DPR RI Apresiasi Pelestarian Subak di Badung

Pertanian dengan sistem Subak di Bali (dok. kemdikbud.go.id)
Pertanian dengan sistem Subak di Bali (dok. kemdikbud.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Ketersediaan lahan pertanian untuk tercapainya swasembada pangan makin mengalami degradasi, khususnya di Provinsi Bali yang terkenal dengan sumberdaya pariwisatanya. Padahal lahan pertanian juga menjadi “trademark” alami dari Pulau Dewata yang perlu dipertahankan.

Hal itu mengemuka saat Komisi IV DPR RI melakukan kunjungan spesifik ke Provinsi Bali, Selasa (7/4) lalu yang menyoroti alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian di Kabupaten Badung. Kunjungan spesifik Komisi IV DPR ini bertujuan untuk melakukan pengawasan atas terselenggaranya UU No. 41/2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.

Bertempat di Subak Liplip di daerah Canggu Kecamatan Kuta Utara, Tim Kunker Komisi IV DPR berdialog dengan Pemda setempat. Pada kesempatan tersebut, Wakil Ketua Komisi IV Ibnu Multazam mengapresiasi pemerintah Badung yang telah melaksanakan berbagai kebijakan dalam upaya mempertahankan lahan pertanian.

“Pemda sudah bagus dalam melakukan penghambatan terhadap laju konservasi lahan. Sudah ada berbagai kebijakan khusus dan fasilitas dari Pemda maupun Pemprov kepada para petani agar melestarikan lahannya untuk pertanian” ujar Ibnu yang memimpin kunjungan ini, seperti dikutip dpr.go.id, Kamis (9/4).

Kebijakan tersebut, seperti diutarakan Pemda Kabupaten Badung antara lain penghapusan pajak untuk lahan jalur hijau, keringanan PBB untuk lahan produktif dan pemberian insentif kepada subak (organisasi petani pengelola air) yang aktif serta subsidi pupuk dan bibit.

Hal ini dibenarkan oleh para petani yang turut hadir, bahwa kebijakan tersebut telah berjalan dan sangat membantu pengolahan sawah mereka. Dan lebih lanjut terungkap bahwa para petani subak masih membutuhkan alat khusus yang berfungsi mengangkat air yang mengalir sebelum menuju laut untuk melengkapi sistem subak mereka.

Sistem Subak sendiri merupakan warisan turun temurun dalam sistem pertanian di Bali. Kata subak sendiri mengacu pada sistem pengelolaan pendistribusian aliran irigasi pertanian khas masyarakat Bali. Sistem ini sudah dikenal sejak ratusan tahun yang lalu dan terbukti mampu meningkatkan produktivitas pertanian masyarakat Bali. Melalui sistem subak, para petani mendapatkan jatah air sesuai ketentuan yang diputuskan dalam musyawarah warga.

Secara filosofis, keberadaan subak merupakan implementasi dari konsep “tri hita karana”, yang bila diartikan adalah tiga penyebab kebahagiaan (Tuhan, manusia dan alam). Tri hita karana merupakan konsep mengenai hubungan yang harmonis antara manusia dengan tuhan, manusia dengan alam, dan antar manusia. Jadi dengan kata lain, kegiatan di dalam subak tidak selalu mengenai pertanian, tapi juga mencakup interaksi sosial antar warga dan ritual keagamaan untuk kesuksesan dalam bertani. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *