Dua Perusahaan Raksasa Bertanggung Jawab Atas Ledakan Sampah Plastik Kemasan Sachet

Tumpukan sampah plastik kemasan dari beberapa produk konsumsi (dok. greenpeace indonesia)

Jakarta, Villagerspost.com – Sebuah laporan yang baru saja diterbitkan oleh Global Alliance for Incinerator Alternatives (GAIA) mengungkapkan, dua perusahaan consumer goods ternama Nestlé dan Unilever bertanggung jawab atas seperempat jumlah plastik sekali pakai bermerek yang menciptakan krisis polusi plastik di Filipina. Perusahaan-perusahaan tersebut dikategorikan sebagai pencemar utama setelah serangkaian audit merek dan sampah yang dilakukan di enam kota dan satu provinsi di Filipina.

Laporan yang merupakan hasil kolaborasi dengan Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan Pendidikan Universitas Santo Tomas (RCSSEd) ini memberikan bukti baru yang mengungkap adanya produksi kemasan sachet (kemasan berukuran kecil untuk sekali pakai) yang berlebihan yang hanya dipasarkan di belahan bumi bagian selatan, dan tidak di wilayah-wilayah lainnya.

Menanggapi temuan dalam laporan GAIA, Jurukampanye Greenpeace Asia Tenggara (Filipina) Abigail Aguilar mengatakan, laporan ini membuktikan bahwa meskipun negara-negara di Asia Tenggara disalahkan atas krisis pencemaran plastik, tanggung jawab terbesar terletak pada korporasi-korporasi besar.

“Perusahaan multinasional seperti Nestlé dan Unilever terus meningkatkan produksi plastik sekali pakai yang seharusnya tidak perlu dan mengorbankan masyarakat, saluran air, dan kesehatan kita,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Sabtu (9/3).

Abigail menegaskan, Nestlé dan Unilever harus berhenti mengalihkan kesalahan atas polusi plastik pada masyarakat. Perusahaan-perusahaan ini bertanggung jawab atas krisis ini dan satu-satunya solusi bagi mereka adalah mengurangi produksi plastik sekali pakai secara signifikan, serta bergerak menuju sistem isi ulang dan kemasan tidak sekali pakai bagi pelanggan mereka di seluruh dunia.

“Sudah waktunya untuk menolak konsumsi berlebih dan korporasi yang terus menjual plastik sekali pakai kepada kita,” tegas Abigail.

Sementara itu, Muharram Atha Rasyadi, Jurukampanye Urban Greenpeace Indonesia, menuturkan, di berbagai tempat, pengendalian krisis plastik dengan pelarangan ataupun pengenaan biaya pada kantong plastik menjadi salah satu kebijakan yang menjadi sorotan. Namun hal ini tidaklah cukup untuk menekan laju suplai plastik sekali pakai yang terus meningkat setiap tahunnya oleh korporasi-korporasi besar.

Atta memaparkan, berdasarkan laporan GAIA, masyarakat Filipina mengonsumsi produk dengan kemasan sachet lebih dari 163 juta per hari. “Para perusahaan produk kebutuhan sehari-hari (fast moving consumer goods/FMCG) harus transparan terkait jejak kemasan produknya, dan segera bertindak dengan mengubah kemasan plastik sekali pakainya dengan menggunakan konsep isi ulang atau penggunaan kembali. Karena ini bukan soal keuntungan semata,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *