Fashion Show di Atas Areal Tercemar, Serukan Industri Fashion Global Men-Detox Operasinya

Aksi para peraga busana di pentas Detox Catwalk (dok. greenpeace)
Aksi para peraga busana di pentas Detox Catwalk (dok. greenpeace)

Jakarta, Villagerspost.com – Bertepatan dengan Hari Air Sedunia, hari ini aktivis Greenpeace, masyarakat, para desainer dan model, serta Paguyuban Warga Peduli Lingkungan (Pawapeling) menyelenggarakan fashion show unik yang digelar langsung di atas lingkungan tercemar limbah industri. Hal ini sengaja dilakukan demi menyuarakan pentingnya industri fashion global untuk beroperasi secara bersih dan ramah lingkungan.

Dalam aktivitas itu, catwalk dibangun tepat di atas area persawahan masyarakat di kawasan Rancaekek Kabupaten Bandung yang sudah puluhan tahun terkena pencemaran industri tekstil. Fashion show ini memamerkan karya-karya bersemangat eco-fashion dari perancang-perancang terkemuka Indonesia yakni Lenny Agustin, Felicia Budi dan Indita Karina bersama mahasiswi BINUS Northumbria School of Design.

Katakan ya untuk fashion indah tanpa pencemaran (dok. greenpeace)
Katakan ya untuk fashion indah tanpa pencemaran (dok. greenpeace)

Menurut Ahmad Ashov Birry, Jurukampanye Detox Greenpeace Indonesia, aktivitas ini adalah bagian dari kampanye global ‘Detox’ Greenpeace yang telah dimulai sejak 2011. Acara ini dihelat berdasarkan keyakinan yang sederhana, dunia fashion adalah dunia yang menawarkan keindahan dan kebahagiaan, sehingga sudah seharusnya tidak merusak lingkungan dan membahayakan kesehatan.

“Jutaan orang di seluruh dunia yang setuju dengan idealisme ini telah bergabung dengan kampanye Detox. Mulai dari para fashionista, aktivis, blogger hingga nama-nama besar di dunia fashion serta hiburan,” kata Ashov dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Minggu (22/3).

Hingga saat ini, kata Ashov, gerakan ini sudah membuat berbagai merek fashion ternama seperti Valentino, Levi’s, Zara, Nike, Adidas, Puma, H&M, Mango, Esprit, Victoria Secret dan lain-lain, mengeluarkan komitmen Detox mereka. “Tetapi tentu saja ini bukan berarti kampanye ini berakhir. Karena sangat penting untuk benar-benar memastikan bahwa fashion yang ramah lingkungan ini bisa menjadi trend yang diikuti oleh seluruh produsen fashion di dunia,” ujarnya menambahkan.

Para model mengingatkan bahaya jika industri fashion terus mencemari sungai, sawah dan sumbe kehidupan lainnya (dok. greenpeace)
Para model mengingatkan bahaya jika industri fashion terus mencemari sungai, sawah dan sumber kehidupan lainnya (dok. greenpeace)

Dukungan dari para praktisi dan pecinta dunia fashion menjadi faktor penting yang membuat seruan Detox ini bisa bergaung dan mampu mengubah perilaku merek-merek global itu. “Sebagai bagian dari industri fashion, saya merasa harus ikut peduli terhadap kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh proses produksi industri tersebut. Fashion seharusnya tidak menyakiti siapa pun,” ujar Lenny Agustin.

Menurut Felicia Budi, konsumen pun memainkan peran penting. “Di dunia fashion, konsumen adalah penentu dan penggerak industri. Kuasa ada di tangan konsumen. Kita bisa menuntut perusahaan-perusahaan fashion untuk menggunakan cara-cara yang lebih ramah lingkungan dalam menciptakan produk tekstil mereka,” ujarnya.

Ashov menggarisbawahi, bagi Indonesia, sangat penting industri fashion global bisa beroperasi secara bersih dan aman. “Banyak diantara merek-merek fashion ternama global itu membuat produknya di pabrik-pabrik di Indonesia. Jadi sangat jelas, jika fenomena industri fashion dunia yang ‘kotor dan beracun’ masih saja terus terjadi, masyarakat dan lingkungan Indonesia akan terus menjadi pihak yang sangat dirugikan, sementara merek-merek global itu menjadi pihak yang terus menikmati keuntungan fantastis,” tegasnya.

Men-Detox produk fashion, menjaga lingkungan (dok. greenpeace)
Men-Detox produk fashion, menjaga lingkungan (dok. greenpeace)

Rancaekek dipilih menjadi tempat aktivitas karena sudah bertahun-tahun masyarakat sekitar terkena dampak pencemaran industri tekstil. Lebih dari 1,200 ha tanaman padi tercemar oleh limbah industri menyebabkan kerugian hingga mencapai Rp3,65 miliar per tahun.

“Sejarah Rancaekek sebagai penghasil padi kelas satu menjadi spirit kami untuk menjaga, memulihkan dan melestarikan lahan sawah yang terpapar limbah bahan berbahaya beracun (B3) di wilayah ini. Wacana pemerintah mengalihfungsikan dan membeli lahan produktif pertanian yang terpapar limbah B3 di Rancaekek, merupakan langkah yang tidak tepat, karena hanya akan mengalihkan dan menambah masalah,” ujar Adi M Yadi Ketua Pawapeling.

“Kita harus bersatu padu untuk menghentikan polusi ini. Greenpeace mendesak industri untuk segera menghentikan pencemaran lingkungan dengan bahan kimia berbahaya. Kami mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan tegas terhadap para pencemar dan memperkuat regulasi terkait manajemen bahan kimia berbahaya untuk masa depan yang bebas toksik,” kata Ashov menyimpulkan. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *