Dua Orangutan Kalimantan Berhasil Dilepasliarkan | Villagerspost.com

Dua Orangutan Kalimantan Berhasil Dilepasliarkan

Staf Yayasan Borneo Orangutan Survival membawa orangutan yang siap dilepasliarkan (dok. yayasan bos)

Jakarta, Villagerspost.com – Dua individu orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus wurmbii) bernama Kika dan Alba dilepasliarkan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), tepatnya di wilayah kerja Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Kasongan, Kalimantan Tengah, Selasa (18/12). Pelepasliaran dua orangutan itu dilakukan Direktorat Jenderal KSDAE bekerja sama dengan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF).

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, mewakili Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Indra Exploitasia mengapresiasi mengapresiasi kegiatan ini. “Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk meningkatkan populasi satwa di habitat alam. Bahwa sesuai ketentuan, jenis satwa dapat dilepaskan kembali ke habitatnya dengan syarat diantaranya satwa yang dilepaskan secara fisik sehat, memiliki keragaman genetik tinggi dan habitat pelepasan merupakan bagian dari sebaran asli jenis yang dilepaskan,” ujarnya.

Indra menjelaskan, Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya telah dikaji dan merupakan bagian dari sebaran Orangutan kalimantan ini. Beberapa tahapan dalam proses konservasi in situ ini telah dilalui yaitu dimulai dari penyelamatan satwa tersebut, selanjutnya upaya rehabilitasi Orangutan kalimantan dengan melatih kemampuan adaptasi dan mempunyai tingkah laku seperti populasi di alam dan terakhir adalah pelepasliaran.

“Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati mengucapkan terima kasih kepada para pihak yang telah mendukung program konservasi Orangutan kalimantan, terutama kepada Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Balai KSDA Kalimantan Tengah, Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Pemerintah Daerah Kalimantan Tengah, BOSF, dan semua pihak yang telah mendukung upaya pelepasliaran ini berjalan dengan baik,” tambah Indra.

Pelepasliaran ini memerlukan kerjasama multipihak dan melibatkan multidisiplin ilmu. “Untuk itu perlu adanya sinergi bersama dengan berbagai pihak untuk mengupayakan dan melaksanakan program konservasi Orangutan kalimantan sehingga dapat berjalan dengan baik,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia Triawan Munaf mengingat, Indonesia sangat dikenal dengan kekayaan keanekaragaman hayatinya. “Sehingga perlu ada upaya untuk mempertahankan bahkan meningkatkan kekayaan sumber daya alam hayati tersebut yang merupakan aset negara,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Triawan juga menyampaikan, pengelolaan keanekaragaman hayati juga perlu memperhatikan masyarakat di sekitar kawasan hutan, melalui pengembangan ekonomi kreatif yang mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat sehingga tidak bergantung pada pemanfaatan secara langsung atas sumber daya alam hayati tersebut.

“Pengembangan ekonomi kreatif pada masyarakat sekitar hutan juga merupakan bagian dari pembangunan berkelanjutan, sehingga diharapkan pemenuhan target Aichi dari Konvensi Keanekaragaman Hayati, dapat tercapai,” ujarnya.

Gubernur Provinsi Kalimantan Tengah Sugianto Sabran menyambut baik kepulangan Alba ke TN Bukit Baka Bukit Raya dan mempertahankan Alba di Kalimantan Tengah dengan mengembalikannya ke habitat aslinya karena Alba adalah aset sekaligus branding daerah Kalimantan Tengah.

“Saya percaya Alba akan hidup lebih baik di habitat alaminya. Saya menghimbau mari kita semua tidak hanya berharap, namun juga berupaya keras untuk mendukung pelestarian Alba dan orangutan kalimantan lainnya di Bumi Tambun Bungai ini,” tegasnya.

Adib Gunawan, Kepala Balai KSDA Kalimantan Tengah menyatakan, kedua orangutan kalimantan tersebut, Kika dan Alba merupakan hasil penyelamatan yang dilakukan tim Balai KSDA Kalimantan Tengah. Kika adalah orangutan kalimantan betina yang diselamatkan dari operasi gabungan BKSDA Kalimantan Tengah pada 18 Februari 2017 di Buntok, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Saat itu Kika telah berusia 5 tahun dengan berat badan 9,3 kilogram dan masih menunjukan perilaku liar.

Orangutan kalimantan Alba merupakan hasil penyelamatan Balai KSDA Kalimantan Tengah bekerja sama dengan Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) tanggal 29 April 2017 di desa Tanggirang, Kecamatan Kapuas Hulu, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Alba saat itu berusia sekitar 5 tahun dengan berat badan 8,3 kilogram, menunjukkan perilaku liar, menolak berdekatan dengan manusia.

“Kondisi individu orangutan kalimantan Alba betina sangat unik, memiliki penampakan, dimana rambut seluruh tubuh putih, bola mata kebiruan dan pupil mata merah sehingga disebut albino,” jelas Adib.

Orangutan kalimantan Kika dan Alba telah menjalani rangkaian proses rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng Kalimantan Tengah dan setelah semua dinyatakan siap baik aspek kesehatan, kesiapan lokasi pelepasliaran hingga tim monitoring maka kegiatan pelepasliaran orangutan Kalimantan ini dapat dilakukan sesuai tahapan prosedur yang berlaku.

Kepala Balai TN Bukit Baka Bukit Raya Heru Raharjo menyatakan, berdasarkan hasil kajian yang dilakukan bersama dengan BOSF, pihaknya berhasil mengidentifikasi tujuh zona potensial untuk reintroduksi orangutan kalimantan di TN Bukit Baka Bukit Raya area Kalimantan Tengah yang tersebar dari arah barat ke arah timur.

Dua diantara tujuh zona potensial terletak di daerah Sungai Bemban dan Sungai Mahalat, mempunyai akses yang bagus, area hutan hujan yang besar, dan memiliki dataran rendah yang luas, sehingga sangat cocok sebagai lokasi pelepasliaran orangutan kalimantan.

“Wilayahnya luas, memiliki batas alam, habitat yang cocok, bagus untuk monitoring dan menyokong populasi liar yang layak, diperkirakan area ini dapat menampung 200 orangutan kalimantan. Apresiasi yang tinggi juga kita berikan kepada masyarakat sekitar, karena sangat mendukung upaya ini,” ujarnya.

CEO Borneo Orangutan Survival Jamartin Sihite mengatakan, hasil kajian yang dilakukan ini merupakan kerjasama dengan Balai TN Bukit Baka Bukit Raya. Kegiatan pelepasliaran Orangutan kalimantan ini juga memperoleh dukungan dari beberapa pihak diantaranya Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Tengah, serta masyarakat yang berada di sekitar Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.

“Setelah kegiatan pelepasliaran ini dilakukan, BOSF berkomitmen untuk membantu melaksanakan manajemen paska pelepasliaran orangutan kalimantan dengan cakupan tidak hanya terkait kegiatan observasi dan pengamanan tetapi juga kegiatan sosialisasi dan edukasi terutama kepada masyarakat setempat dan para pihak lain,” tegas Jamartin.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *