Gonjang-Ganjing Menteri Pertanian Soal Impor Jeroan Sapi

Operasi pasar daging sapi oleh pemerintah (dok. bkpd.jabarprov.go.id)
Operasi pasar daging sapi oleh pemerintah (dok. bkpd.jabarprov.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Menteri Pertanian Amran Sulaiman kebanjiran kritik karena dinilai inkonsisten soal kebijakan impor jeroan sapi. Sang menteri diketahui pernah menutup keran impor jeroan sapi dengan alasan, di Eropa jeroan adalah makanan anjing. Namun sang menteri belakangan merevisi kebijakan itu.

Amran belakangan merevisi Permentan Nomor 58 Tahun 2015 tentang Pemasukan Karkas Daging dan Olahannya. Amran beralasan, aturan ini direvisi agar jeroan dan daging jenis secondary cut bisa diimpor swasta maupun BUMN.

“Kita ingin membuat regulasi yang semuanya dibangun untuk kepentingan rakyat. Jangankan permentan. Undang-Undang (UU) pun kita revisi, kalau rakyat yang menginginkan. Masih ingat country base ke zone base? Itu karena rakyat yang menginginkan,” kata Amran, di sela kunjungan kerjanya ke Surabaya, Jawa Timur, Jumat (15/7).

(Baca juga: DPR Tolak Impor Daging Kerbau)

Menurut Amran, harga jeroan sapi juga melambung ke angka Rp90 ribu per kilogram, meski harga normalnya seharusnya di angka US$1 atau setara Rp13 ribu per kilogram. Karena itu, demi kepentingan rakyat, kata Amran, kebijakan itu diubah. “Dulu ditutup impornya bahkan kami statement keras bahwa itu makanan anjing, kemudian kita buka tahun ini,” kata Amran.

“Kami tangani lonjakan harga daging sapi yang melambung ke Rp120 ribu hingga Rp140 ribu per kg, apakah kita biarkan rakyat menderita?” ujarnya.

Lantaran harga naik hingga 800% itulah, pemerintah harus membuka peluang impor jeroan sapi untuk melakukan stabilisasi harga agar terjangkau konsumen. “Itulah yang melatarbelakangi pemerintah melalui Kementan untuk merevisi Permentan, yaitu untukĀ  mencari solusi melalui regulasi agar opsi pemenuhan kebutuhan protein rakyat dapat terpenuhi dengan harga terjangkau,” katanya lagi.

Dia mengatakan, mempertahan regulasi yang keliru justru jauh lebih berbahaya dari koruptor. “Regulasi ini bukan untuk kepentingan seorang menteri atau kelompok juga bukan kepentingan saudara menteri, tapi untuk kepentingan bangsa dan negara,” kata menteri asal Bone, Sulawesi Selatan ini lagi.

Amran tidak menampik upaya sejumlah pihak mengkritisi pemerintah, yang melempar isu tentang penyakit hewan dan lemak jeroan sapi yang dapat memicu kanker lantaran dampak dari pakan ternak yang dikenal sebagai Betagonis. Namun hal itu tidak menyurutkan langkah pemerintah mengingat kemajuan teknologi khususnya di bidang veterinary (kesehatan hewan).

“Setelah regulasi direvisi, ada lagi isu hormon lalu penyakit hewan, saya tegaskan sapi potong dan sapi bakalan sumbernya sama dari Australia dan sebelum masuk Indonesia diperiksa dulu kesehatan ternak yang diimpor. Artinya gugur ini penyakit. Jangankan hormon atau penyakit dari luar negeri, dulu disebut ada yang memicu kanker kemudian kami lihat langsung melalui sidak dan kritik tersebut pun gugur,” kata Mentan.

Amran juga menegaskan, impor jeroan sapi bukan bermaksud mematikan usaha peternak lokal karena target pasarnya adalah Jabodetabek, yang saat ini kebutuhan konsumennya dipenuhi oleh daging sapi impor hampir 90%. “Kalau ada yang keberatan kira-kira siapa? Tentu ada yang keberatan dan menolak, nah kita balik faktanya, peternak lokal terkonsentrasi di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, dan impor jeroan sapi kami isolasi hanya di Jabodetabek yang kebutuhannya 90% dipenuhi dari daging impor. Terjawab kan, saya adalah bapaknya petani, dan saya sudah buktikan hal itu hampir dua tahun ini. Mulai dari cabai, bawang merah, ternak sapi, daging sapi, hingga peternak ayam,” kata Mentan.

Menurutnya, impor jeroan saat ini adalah bagian dari rencana jangka pendek untuk menstabilkan harga daging sapi dan memenuhi sumber protein masyarakat, dan jumlah jeroan sapi yang diimpor tidak lebih besar dari jumlah impor daging sapi beku.

“Prinsipnya, pemerintah tidak mau diatur atau didikte oleh kepentingan pihak-pihak tertentu, dan itu bukti nasionalisme saya karena regulasi dibuat untuk rakyat. Bisa saja bulan depan Permentan direvisi lagi sesuai permintaan rakyat misalnya harga jeroan sapi jatuh sampai di bawah satu dolar AS, maka kita tarik lagi, ubah lagi peraturannya. Ingat, jangankan Permentan lha UUD saja diamandemen untuk kepentingan rakyat,” katanya. (*)

Ikuti informasi terkait daging impor >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *