Gelora Pertanian Organik dari Ujung Utara Indonesia

Lahan pertanian organik di dalam scren house yang dikembangkan para petani di Kepulauan Anambas (dok. villagerspost.com/maulana)

Kepulauan Anambas, Villagerspost.com – Gelora semangat para petani di Indonesia untuk mengembangkan pertanian organik menyebar merata se-nusantara, termasuk hingga ke kawasan Kepulauan Anambas, di Kepulauan Riau yang termasuk kawasan ujung utara Indonesia. Salah satu kawasan pengembangan pertanian organik di Anambas adalah di daerah Palmatak. Secara geografis posisi Palmatak masuk kabupaten Anambas, namun dulunya adalah pecahan atau pemekaran dari kabupaten Natuna.

Daerah ini berada persis di laut lepas Cina Selatan. Anambas sendiri mungkin kurang dikenal, justeru yang lebih dikenal adalah nama ibukotanya, Tarempa, sebagai penghasil Ikan. Di Palmatak, para petani sayuran sudah mulai mengembangkan sistem organik sejak tahun 2010. Ketika itu, di Anambas tengah dicanangkan gerakan “Go Organik 2010” oleh negara.

Para petani sayur organik di Kepulauan Anambas mengolah lahan (dok. villagerspost.com/maulana)

Yang unik, budidayanya bukan dilakukan di atas lahan biasa, tapi dalam screen house atau sebuah bentuk bangunan dengan atap plastik, kemudian pinggir dindingnya ditutup dengan menggunakan paranet (jaring tembus angin). Sedangkan bagian atasnya menggunakan atap plastik, agar hujan tidak masuk namun sinar matahari tetap bisa menyinari tanaman.

“Screen house sayuran tersebar di dua desa. Desa Langir dan Desa Tanjung Durian, semuanya ada 11 bangunan dengan rata-rata luas banguan 500 meter persegi,” kata Maulana, seorang praktisi pertanian organik yang mendampingi para petani di Anambas, kepada Villagerspost.com, Selasa (28/11).

“Ini melibatkan lima kelompok tani yang bergerak dalam budidaya sayuran organik. Ada Kelompok tani Bina Usaha, Bina Jaya, Maju Usaha, Semai Tokong dan Goa Panen. Setiap kelompok jumlahnya 38 orang,” tambah bapak dua anak ini.

Berdasarkan penuturan Ketua Kelompok Bina Usaha M. Yasin, pendampingan kepada petani sayuran organik di Palmatak ini, sudah dilakukan sejak 2010 khususnya lewat program yang dikembangkan oleh perusahaan Premier Oil. Saat itu, pihak perusahaan khusus membimbing masyarakat di Palmatak, yang tadinya nelayan, untuk juga mempelajari cara bertani organik.

Warga ikut meninjau lahan pertanian sayuran organik (dok. villagerspost.com/maulana)

“Kami ini kan semuanya nelayan tidak tahu cara bertani yang baik itu bagaimana, namun setelah ada pendampingan lumayanlah, selain bisa menjual, bisa juga mengkonsiumsi sayur. Tadinya kan hanya ikan laut saja, ya digoreng, dibuat kuah, dibakar, nah sekarang sejak 7 tahun lalu kami bisa merasakan hidangan dengan sayuran, pokoknya bersyukur,” ujar warga Desa Langir ini dengan raut wajah gembira.

Tak hanya itu, menurut Ketua Kelompok Tani Bina Jaya Syahrimun, dengan mengembangkan pertanian organik, pendapatan warga pun sekarang bertambah. “Selain sebagai nelayan juga jadi petani, pendapatan setiap musim cukup lumayan, antara 5 juta hingga 10 juta rupiah, soalnya yang ditanam hanya sayuran umur pendek dengan usia panen 45 hari,” kata Syahrimun.

Memanen sayuran kangkung organik (dok. villagerspost.com/maulana)

Hasil panen sayuran organik ini, kata dia, dipasarkan ke Palmatak, Ladan, lalu kemudian ke Pasar Tarempa dengan jalur laut. Kabupaten Kepulauan Anambas merupakan wilayah kepulauan. Kabupaten ini memiliki 67 pulau, dengan luas daratan hanya 2% saja, jadi segala jenis angkutan dari pulau yang satu ke pulau yang lain hanyalah menggunakan jalur laut.

“Jadi tadinya kebutuhan sayur dikirim dari luar pulau, sekarang kita bisa kirim juga ke pulau lain soalnya tanam tidak kenal musim sebab dengan teknik screen house,” tambah Syahrimun dengan bangga.

Soal harga jual, Maulana mengatakan, sayuran yang dibudidayakan oleh warga binaannya, dari sisi harga jual cukup stabil. Kangkung misalnya, dihargai mencapai Rp10 ribu per kilogram. Sementara bayam, Rp12 ribu/kg, sawi putih/hijau Rp20 ribu/kg, timun Rp12 ribu/kg dan kacang panjang Rp12 ribu/kg.

“Biaya produksi terbilang murah sebab petani bisa buat pupuk dan obat-obatan secara organik,selain itu sayuran yang dikonsumsipun aman tanpa bahan residu kimia,” pungkas Maulana.

Laporan/Foto: Rahmat Adinata/Maulana, Praktisi Pertanian Organik, Jurnalis Warga untuk Villagerspost.com

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *