupuk yang beredar di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia wajib memenuhi standar mutu dan terjamin efektivitasnya serta diberi label.

“Seharusnya importir mendaftar dulu dengan kami, pendaftaran bisa secara online dan paling lama dua minggu sudah selesai. Jangan ada prosedur yang dilewatinya, sebab pupuk harus terdaftar, meskipun itu untuk permintaan industri atau order khusus,” katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pestisida Direktorat Pupuk dan Pestisida Kementerian Pertanian Budi Hanafi memastikan, produk impor tersebut tidak boleh beredar lantaran tidak ada label Standar Nasional Indonesia (SNI) dan tidak adanya keterangan Berbahasa Indonesia dalam kemasannya.

“Barang ini setelah dilakukan penyitaan nantinya bisa dilakukan pemusnahan sesuai Undang-Undang No 12 tahun 1992 tentang Perlindungan Tanaman Pasal 37 dijelaskan bahwa pupuk beredar harus terdaftar di Kementerian Pertanian dan diuji mutu dan efektifitasnya,” ujarnya.

Komandan Korem (Danrem) 101/Antasari Kolonel Inf Yudianto Putrajaya yang bersama jajarannya berhasil mengungkap kasus ini mengatakan, penindakan terhadap perdagangan pupuk ilegal itu semata-mata demi kepentingan rakyat Kalsel dan Indonesia pada umumnya.

“Kalau tidak tahu mutunya bisa berdampak pertanian hingga menyebabkan gagal panen, jelas yang rugi kita semua dan petani kasihan. Apalagi Kalsel menjadi lumbung pangan nasional,” tegas Putra.

Putra mengatakan, anggotanya di Unit Intel Korem masih berkoordinasi dengan Kepolisian untuk menindaklanjuti temuan 6.500 ton pupuk itu. “Nanti kami serahkan sepenuhnya semua proses hukum kepada rekan di Kepolisian dan pihak yang bertanggung jawab atas pengiriman pupuk ini harus ditindak tegas,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *