Enam Aktivis Greenpeace Panjat Anjungan, Hentikan Aksi Shell Merusak Arktik

Aktivis Greenpeace memanjat anjungan minyak milik Shell (dok. greenpeace)
Aktivis Greenpeace memanjat anjungan minyak milik Shell (dok. greenpeace)

Jakarta, Villagerspost.com – Keputusan Departemen Dalam Negeri Amerika Serikat yang telah menyetujui untuk menyewakan pengeboran Laut Chukchi kepada Shell berbalas aksi heroik yang dilakukan enam aktivis Greenpeace. Saat fajar baru menyingsing pagi tadi, Selasa (7/4), keenam aktivis asal Amerika Serikat, Jerman, Selandia Baru, Australia, Swedia dan Austria nekat mencegat dan memanjat anjungan minyak milik Shell yang sedang dibawa menuju Arktik di tengah samudra pasifik, 750 mil arah barat laut Hawaii.

Mereka bergerak cepat dari kapal karet yang diluncurkan oleh Kapal Greenpeace Esperanza menuju anjungan Polar Pioneer yang akan digunakan Shell untuk mengebor minyak di Laut Chukchi. Keenam pemanjat yang tidak mengganggu navigasi atau operasi kapal adalah Aliyah Field (27) dari Amerika Serikat, Johno Smith (32) dari Selandia Baru, Andreas Widlund, (27) dari Swedia, Miriam Friedrich (23) dari Austria, Zoe Buckley Lennox (21) dari Australia dan Jens Loewe (46) dari Jerman.

Sebelumnya, ke-35 kru di Kapal Esperanza telah mengekori Polar Pioneer lebih dari 5000 mil laut sejak meninggalkan teluk Brunei di Malaysia. Aksi mereka memanjat anjungan seberat 38 ribu ton tersebut, adalah demi menghentikan upaya penghancuran lingkungan Arktik lewat aktivitas pertambangan minyak yang bisa menyebabkan bencana lingkungan lebih jauh. Begitu berhasil memanjat anjungan milik Shell itu, mereka membentangkan spanduk berisi 6,7 juta nama orang di seluruh dunia yang menentang pengeboran minyak di Arktik.

Aliyah Field, satu dari enam orang itu berkicau langsung dari Polar Pioneer melalui akun twitternya. “Kami berhasil! Kami saat ini berada di anjungan Shell. Dan kami tidak sendiri. Setiap orang bisa membantu mengubah anjungan ini (menjadi alat) untuk menunjukkan kekuatan rakyat! #TheCrossing,” demikian cuitan Aliyah seperti yang diterima Villagerspost.com, Selasa (7/4).

Johno Smith dari Selandia Baru, yang juga bagian dari enam orang tersebut mengatakan, aksi mereka dilakukan demi melindungi lingkungan Arktik. “Kami di sini untuk menyoroti bahwa kurang dari 100 hari, Shell akan mengebor minyak di Arktik. Lingkungan yang masih asli ini butuh perlindungan demi generasi masa depan dan semua kehidupan yang akan menyebutnya ini sebagai rumah. Tindakan Shell mengeksploitasi es yang sedang mencair justru akan meningkatkan bencana yang dibuat manusia. Perubahan iklim adalah nyata dan telah menimbulkan rasa sakit dan penderitaan pada saudara-saudara kita di Pasifik,” ujarnya.

“Saya percaya bahwa menyoroti apa yang dilakukan Shell akan mendorong lebih banyak orang untuk mengambil langkah tegas terhadap mereka dan perusahaan lainnya yang berusaha menghancurkan planet ini demi keuntungan belaka. Saya hanyalah satu suara dari sini, tapi saya tahu bahwa saya tidak sendiri, jutaan atau bahkan miliaran suara yang mendesak pemenuhan hak untuk hidup aman dan sehat akan memiliki kesempatan besar untuk mengubah sesuatu,” lanjut Johno.

Kini, tim relawan dari berbagai negara itu tengah menyiapkan tenda di bawah geladak utama Anjungan Polar Pioneer. Mereka memiliki persediaan makanan untuk beberapa hari ke depan, juga telah dilengkapi dengan teknologi yang memungkinkan untuk berkomunikasi langsung dengan para pendukung di seluruh dunia.

Polar Pioneer yang diangkut oleh kapal angkat berat sepanjang 712 kaki (217 meter) yang disebut Blue Marlin ini adalah satu di antara dua kapal pengeboran yang akan bertolak menuju Arktik untuk memenuhi kebutuhan Shell pada tahun ini. Kapal lainnya, Noble Discover—kapal pengeboran tertua di dunia—dimiliki oleh Noble Drilling yang telah mengaku bersalah pada Desember 2014 terkait tindak pidana berat sehubungan dengan delapan kali usaha Shell yang gagal mengebor di Samudra Arktik pada tahun 2012.

Kedua kapal pengeboran yang akan melintasi Pasifik ini diharapkan tiba di Seattle sekitar pertengahan April sebelum bertolak menuju Laut Chukchi. Shell berencana menggunakan pelabuhan Seattle sebagai pangkalan armada Arktik perusahaan, meskipun perlawanan terus tumbuh dari berbagai kelompok yang berbasis di Seatle.

Baru-baru ini, infrastuktur Arktik Shell banyak melewati Asia Tenggara, termasuk Filipina, sebuah negara yang terus menerus dihantam cuaca ekstrim yang diakibatkan perubahan iklim global. Negara ini adalah titik nol topan besar Haiyan, badai terkuat yang pernah terjadi dan menyebabkan tanah longsor yang menewaskan 7.000 jiwa, memindahkan jutaan orang dan kerugian ekonomi Filipina yang hampir mencapai 2 juta dolar Amerika.

Filipina akhir-akhir ini terhindar dari kemungkinan badai kuat Topan Maysak yang telah melemah ke dalam depresi tropis setelah menyebabkan tanah longsor di Provinsi Isabela pada Minggu Paskah. Sebelumnya julukan Topan Super Maysak telah mengamuk di Pasifik dengan kecepatan angin hingga 260 kph, menghancurkan sebagian Mikronesia, menewaskan sedikitnya lima orang.

“Sejalan dengan sikap para pemimpin dunia yang menyerahkan masa depan kita ke tangan perusahaan bahan bakar fosil kotor, badai pun menjadi lebih sering dan lebih merusak. Hal ini dirasakan di seluruh dunia, ditetapkan menjadi ‘hal baru normal’, dan mengubah kehidupan jutaan manusia terutama seperti Filipina,” kata Anna Abad, Jurukampanye Keadlian Iklim Greenpeace Asia Tenggara.

“Kekuatan dan ketahanan kita menghadapi dampak perubahan iklim seharusnya tidak dilihat sebagai ‘kartu pas’ bagi perusahaan bahan bakar kotor seperti Shell untuk terus berusaha mengebor minyak di perbatasan yang rentan seperti Arktik, sementara itu mengabaikan risiko iklim kepada masyarakat yang rentan di Filipina,” pungkas Anna. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *