Dulu Merusak, Perusahaan Sawit Ini Tegaskan Komitmen Konservasi Kawasan Ekosistem Leuser

Pembukaan lahan untuk perkebunan sawit di kawasan ekosistem Leuser (dok. rainforest action network)

Jakarta, Villagerspost.com – Perusahaan perkebunan sawit PT Mopoli Raya mengumumkan rencananya untuk mengalokasikan sebagian wilayah konsesinya menjadi area konservasi. Kawasan yang dicadangkan sebagai kawasan konservasi tersebut, sebelumnya selama bertahun-tahun menjadi fokus tekanan kampanye oleh Rainforest Action Network (RAN) terkait aktifitas deforestasi yang mereka lakukan di dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL).

Direktur Kebijakan Hutan untuk Rainforest Action Network (RAN) Gemma Tillack mengatakan, komitmen ini merupakan berita langka diantara krisis deforestasi di Indonesia, sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) telah membuat komitmen positif untuk mengalokasikan hutan yang masih utuh dari lahan yang dimilikinya untuk konservasi.

“Komitmen Mopoli Raya ini memberikan harapan yang sangat dibutuhkan di tengah krisis deforestasi yang sedang berlangsung di Indonesia dan menunjukkan peran penting yang harus dimainkan oleh merek-merek global untuk mendorong perubahan sektor kehutanan Indonesia di lapangan,” ujar Gemma, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Kamis (22/8).

Perusahaan kelapa sawit ini sebelumnya telah dikeluarkan dari rantai pasok global terkait aktivitasnya yang kontroversial dalam perusakan habitat satwa liar di KEL. Hutan hujan di kawasan ini sangat penting bagi habitat orangutan Sumatra dan rute migrasi untuk kawanan 220 ekor gajah Sumatera, keduanya merupakan spesies yang terancam punah. Didorong oleh keinginan agar diterima kembali ke pasar global, perusahaan perkebunan kelapa sawit tersebut, kemudian berkomitmen untuk mengelola sebagian dari konsesinya untuk konservasi

“Kami juga berharap agar perusahaan lain seperti PT Nia Yulided, PT Indo Alam dan PT Tualang Raya, menghentikan buldoser yang mendorong orangutan dan gajah menuju kepunahan serta meminta merek global agar menyediakan investasi yang dibutuhkan untuk mengamankan dan meningkatkan praktik keberlanjutan perusahaan dan petani kelapa sawit kecil di Aceh dan Sumatera Utara,” imbau Gemma.

PT Mopoli Raya selama bertahun-tahun telah menjadi fokus tekanan kampanye oleh Rainforest Action Network dan LSM konservasi lainnya yang berupaya mengungkap hubungan antara produsen minyak sawit dengan deforestasi di provinsi Aceh dan Sumatera Utara. Keputusan untuk melindungi hutan dari bank lahan mereka terjadi setelah publik menuntut agar perusahaan dimasukkan ke dalam daftar ‘No Buy’ oleh sejumlah merek makanan ringan dunia dan perusahaan raksasa pedagang minyak sawit Musim Mas dan Wilmar karena terungkap melalui media global dan LeuserWatch.org terus melakukan aktifitas deforestasi.

Mopoli Raya kemudian berkomitmen melindungi hampir 1,400 hektare hutan dan menerbitkan serangkaian kebijakan minyak sawit yang cukup kuat untuk menunjukkan kepada pembeli minyak sawit mereka sebelumnya, Musim Mas, Wilmar serta merek-merek besar seperti Unilever dan Nestlé akan komitmennya dalam memproduksi minyak sawit yang bertanggung jawab di enam perkebunan dan dua pabriknya.

Perusahaan kelapa sawit memiliki tanggung jawab untuk mengelola lahan yang diberikan kepada mereka, dengan adanya komitmen tersebut oleh perusahaan maka hutan yang rencananya akan dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit akan dikelola untuk tujuan yang berbeda oleh perusahaan agar menjadi hutan konservasi yang menyediakan jasa lingkungan untuk masyarakat.

“Selama satu dekade terakhir, kampanye internasional telah bergeser dari menyerukan boikot menjadi menuntut perusahaan untuk lebih mendukung peningkatan cara menjalankan bisnis dari para pemasok minyak sawit,” ujar Gemma.

“Komitmen yang dibuat oleh Mopoli Raya ini menunjukkan, perubahan nyata dapat dicapai dalam melindungi hutan ketika merek dan perusahaan raksasa agribisnis mengambil tindakan terhadap rantai pasoknya dan tidak hanya sekedar mengidentifikasi serta menanggapi pelanggaran kebijakan, namun juga ikut berinvestasi dalam memberikan solusi yang diperlukan untuk menghindari krisis yang berulang,” tegasnya

Ekosistem Leuser yang subur seluas 2,6 juta hektare secara internasional telah diakui sebagai salah satu kawasan hutan hujan utuh paling penting yang tersisa di Asia Tenggara. Kawasan ini merupakan satu-satunya tempat di bumi dimana badak, gajah, harimau, dan orangutan Sumatra yang terancam punah masih hidup bersama di alam liar.

Pentingnya Ekosistem Leuser bagi dunia telah menjadikan kawasan ini sebagai lanskap uji coba untuk implementasi komitmen No-Deforestasi yang dibuat oleh ratusan merek-merek dunia dan perusahaan global selama beberapa tahun terakhir.

Dengan semakin kuatnya profil Ekosistem Leuser dan meningkatnya pengawasan dengan menggunakan teknologi satelit dan drone, maka akan sangat memungkinkan bagi KEL untuk menjadi ajang pembuktian bagi solusi win-win yang inovatif seperti ini, dimana pertumbuhan ekonomi serta konservasi hutan dan satwa liar bisa harmonis, bahkan saling melengkapi.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *