DPR Sayangkan Bulog Beli Jagung Impor Ilegal

Menteri Pertanian Amran Sulaiman usai acara panen jagung. DPR sayangkan Bulog beli jagung impor ilegal (dok. distanak.bantenprov.go.id)
Menteri Pertanian Amran Sulaiman usai acara panen jagung. DPR sayangkan Bulog beli jagung impor ilegal (dok. distanak.bantenprov.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Aksi Bulog yang difasilitasi Kementerian Perdagangan membeli jagung impor milik Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), sebesar 445.500 ton dikritik DPR. Pihak DPR menilai jagung itu merupakan hasil impor ilegal karena dilakukan di luar ketentuan dan karenanya tak diizinkan masuk alias ditahan di pelabuhan oleh pihak Kementerian Pertanian.

Kementan menahan jagung impor itu, karena importir tersebut tidak memiliki surat rekomendasi dari Kementerian Pertanian. Anggota Komisi IV DPR RI Hermanto menekankan seharusnya Bulog sebagai badan resmi (legal), tidak membeli komoditas dari importir ilegal. (Baca Juga: Babak Akhir Polemik Jagung Impor)

“Transaksi dagang semacam ini, mestinya tidak boleh dibiarkan. Jika ditolerir, tidak hanya jagung, tapi juga komoditas-komoditas ilegal lainnya. Tentu, kita tidak mau negeri ini dibanjiri produk ilegal yang dilegalkan,” jelas Hermanto seperti dikutip dpr.go.id, Kamis (4/2).

Hermanto menilai, pemilik ratusan ribu ton jagung tersebut tidak memiliki surat rekomendasi dari Kementan. Oleh Bulog, jagung impor ilegal tersebut berencana akan dijual kembali ke pabrik pakan ternak untuk menurunkan harga pakan.

“Langkah itu diharapkan dapat menurunkan harga daging dan telur ayam di pasaran,” papar politisi PKS dari Dapil Sumatera Barat I ini.

Hermanto pun menjelaskan, produksi jagung lokal sebenarnya mencukupi untuk kebutuhan pakan ternak. Namun dia menyadari bahwa lokasi produksi tersebut berjauhan dengan lokasi pabrik pakan.

Dengan demikian, dalam jangka pendek, semestinya pemerintah bisa mengajak para petani di sekitar pabrik pakan ternak untuk mau menanam jagung dengan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan pabrik tersebut.

Dalam jangka panjang pun, tambah Hermanto, pemerintah bisa membangun berbagai infrastruktur terkait, sehingga antara produsen dan konsumen dapat terkoneksi secara cepat. “Komoditas apa yang kita butuhkan seharusnya bisa kita cukupi dari apa yang kita miliki di dalam negeri,” kata Hermanto.

Operasi Pasar di Blitar

Sementara itu, mengatasi kelangkaan jagung di Blitar yang dikeluhkan peternak, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mendatangi para petani dan peternak se-Kabupaten Blitar dan Trenggalek sekaligus meluncurkan operasi pasar (OP) jagung.

Dalam pertemuan itu, Amran di hadapan petani dan peternak menegaskan, harga jagung di tingkat petani maupun peternak tidak boleh dipermainkan oleh siapapun. “Saya bela keduanya, dan menyayangi petani dan peternak,” ujar Amran di Jawa Timur, Selasa (2/2).

Bulog melakukan operasi pasar jagung dengan harga Rp3.600/kg. Total jagung yang diluncurkan untuk kebutuhan peternak Kabupaten Blitar dan Trengkalek sebanyak 200 ton.

Sebelum ke Blitar, Andi Amran telah melakukan panen dan tanam padi di Desa Sumber pucung seluas 300 ha serta melakukan panen jagung bersama Pangdam V Brawijaya dan Wakil Gunernur Jawa Timur di Kabupaten Malang. Area jagung yang dipanen seluas 54 ha.

Mentan memperlihatkan kepada awak  media yang hadir luasan area yang akan di panen. Menteri melakukan dialog dengan petani. Petani memastikan harga jagung normal. “Tidak ada gejolak, Pak Menteri,” ujar ketua kelompok tani, Lukmono.

Mentan menegaskan harga jagung di tingkat peternak tidak boleh lebih dari Rp4.000/kg di seluruh Indonesia. Pada saat yang sama, Wakil Gubernur Jawa Timur Saefullah Yusuf menyatakan bahwa Februari hingga April, Jawa Timur akan memasuki panen raya jagung dan memastikan surplus 3 juta ton jagung 2016. Wagub mengapresiasi peternak Jawa Timur yang memasok 30% kebutuhan nasional daging ayam dan telur.

Namun, dia juga meminta agar petani dan  peternak Indonesia dan Jawa Timur, khususnya, bersabar serta mendukung penuh program Menteri Pertanian untuk Reposisi Mata Rantai Produksi dan Pasar yang selama ini hanya menguntungkan kelompok dan perorangan sedangkan petani dan peternak rakyat jadi korban. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *