Festival Laut: Merayakan Perikanan Berkelanjutan dan Kekayaan Laut Indonesia

Kekayaan laut Indonesia. Greenpeace helat festival laut, gugah kesadaran menjaga kekayaan laut Indonesia (dok. greenpeace)
Kekayaan laut Indonesia. Greenpeace helat festival laut, gugah kesadaran menjaga kekayaan laut Indonesia (dok. greenpeace)

 
Jakarta, Villagerspost.com – Kekayaan alam Indonesia khususnya di laut seperti ikan, terumbu karang dan kekayaan hayati lainnya seharusnya bisa memberikan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia, khususnya para nelayan tradisional jika dikelola dengan benar. Sayangnya, kesadaran untuk menjaga dan mengelola kekayaan laut secara berkelanjutan belum banyak dimiliki masyarakat Indonesia.

Karena itulah, Greenpeace Indonesia menyelenggarakan Festival Laut guna meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya perikanan berkelanjutan demi masa depan dan kesehatan laut dunia. Penanggung Jawab Festival Laut Greenpeace Afif Saputra mengungkapkan, festival ini diadakan untuk membawa isu-isu kelautan ke tengah masyarakat urban dan meningkatkan kesadaran bahwa laut merupakan bagian penting dari kehidupan, termasuk juga dalam kehidupan perkotaan.

“Terlebih lagi Kota Jakarta yang memiliki populasi lebih dari 10 juta jiwa berpotensi menjadi salah satu basis konsumen makanan laut terbesar di Indonesia. Oleh karena itu menjadi penting bagi masyarakat Jakarta untuk memilih sumber pangan laut dengan hati-hati,” katanya dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Sabtu (19/9).

Saat ini, kata Afif, hampir 90% stok ikan di lautan dunia telah dikuras berlebihan akibat cara penangkapan ikan yang merusak dan tidak berkelanjutan. Cara penangkapan tersebut juga memicu kerusakan terumbu karang, bahkan bulan lalu Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyatakan 70% terumbu karang di Indonesia dalam kondisi rusak.

“Persoalan laut sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Memilih dengan tepat sumber pangan dari lautan turut menentukan masa depan laut. Untuk itu masyarakat perlu memahami dari mana makanan laut yang kita konsumsi berasal, apakah berasal dari perikanan berbasis alat tangkap jaring menggunakan rumpon yang dapat menghancurkan stok ikan di laut, atau dari perikanan bertanggung jawab,” tegas Afif.

Nelayan kita mengenal berbagai cara tangkap ikan yang lebih bertanggung-jawab seperti misalnya huhate yang juga dikenal dengan nama pole and line yang terdiri dari bambu sebagai joran atau tongkat dan rangkaian tali pancing dan kail. Cara penangkapan huhate dapat dijumpai di Sulawasi Utara, Papua Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Sementara rumpon atau Fish Aggregating Devices (FADs) adalah obyek terapung yang digunakan untuk menarik berbagai macam ikan, terkadang mencapai hingga 300 jenis, termasuk kelompok pelagis seperti tuna, marlin, dan mahi-mahi.

“Rumpon berbahaya karena penggunaan jaring di sekitarnya membuat penangkapan tidak selektif, mengangkut segala jenis ikan sehingga berpotensi mengganggu stok ikan di lautan,” urai Afif.

Festival Laut sendiri mengedepankan konsep edukasi bagi seluruh anggota keluarga, oleh sebab itu para pengisi acara juga begitu beragam. Diantaranya ada Putri Indonesia Lingkungan, Kak Seto, dan Winson The Story Teller Family akan berbagi panggung utama.

Selain itu Chef Andrian juga akan menampilkan demo masak dengan menggunakan bahan yang ramah laut. Tak lupa juga, sederet band indie seperti White Shoes & The Couples Company, Stars & Rabbit, Abdul & The Coffee Theory, serta Brianna Simorangkir juga turut meramaikan Festival Laut. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *