El Nino “Diskriminatif”, Hancurkan Masyarakat Miskin

Masyarakat Papua Nugi mengantre air bantuan oxfam, saat mengalami kekeringan parah (dok. oxfam.org)
Masyarakat Papua Nugi mengantre air bantuan oxfam, saat mengalami kekeringan parah (dok. oxfam.org)

Jakarta, Villagerspost.com – Peta kejadian fenomena El Nino yang membawa kekeringan sepanjang tahun menunjukkan pola yang “sangat diskriminatif” yaitu El Nino membawa pengaruh paling buruknya kepada orang-orang termiskin di dunia. Setidaknya 60 juta orang di dunia dipastikan akan menghadapi kelaparan yang memburuk dan kemiskinan sepanjang tahun 2016 lantaran El Nino mengakibatkan kegagalan panen.

Masyakarat internasional dapat menolong mereka, namun diperlukan adanya kecepatan bertindak, organisasi dan sumber daya yang baik. Kerusakan akibat El Nino menghantam berbagai negara dengan beragam cara. Faktor paling umum adalah meski sudah berupaya mengatasi, namun banyak negara yang tak kuasa melawan dampak El Nino. Pertanian, cadangan air dan produksi makanan mengalami kehancuran.

(Baca Juga: Komitmen-Komitmen Jokowi di Pertemuan Iklim Prancis)

Jumat (4/3) lalu, Oxfam merilis peta global online yang menggambarkan dampak yang berbeda yang diberikan El Nino yang membawa kekeringan dan cuaca yang tak menentu membawa dampak pada masyarakat miskin. Peta ini menggambarkan kerja-kerja Oxfam termasuk peringatan dan rekomendasi kebijakan dan seruan aksi untuk para pemimpin dunia.

Masyarakat internasional harus mengumpulkan lebih banyak uang untuk merespons kebutuhan bantuan kemanusiaan yang bersifat mendesak dan melaksanakan janji mereka untuk menghadapi perubahan iklim, termasuk memenuhi target ambisius pendanaan iklim.

Direktur Humanitarian Oxfam Nigel Timmins mengatakan, tugas kita saat ini adalah melakukan upaya lebih terpadu untuk menyediakan bantuan yang diperlukan masyarakat terdampak El Nino, setidaknya hingga panen secara normal bisa dilakukan lagi dan keamanan pangan menguat.

“El Nino seperti melihat tabrakan kereta api dalam gerak lambat. Semua melihatnya terjadi, alarm berbunyi persiapan dibuat namun skala dan kerusakannya ternyata sangat besar,” kata Timmins, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Sabtu (5/3).

Timmins mengatakan, El Nino telah mengantarkan serangkaian pola cuaca ekstrem dan tak pasti, terutama temperatur yang sangat tinggi, kekeringan dan banjir yang telah membawa malapetaka. “Paling parah dampak terjadi pada petani di negara berkembang dan mereka yang bergantung pada hasil panen untuk makanan dan berdagang,” katanya.

Kemiskinan yang sudah ada dan dampak perubahan iklim yang terlanjur terjadi membuat orang-orang tersebut lebuh rentan terhadap guncangan. “El Nino menjadi sangat-sangat diskriminatif, membawa dampak terburuknya kepada masyarakat termiskin yang lebih rentan dalam melawan dan tidak memiliki aset atau pilihan seperti orang-orang kaya,” tegas Timmins.

Sementara bantuan jangka pendek sangat diperlukan saat ini, pemerintah dan para donor juga perlu berinvestasi dalam kerja jangka panjang seperti membangun perlindungan sosial dan program membangun daya tahan menghadapi perubahan iklim, termasuk aksi penting menghadapi perubahan iklim untik meyakinkn masyarakat mampu bertahan menghadapi krisis di masa depan.

“Kehancuran yang diakibatkan El Nino menunjukkan mengapa negara-negara kaya harus menyediakan bantuan segera dan menetapkan target ambisius untuk pendanaan iklim. Mereka gagal melakukan ini dalam konferensi di Paris tahun lalu. Ini tak bisa menunggu lebih lama lagi,” pungkas Timmins. (*)

Ikuti informasi terkait El Nino >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *