Gelar Festival Hakau, KKP Ajak Masyarakat Olah Potensi Ekonomi Udang

Hakau, makanan olahan dari udang yang potensial (dok bekraf.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Pusaltluh KP) menyelenggarakan Festival Pelatihan Hakau pada Kamis (4/6). Hakau merupakan salah satu jenis dimsum berisi udang yang dilapisi oleh kulit transparan. Sajian ini sudah sangat dikenal oleh masyarakat pecinta kuliner dan menjadi pilihan utama jika mengunjungi restoran dimsum.

Lewat festival hakau ini, KKP ingin mengajak masyarakat olah potensi ekonomi udang. Pelatihan gratis yang dilakukan secara online ini diikuti oleh 490 masyarakat dari 33 provinsi di Indonesia. Mereka datang dari berbagai latar belakang profesi seperti ibu rumah tangga, karyawan swasta, pelaku usaha kuliner, TNI/Polri, pengolah hasil perikanan, guru, dan pekerja LSM.

Kepala Puslatluh KP Lilly Aprilya mengungkapkan, festival ini membuka potensi ekonomi bagi masyarakat yang ingin membuka usaha di bidang olahan perikanan. Terlebih, saat ini banyak restoran yang belum dapat beroperasi akibat terbatasnya aktivitas ekonomi di tengah pandemi COVID-19.

“Hakau memliki prospek pasar yang menjanjikan. Jika dilihat dari penjualan kuliner di platform-platform online saat ini, hakau menjadi salah satu jenis kuliner yang memiliki rating permintaan yang tinggi dari konsumen,” ucapnya.

Tak hanya itu, hakau juga mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Pasalnya, udang yang menjadi bahan bakunya merupakan salah satu komoditi perikanan yang berlimpah, bahkan menjadi primadona produk ekspor Indonesia.

“Udang kita sangat berlimpah. Bapak/Ibu akan mudah menemukan udang segar di pasar-pasar tradisional maupun TPI. Harganya pun bersaing. Jadi, kita tidak perlu khawatir akan kekurangan bahan baku untuk produksi,” tambah Lilly.

Untuk itu, ia mendorong agar para peserta latih memanfaatkan potensi hakau sebagai alternatif usaha di tengah kondisi pandemi yang menjangkit dunia saat ini. Sejalan dengan itu, Kepala BRSDM Sjarief Widjaja mengingatkan para peserta agar menciptakan produk hakau yang inovatif, baik dari segi rasa maupun kemasannya sehingga menarik bagi konsumen.

“Produk kita harus unik. Harus berbeda dari yang ada di pasar. Kalau orang makan hakau pasti sudah terbayang rasanya. Bisa tidak kita bikin hakau rasa balado, cabe hijau, atau tomyum? Jadi, kalau orang makan hakau kita itu ada experience yang berbeda sehingga mereka ingin makan lagi,” terang Lily.

Lily juga mengingatkan agar para peserta memperhatikan teknik pembuatan hakau yang dilakukan. Teknik yang benar menjadi penting untuk memastikan agar adonan hakau yang dibuat tidak mudah patah, kenyal, dan enak saat dikonsumsi.

Sementara itu, Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Sjarief Widjaja mengatakan, sarana/prasarana dan material bahan baku hakau juga menjadi hal yang harus diperhatikan. Ia menekankan bahwa kunci dari produk kuliner adalah material yang digunakan. “Udangnya harus segar. Jangan yang sudah mati tiga kali,” katanya.

Sjarief berharap agar pelatihan pembuatan hakau ini bisa menghasilkan produk andalan inovatif yang memiliki nilai tambah dan bermanfaat bagi ekonomi masyarakat yang terdampak di tengah pandemi COVID-19. “Yang dilakukan KKP ini bukan kursus memasak. Tapi yang dilakukan KKP adalah membuat training untuk menjadikan produk hakau udang ini menjadi andalan sehingga bisa jadi mata pencaharian baru untuk keluarga kita masing-masing,” tuturnya.

Apresiasi disampaikan oleh salah seorang peserta asal Sulawesi Selatan Rahayu. Ia menilai pelatihan ini menambah wawasannya untuk mendiversifikasi produk olahan perikanan. “Selama ini saya hanya bisa mengolah ikan jadi baso dan siomay, sekarang saya dapat keterampilan tambahan untuk mengolah udang jadi hakau. Jadi, variasi produk jualan saya juga bisa bertambah dan memperluas pasar,” katanya.

Rahayu berharap, KKP terus memberikan pelatihan-pelatihan olahan ikan ke depannya sehingga bisa menjadi pilihan bagi masyarakat yang membutuhkan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah pandemi COVID-19 saat ini.

Anggota Komisi IV DPR Ir. Sumail Abdullah dalam kesempatan ini juga menyampaikan apresiasinya kepada KKP. “Model pelatihan seperti ini sangat bermanfaat di masa pandemi COVID-19 untuk mendorong masyarakat tetap bergerak ekonominya dan menumbuhkan UMKM baru,” ujarnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *