Festival Pangan: Mendukung Peningkatan Kesejahteraan Penghasil Pangan Kecil di NTT

Petani Sumba belajar membuat sistem pemulsaan dengan daun daun alami untuk menjaga kelembaban tanah (dok. villagerspost.com/rahmat adinata)

Kupang, Villagerspost.com – Perkumpulan Pikul, menggelar kegiatan Festival Pangan bertema “Pangan, Musik, Mengerti”, Sabtu (24/2) di OCD Beach Kafe, Lasiana, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Festival dan Diskusi bertajuk Kedaulatan dan Keberagaman Pangan ini akan berlangsung pukul 11.00 hingga 18.00 waktu Indonesia Tengah ini menghadirkan beragam aktivitas, mulai dari pertunjukan musik, demo masak, dan edukasi publik terhadap pangan lokal .

“Festival dan diskusi kedaulatan dan keberagaman pangan ini berupaya mendorong kerjasama organisasi masyarakat sipil bersama pemerintah dan pihak swasta mendukung peningkatan kesejahteraan keluarga petani dan kemandirian khususnya petani perempuan dan petani muda di Nusa Tenggara Timur,” kata Torry Kuswardono, Direktur Perkumpulan Pikul.

Festival ini diawali dengan dengan diskusi berbagi ilmu tentang “Bercocok Tanam di Musim Hujan” yang disampaikan oleh Dosen Politani Kupang, Lenny Mooy. Acara kemudian dilanjutkan dengan talkshow tentang “Anak Muda dan Masa Depan Pangan Nusa Tenggara Timur” yang menghadirkan dua Anak Muda inspiratif sebagai narasumber yaitu Maya Stolastika (finalis Duta Petani Muda Indonesia dan Ketua Aliansi Organik Indonesia) untuk berbagi tentang lika-liku Petani Muda di Indonesia. Narasumber lainnya adalah Dicky Senda, Pendiri Komunitas Lakoat.Kujawas. Dicky berbagi tentang bagaimana membangun bisnis sosial berbasis potensi lokal.

Dinas Ketahanan Pangan Propinsi juga terlibat dalam diskusi ini dengan memaparkan pembahasan tentan bagaimana pemerintah melihat peran anak muda dalam keberlanjutan pangan di NTT. Sambil berdiskusi, para pengunjung juga dapat menikmati pameran foto disajikan oleh Sekolah Multi Media Untuk Semua (MUSA) yang menampilkan 35 foto terbaik pangan lokal dan hasil olahannya dari berbagai daerah.

Ada juga pameran pangan lokal disajikan oleh #KupangBatanam, dimana peserta dan pengunjung bisa membeli bahan pangan lokal dengan harga terjangkau, seperti Sorgum dari Malaka, Jagung Bose dari Semau, akabilan dari malaka dan kacang nasi dari Amfoang Selatan. Disela-sela diskusi, saat rehat, sajian penampilan musik etnis ditampilkan oleh Komunitas Timor Reggae Family juga ikut memberikan irama dalam kegiatan ini.

Menjelang sore sehabis acara diskusi, anggota komunitas akan menampilkan melakukan demo masak. Sepuluh komunitas yang hadir dalam demo ini, antara lain: Home Made Pizza, ForJes, Lakoat.Kujawas, OCD Beach Kafe, Mama-mama dari Pasar Felaleo, Namosain, dan Desa Oh Aem Satu yang diundang khusus oleh Pikul dari Amfoang Selatan. Peserta menampilkan makanan lokal dengan bahan dasar sorgum, jagung, umbi-umbian, kacang-kacangan, rebung, akabilan menjadi makanan sehari-hari, kudapan dan minuman.

Menu-menu yang bervariasi ini kemudian dinikmati bersama semua peserta yang hadir. Kegiatan ini membuka pengalaman baru bukan hanya untuk anak muda tetapi juga semua masyarakat untuk mengenal pangan lokal mereka sendiri yang ada di sekitar mereka sebagai pangan pokok dan sumber ekonomi bagi petani pangan lokal itu sendiri.

Festival ini juga akan menampilkan Komika Raim Laode tampil dalam Stand Up Comedy naik ke atas panggung. Sebagai anak pesisir asal Waktobi, Sulawesi, Raim juga akan bercerita tentang produsen pangan lokal dan pangan lokal.

Menurut Torry Kuswardono, terdapat tiga isu yang dihadapi dalam mendorong kedaulatan dan keberagaman pangan di NTT. Pertama, nyaris hilangnya memori kolektif mengenai pangan lokal komunitas. Kurang lebih 35 bahan pangan lokal dari serelia, kacang-kacangan dan umbi-umbian yang tidak diingat lagi oleh masyarakat di desa dan kota di NTT.

Kedua, regenerasi petani yang lambat menjadi penyumbang masalah ketahanan pangan. “Persoalan akses terhadap tanah dan ketersediaan air juga menjadi persoalan anak muda, sehingga mereka tidak bisa mengembangkan sektor ini sesuai dengan imajinasinya,” lanjut Torry.

Masalah ketiga yaitu rendahnya akses dan kontrol bagi perempuan desa terhadap tanah sebagai pelaku kunci yang memastikan ketahanan pangan berlangsung di desa. Salah satu penghambat perempuan desa adalah faktor kultural seperti perempuan di sebagian besar etnis di NTT tidak mendapatkan hak waris.

“Festival ini mendorong masyarakat untuk kembali menggali kekayaan pangan lokal dan menjadi konsumen serta pengkampanye pangan lokal menjadi pesan kunci dari seluruh aktivitas kegiatan ini,” kata Torry.

“Penegakan regulasi yang berpihak pada keberagaman pangan lokal menjadi rekomendasi kebijakan yang dinilai signifikan dapat menumbuhkan kembali pasokan produksi pangan lokal melalui penciptaan permintaan dari masyarakat perkotaan dan secara tidak langsung, dapat meningkatkan kesejahteraan petani di NTT,” pungkas Torry. (*)

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *