FV Viking Meledak, Efek Jera Diharap

FV Viking diledakkan di lepas pantai Pangandaran (dok. setkab.go.id)
FV Viking diledakkan di lepas pantai Pangandaran (dok. setkab.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Satuan Tugas Pemberantasan Illegal Fishing dipimpin Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Senin (14/3) menenggelamkan kapal pelaku illegal fishing yang menjadi buronan di 13 negara, FV Viking di lepas pantai Pangandaran. Susi mengatakan, penenggelaman ini menjadi bukti nyata pemerintah Indonesia sangat serius dalam memberantas illegal fishing.

Susi berharap sikap tegas Indonesia ini akan memberikan efek jera kepada para “calon” pelaku illegal fishing di perairan Indonesia. Dia juga menegaskan, penenggelaman FV Viking merupakan peringatan kepada kapal lainnya agar tidak melakukan pencurian ikan di Indonesia.

“Ini sekaligus memberikan efek jera, agar kapal asing tidak berani lagi mencuri ikan di laut kita. Selain itu, untuk memberikan peringatan kepada kapal pencuri ikan, agar tidak mampir ke Indonesia,” tegas Susi.

(Baca Juga: Kapal FV Viking Dieksekusi di Pangandaran)

Kapal berukuran 1.322 GT tersebut diledakkan dengan cara dikandaskan hanya sebagian badan kapal. Saat laut surut, bagian atas kapal Viking akan terlihat dari pesisir Pantai Timur Pangandaran. Teknik penenggelaman ini, kata Susi, disengaja agar kapal itu bisa dijadikan sebagai monumen peringatan perlawanan kepada pencuri ikan ilegal.

“Indonesia akan menjadi tempat peristirahatan terakhir kapal Viking. Penenggelaman kapal FV. Viking merupakan kontribusi pemerintah Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia dalam memberantas illegal fishing,” papar Susi.

Viking ditemukan memasuki wilayah perairan Indonesia pada 26 Februari 2016. Kapal ini ditangkap karena beredar pada Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEE), 12,7 mil dari Tanjung Uban, Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia.

Susi menegaskan penyelidikan kapal FV Viking dilakukan tanpa melalui proses pengadilan. Namun, Susi juga tetap melibatkan Interpol Norwegia dan instansi pemerintah untuk melakukan penyelidikan.

Kapal Viking telah terdaftar di Komisi Konservasi Sumber Daya Hayati Laut Antartika (CCAMLR) sebagai kapal illegal fishing untuk kegiatan ilegal yang dilakukan di daerah konvensi CCAMLR. Kapal tersebut juga menjadi subyek dalam Purple Notice INTERPOL tahun 2013, yang diperbarui oleh Norwegia pada bulan Januari 2015.

Selama 10 tahun terakhir, Viking telah beroperasi di bawah 12 nama yang berbeda dan mengklaim bendera setidaknya 8 negara yang berbeda. Berdasarkan pada rekam jejak serta temuan-temuan yang ada, kata Susi, telah jelasĀ  menunjukkan bahwa kapal Viking melakukan berbagai pelanggaran ketentuan conservation measures yang diatur oleh berbagai ketentuan hukum internasional.

Hal lain yang juga perlu menjadi perhatian dunia adalah jejaring bisnis pemilik dan operator kapal dan pasar yang menjadi tujuan hasil tangkapan kapal Viking yang berada di berbagai belahan dunia misalnya Singapura, Vietnam, Malaysia, Angola, Kongo, Spanyol dan Amerika Serikat. “Temuan-temuan awal ini masih terus didalami oleh Satgas 115 bekerjasama dengan Multilateral Investigation Support Team (MIST) dari Norwegia dan Kanada,” jelas Susi.

Susi menegaskan, Viking adalah bukti nyata kejahatan perikanan adalah kejahatan terorganisir lintas negara (transnational organized crime). “Kejahatan perikanan melecehkan kedaulatan banyak negara. Hal ini tidak boleh dibiarkan oleh negara manapun yang berdaulat,” ujarnya.

Karena itu, kata Susi, Indonesia akan mengintensifkan kerjasama dengan berbagai negara untuk mengungkap modus operandi dan pemilik kapal Viking yang sebenarnya. “Dukungan dan kerjasama dari Singapura dan Thailand yang sering disinggahi oleh Viking merupakan hal yang sangat penting untuk mengungkap pemilik FV Viking yang sebenarnya,” pungkasnya. (*)

Ikuti informasi terkait penenggelaman FV Viking >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *