Dunia Tinggalkan Energi Batubara, Indonesia Malah Merangkul | Villagerspost.com

Dunia Tinggalkan Energi Batubara, Indonesia Malah Merangkul

Aktivis Greenpeace Indonesia mengimbau pemerintah untuk tak lagi mengeksploitasi batubara (dok. greenpeace)

Jakarta, Villagerspost.com – Dalam dua tahun belakangan ini, jumlah pembangkit tenaga batu bara yang dikembangkan di seluruh dunia turun tajam di 2017, diakibatkan penurunan secara umum yang terjadi di China dan India, sebagaimana diliris dalam laporan terbaru Greenpeace, the Sierra Club dan CoalSwarm hari ini. Laporan Boom and Bust 2018: Tracking The Global Coal Plant Pipeline, merupakan survei tahunan keempat dari rencana pembangunan pembangkit batu bara secara global.

Dalam laporan ini setidaknya ditemukan penurunan sebesar 28% secara year on year dalam penyelesaian pembangunan pembangkit batu bara baru (turun 41% selama dua tahun belakangan), penurunan hingga 29% year on year dalam upaya memulai konstruksi baru pembangkit (73% selama dua tahun terakhir), dan turun sebanyak 22% dalam perencanaan dan perizinan pembangkit (59% dalam dua tahun terakhir).

Alasan dari penurunan ini diakibatkan pengetatan dan pembatasan proyek pembangkit batu bara baru oleh otoritas pusat di China dan peninjauan kembali pembiayaan pada sektor batu bara oleh sejumlah lembaga keuangan swasta di India. Di India, setidaknya ada 17 situs pembangkit batu bara yang tercatat mengalami penghentikan kegiatan konstruksi alias mangkrak.

Laporan ini juga menunjukan 97 gigawatt pembangunan pembangkit terhenti selama tiga tahun terakhir, dipimpin oleh Amerika (sebanyak 45 gigawatt), China (sebanyak 16 gigawatt) dan Inggris (sebanyak 8 gigawatt). Berdasarkan tren banyaknya pembangkit yang memasuki pensiun selama dua dekade terakhir, laporan ini juga memprediksi armada pembangkit batu bara secara global akan mulai menyusut di 2022, sebagai akibat dari pensiunnya sejumlah pembangkit batu bara tua yang melampaui penambahan kapasitas pembangkit batu bara baru.

Secara global, kampanye penghapusan pengunaan batubara mulai meraih momentum, dengan dukungan komitmen dari 34 negara dan entitas subnasional. Di tahun 2017, hanya tujuh negara yang memprakarsai konstruksi pembangunan pembangkit batu bara baru di lebih dari satu lokasi. Pembangkit tenaga batubara pada umumnya berukuran 500 megawatt atau 0,5 gigawatt, dan kebanyakan proyek pembangkit memiliki dua unit atau lebih.

Meskipun terjadi penurunan nyata pada pipeline atau rencana pembangkit tenaga batu bara baru, laporan tersebut memperingatkan bahwa emisi dari keseluruhan daur hidup atau life cycle yang sudah diprediksikan dari pembangkit batu bara yang ada, yang akan terus berlanjut melebihi batasan karbon batu bara yang disetujui dalam Paris Climate Agreement 2015. Untuk menjaga emisi batu bara tetap pada batas yang ditentukan, pembangunan ke depan harus segera diberhentikan dan jumlah pembangkit batu bara yang ditutup atau dipensiunkan harus ditingkatkan.

Direktur CoalSwarm Ted Nace mengatakan, dari aspek iklim dan kesehatan, pengurangan armada pembangkit tenaga batu bara secara global terjadi dengan kurang cepat. “Untungnya, produksi massal telah menurunkan biaya tenaga surya dan angin lebih cepat dari yang diharapkan, dan baik pasar keuangan maupun perencanaan energi di dunia sedang memperhatikan ini,” kata Ted, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Kamis (22/3).

Sementara itu, Juru Kampanye Senior Greenpeace Lauri Myllyvirta menegaskan, jatuhnya konstruksi sejumlah pembangkit listrik tenaga batu bara dan percepatan pensiun sejumlah proyek lama adalah berita baik untuk kesehatan masyarakat. Polusi dari pembangkit listrik tenaga batu bara setidaknya bertanggung jawab atas ratusan ribu kematian dini setiap tahun di seluruh dunia.

“Meskipun tingkat konstruksi pembangkit baru sudah melambat, keadaan kapasitas berlebih tetap melanda China, India dan Indonesia dan bahkan memburuk, akibat rencana pembangunan pembangkit tenaga batu bara terus dilanjutkan di negara-negara tersebut,” kata Lauri.

Merujuk pada pengesahan RUPTL terbaru 2018-2027 oleh Menteri Jonan, jelas terlihat bahwa Indonesia masih sangat jauh tertinggal dari trend global yang telah meninggalkan batubara. “Disaat negara lain meninggalkan batubara untuk menyelamatkan jutaan warganya dari polusi batubara yang mematikan, Indonesia masih terus saja membangun PLTU batubara baru khususnya di Jawa-Bali yang padat penduduk dan telah mencapai kelebihan pasokan listrik,” kata Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Hindun Mulaika, .

“Tidak hanya kesehatan masyarakat yang dikorbankan, tetapi Indonesia kehilangan kesempatan besar untuk membangun sebuah bentuk energi ekonomi baru dari besarnya investasi yang ditanamkan untuk industri energi solar dan bayu dari institusi finansial dunia,” pungkas Hindun.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *