Gelar Aksi di Rapat Umum Tahunan Nestlé, Greenpeace Tuntut Solusi Nyata Krisis Sampah Plastik | Villagerspost.com

Gelar Aksi di Rapat Umum Tahunan Nestlé, Greenpeace Tuntut Solusi Nyata Krisis Sampah Plastik

Aktivis Greenpeace melakukan aksi menuntut solusi atas krisis sampah plastik di rapat tahunan Nestle (dok. greenpeace)

Jakarta, Villagerspost.com – Sebanyak 20 aktivis Greenpeace Swiss menginterupsi Rapat Umum Tahunan Nestlé yang berlangsung pada hari Kamis (11/4) waktu setempat, menuntut solusi nyata atas krisis sampah plastik. Para aktivis tersebut membentuk barisan di posisi terdepan tempat pertemuan, berhadapan dengan para pemegang saham sebagai peserta rapat sembari membentangkan spanduk yang bertuliskan: “Nestlé berhenti menggunakan plastik sekali pakai“dan “Nestlé, [sampah plastik] ini adalah milik Anda“.

Tak lupa para aktivis Greenpeace itu juga memperlihatkan sampah kemasan plastik dari produk-produk milik Nestlé yang ditemukan telah mencemari ekosistem lautan. Para aktivis pun menyerahkan sampah plastik tersebut kepada jajaran eksekutif perusahaan lalu kembali ke kursi mereka.

Dalam pidato yang disampaikan pada acara tersebut, Greenpeace dan mitra dari gerakan Break Free From Plastic global menuntut Nestlé untuk menghentikan ketergantungannya pada plastik sekali pakai. Greenpeace juga mendesak Nestlé segera berinvestasi dalam sistem pengiriman alternatif berdasarkan konsep isi ulang dan penggunaan kembali, untuk mengakhiri “bencana lingkungan dan keadilan sosial ini”.

Direktur Eksekutif Greenpeace International Jennifer Morgan dalam pidatonya mendesak jajaran eksekutif dan pemegang saham Nestlé untuk menunjukkan kepemimpinan sejati dalam menyelesaikan krisis polusi plastik. “Kami di sini bersama dengan koalisi kami, dari gerakan global Break Free From Plastic yang merupakan gerakan masyarakat sipil yang kini terus bertumbuh, untuk memberi tahu Nestlé bahwa kami sudah muak,” ujarnya.

“Masyarakat dapat melihat sendiri kerusakan yang terjadi akibat polusi plastik terhadap lautan, saluran air, dan komunitas kita. Kita semua telah menyaksikan bagaimana plastik mengkontaminasi keanekaragaman hayati kita yang berharga, dan baru saja mulai memahami bagaimana plastik berdampak buruk terhadap kesehatan kita,” tambah Jennifer.

Dia menegaskan, polusi plastik adalah bencana lingkungan, dan merupakan gejala nyata dari penyakit planet karena perekonomian yang didasarkan pada konsumsi yang terus-menerus dan kebiasaan sekali pakai dengan biaya tak terbatas. Jennifer tak lupa memaparkan fakta, tahun lalu, Nestlé memproduksi 1,7 juta ton kemasan plastik. Jumlah itu 13% lebih tinggi dari tahun sebelumnya.

Padahal perusahaan mengklaim akan menangani masalah plastik dengan serius. “Sudah waktunya bagi Nestlé untuk benar-benar bertanggung jawab atas besarnya kontribusi perusahaan terhadap permasalahan plastik, mereka harus transparan dan mengedepankan rencana aksi nyata, dengan jadwal yang ambisius, tentang langkah-langkah untuk mengurangi produksi kemasan sekali pakai dan berinvestasi dalam sistem pengiriman isi ulang dan penggunaan kembali yang berkelanjutan,” tegas Jennifer.

Sebuah laporan yang diterbitkan oleh Global Alliance for Incinerator Alternatives (GAIA) baru-baru ini menemukan Nestlé menjadi sumber utama pencemaran plastik bermerek dalam audit sampah plastik yang dilakukan di Filipina, di mana masyarakat telah menjadi tempat pembuangan melalui perdagangan sampah global. Froilan Grate, Direktur Eksekutif GAIA Filipina, juga hadir di rapat umum tahunan ini untuk menggambarkan krisis polusi plastik yang ia saksikan setiap hari di komunitasnya.

“Polusi plastik mungkin sangat terlihat di Filipina dan negara-negara Asia lainnya, tetapi krisis sebenarnya dimulai di ruang rapat eksekutif Anda, ketika Anda memutuskan untuk menjual produk yang dikemas dalam plastik sekali pakai dan tidak dapat didaur ulang di tempat-tempat di mana tidak ada infrastruktur untuk mengelolanya,” ujarnya.

“Atas nama komunitas saya, saya di sini untuk memberi tahu Anda bahwa kami tidak lagi menginginkan kemasan plastik beracun Anda. Sampah plastik telah mencemari saluran air kami, memenuhi tempat pembuangan sampah kami, menghancurkan komunitas kami dan merusak kesehatan kami. Sudah saatnya bagi Anda untuk menganggap serius krisis ini, berhenti fokus pada solusi yang salah, dan berinvestasi dalam sistem pengiriman baru untuk menghentikan krisis ini,” tegas Froilan.

Jurukampanye Urban Greenpeace Indonesia Muharram Atha Rasyadi mengatakan, perusahaan tidak bisa mengalihkan tanggung jawabnya kepada masyarakat, dengan hanya fokus pada bagaimana membuang sampah pada tempatnya, pemilahan sampah, dan daur ulang. Tanggung jawab terbesar, tegas dia, justru berada di tangan produsen.

“Dengan tingkat daur ulang yang rendah, satu-satunya solusi adalah mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dalam kemasan produk. Dengan begitu, Indonesia pun bisa mencapai targetnya yakni mengurangi 70 persen sampah plastik di lautan pada tahun 2025,” kata Atha.

Greenpeace menuntut Nestlé dan perusahaan multinasional lainnya untuk segera transparan tentang penggunaan plastik mereka secara keseluruhan, dan merancang rencana aksi nyata dengan jadwal yang ambisius yang menjelaskan bagaimana mereka mengurangi ketergantungan mereka pada plastik sekali pakai, dan bergerak menjauhi budaya membuang sampah.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *