Genjot Produktivitas Lahan Kering, Kementan Luncurkan Varietas Inpago

Padi varietas Inpago8, padi untuk lahan kering yang dikembangkan Kementerian Pertanian (dok. kementerian pertanian)

Jakarta, Villagerspost.com – Potensi pertanian lahan kering baka dimaksimalkan pemerintah dalam rangka meningkatkan produksi padi nasional. Karena itu, pemerintah melalui Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian mengembangkan varietas padi inbrida padi gogo (Inpago), varietas padi khusus untuk lahan kering yang dikenal sebagai padi ladang atau padi gogo.

Kepala Puslitbang Tanaman Pangan, Bogor Ismail Wahab mengatakan, jenis padi ini merupakan padi gogo unggulan karena memiliki potensi hasil tinggi yaitu mencapai 10 ton gabah lebih per hektare. Varietas ini jga terhitung berumur sedang dengan umur genjah sekitar 110 hari, dan tahan terhadap cekaman biotik dan abiotic.

Salah satunya adalah Inpago 12 yang memiliki potensi hasil 10,2 ton per hektare dengan umur panen 111 hari. Varietas ini, kata Ismail, toleran terhadap kekeringan dan tahan terhadap penyakit blas ras 033. Varietas ini jauh lebih unggul dibandingkan dengan varietas lokal yang potensi hasilnya hanya 1-2 ton/hektar dan umurnya dalam, yaitu sekitar 6 bulan.

Selain itu ada juga Inpago 9 dan Inpago Rindang 2 Agritan. “Inpago 9 memiliki potensi hasil tinggi juga, yaitu 8,4 ton/hektar, umur 109 hari, agak toleran terhadap keracunan Al dan kekeringan, serta agak tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 1, dan agak tahan terhadap penyakit blas ras 133,” ujar Ismail dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Sabtu (16/6).

Potensi lahan kering di Indonesia memang cukup besar. Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian Dedi Nursyamsi, mengatakan bahwa potensi lahan kering untuk pengembangan padi gogo cukup besar. Dari luasan 80 juta hektar lahan kering, yang sesuai untuk padi gogo sekitar 24,7 juta hektare masing-masing lahan kering masam 21 juta hektare, dan lahan kering iklim kering 3,7 juta hektare.

“Apabila ekstensifikasi Inpago ke lahan kering sekitar 1 juta ha dengan produktivitas rata-rata 4 ton/hektar dan indeks pertanaman 150, maka tiap tahun ada tambahan produksi padi yang sangat signifikan, yaitu sekitar 6 juta ton GKG,” jelas Dedi

Diketahui, pada tahun 2016 produksi padi capai 79,35 juta ton dan tahun 2017 capai 81,07 juta ton. Kementan menargetkan produksi pada tahun 2018 ini bisa mencapai 81,2 juta ton. Salah satu upaya yang dilakukan untuk menggenjot produksi adalah mengembangkan varietas padi dengan produktivitas tinggi.

Varietas unggulan yang turut dikedepankan Kementan saat ini adalah varietas inpago 9. “Saat ini, sekitar 90 persen produksi padi dihasilkan di lahan sawah. Padahal pemanfaatan lahan kering untuk budidaya padi memiliki potensi yang masih sangat besar. Padi gogo bisa ditanam secara tumpang sari dengan tanaman pangan lain, seperti singkong dan jagung, ataupun dengan tanaman tahunan seperti jati, kelapa dan karet,” kata Ismail.

Varietas berikutnya adalah Inpago Rindang 2 Agritan. Varietas ini adalah padi gogo khusus untuk intercropping dengan tanaman perkebunan, seperti kelapa, karet, dan lain-lain. “Inpago ini memiliki potensi hasil tinggi, yaitu 7,39 ton/hektar. Terkait ketahanan terhadap cekaman abiotic, Inpago ini selain toleran terhadap kekeringan dan keracunan Al, juga toleran terhadap naungan sehingga sesuai untuk intercropping dengan tanaman perkebunan,” ungkap Ismail.

Peneliti Balai Besar Litbang Padi, Sukamandi Aris Hairmansis mengatakan, Badan Litbang Pertanian sebenarnya sudah menghasilkan berbagai jenis Inpago dengan kelebihan masing-masing.
Semua Inpago umumnya toleran terhadap kekeringan dan kemasaman (keracunan Al) tapi masing-masing mempunyai ciri khas.

Misalnya Inpago 8 dan Inpago 10 potensi hasilnya tinggi dan rasanya pulen sehingga disukai suku Sunda, Jawa, Sulawesi, dan lain-lain kata Aris menambahkan. “Inpago 9 dan Inpago 11 potensi hasilnya tinggi dan rasanya pera sehingga sangat disukai masyarakat Minang (Sumbar dan Riau) dan suku Banjar (Kalsel dan Kaltim)” kata Aris.

“Sementara itu ada juga yang nasinya wangi (aromatik) dan rasanya pulen, yaitu Situpatenggang. Ada juga yang menghasilkan beras merah, yaitu Inpago 7. Beras ini mempunyai indeks glikemik (IGK) rendah sehingga cocok untuk penderita diabetes,” ujar Aris.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *