Gerakan Petani Nusantara: Mengawal Ruh Perjalanan Pengendalian Hama Terpadu

Tari topeng khas Indramayu ikut meramaikan acara musyawarah kerja nasional Gerakan Petani Nusantara (dok. gerakan petani nusantara)

Indramayu, Villagerspost.com – Musyawarah Kerja Nasional Gerakan Petani Nusantara (GPN) yang digelar pada 26-27 Januari lalu sudah berakhir. Melalui musyawarah ini, para petani yang berasal dari 6 provinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Lampung itu, salah satunya bertekad untuk mengawal ruh perjalanan pengendalian hama terpadu dalam setiap program kerja.

“Di lapangan terus meningkatkan pembelajaran antar petani, dan petani pembelajar, termasuk juga petani muda dalam rangka menciptakan inovasi-inovasi petani. Slogannya mendengar saya lupa, melihat saya ingat, melakukan saya paham,” kata Sekjen GPN David Ardhian saat membacakan rekomendasi tersebut.

Mukernas GPN itu sendiri menghasilkan lima rekomendasi yang harus dilaksanakan para anggotanya dalam setahun ke depan. Rekomendasi pertama adalah meneruskan konsolidasi Gerakan Petani Nusantara di tingkat provinsi dan kabupaten, dan melaksanakan program kerja 2018 secara nyata dilapangan.

“Dalam menjalankan program kerja GPN di daerah mengembangkan kerja sama dengan mitra-mitra, perguruan tinggi dalam menghadapi persoalan-persoalan dilapangan. Slogannya lebih baik menyalakan lilin, dari pada mengutuk kegelapan,” tegas David.

Kedua, dalam menghadapi situasi alam dan potensi ledakan hama, diserukan oleh ketua umum untuk menjalin dan meningkatkan kebersamaan, gotong royong dan meningkatkan doa pada yang maha kuasa agar terhindarkan dari segala bencana. “Slogannya ciloko mergo sembrono, blahi mergo lali,” ujar David.

Ketiga, GPN dalam setahun kedepan memperkuat kelembagaan dewan pakar, menjalin kerjasama peneliti, akademisi pro petani, serta mengembangkan jaringan petani dan peneliti tentang isu-isu strategis dengan metodologi penelitian lapang, mengembangkan keterkaitan sains dengan kearifan lokal, serta membangun peneliti dan petani untuk bersatu padu demi dalam menyonsong kedaulatan pangan kedepan. “Slogannya petani dan peneliti bersatu tak bisa dikalahkan,” tegas David.

Keempat, untuk terus menjaga sikap dan konsistensi untuk mengawal ruh perjalanan pengendalian hama terpadu dalam setiap program kerja.

Kelima, GPN merekomendasikan untuk dilakukan persiapan-persiapan dalam rangka munas ke II GPN yang rencananya akan dilaksanaksan di Jawa Timur, untuk itu diharapkan untuk GPN Jawa Timur mengkoordinasikan dan mempersiapkan dengan sekretariat pusat di Bogor terkait dengan persiapan Munas ke-2. “Slogannya dari Jawa Timur untuk Indonesia, untuk kesejahteraan petani nusantara,” pungkas David.

Sementara itu, dari daerah, para ketua wilayah juga mencanangkan program kerja di wilayahnya masing-masing. Untuk GPN Jawa Barat seperti diungkapkan Deni Nurhadiansyah, selaku Ketua GPN Jabar, ke depan agenda terdekat GPN Jawa Barat adalah mengadakan musyawarah daerah. Lewat musyawarah tersebut, kata Deni, akan dirumuskan beberapa program seperti pengembangan ekonomi dan teknis budidaya.

Untuk pengembangan ekonomi ada dua hal utama yang akan digarap. “Pertama, membuat peta potensi jejaring ekonomi di tiap wilayah anggota GPN Jabar. Kedua, kami akan merilis wadah jual-beli online produk pertanian anggota GPN dengan link klikagri.id,” tegas Deni.

Sementara itu, untuk program teknis budidaya, GPN Jabar akan mendokumentasikan teknologi yang dimiliki masing-masing daerah anggota yang kemudian akan dirilis sebagai teknologi yang dimiliki oleh GPN Jabar.

Untuk GPN Jawa Tengah, Ketua GPN Jateng Wardiono mengataka, secara kelembagaan, GPN Jateng memilik tiga program. Pertama, menjaring dan memperkuat kader GPN sampai pada level kabupaten dengan target April 2018, sekaligus persiapan Munas Jawa Timur. Kedua, embentuk kepengurusan sampai pada level kabupaten. “Ketiga, membentuk koordinator disetiap karisidenan dalam rangka mempermudah alur koordinasi GPN Jawa Tengah,” ujarnya.

Sementara itu, untuk GPN Jatim seperti dibacakan ketuanya, Hartono, untuk bidang keorganisasian memiliki empat agenda. Pertama, GPN Jatim menginginkan surat legalitas dari GPN Pusat dan mendapatkan SK kepengurusan GPN provinsi. Kedua, melanjutkan rutinitas rapat 3 bulanan GPN Jatim secara bergilir. Ketiga, reorganisasi dan perekruitan kader muda. Keempat, pembuatan sekretariat di setiap kabupaten di Jatim

Untuk bidang ekonomi, GPN Jatim juga berencana mendirkan GPN Mart, mendistribusikan produk teknologi dari petani GPN Jatim, dan membangun demplot pertanian selaras alam. Kemudian GPN Yogyakata di bidang keorganisasian akan melakukan peningkatan kapasitas petani dengan mendirikan PETA atau Pendidikan Petani. PETA dilengkapi dengan KEPALA (Kelas Lapang Petani) berfokus pada teknik dan budaya dan DPW yang memfasilitasi kegiatan pendidikan petani pada tingkat DPC. Sementara DPC memfasilitasi kegiatan pendidikan tingkat desa

Materi PETA akan mencakup teknis pertanian, organisasi pertanian yang terdiri dari administrasi, manajemen dan gerakan. GPN DIY juga berupaya membangun jaringan pada bidang modal dan pemasaran dengan salah satunya, pembuatan koperasi yang bergerak pada bidang produksi dan distribusi, secara khusus adalah Beras Organik Murah dengan sistem preorder menjadi dana modal.

GPN DIY juga akan membangun jaringan konsumen, pendidikan konsumen dengan materi urban farming selama 2 kali pertemuan, kerjasama dengan pemkot Yogya, kegiatan PKK, Koperasi distribusi untuk konsumen. Kemudian untuk program jangka menengah akan membentuk asuransi mandiri dari petani untuk petani, dan pemanfaatan limbah ternak. Sementara untuk jangka panjang adalah pemanfaatan limbah ternak untuk pupuk padat, cair, biogas, dan perikanan. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *