Greenpeace: Deforestasi Terungkap, Wilmar Cari Kambing Hitam

Konsesi milik PT Agrinusa Persada Mulia (PT APM) di Papua (d0k. greenpeace/ulat ifansasti)

Jakarta, Villagerspost.com – Greenpeace merespons negatif langkah pengunduran diri yang diambil Martua Sitorus, salah satu pendiri perusahaan minyak sawit terbesar dunia, Wilmar International. Kepala Kampanye Hutan Global Indonesia Kiki Taufik menyatakan, langkah pengunduran diri Martua tersebut menunjukkan Wilmar berupaya menyalahkan pihak lain alis mencari kambing hitam atas kegagalannya.

“Ini bukan hanya tentang perusahaan Gama atau Martua Sitorus. Ini soal bentuk penolakan Wilmar dalam menjaga perusak hutan keluar dari rantai pasokan bisnis minyak sawit mereka. Jika Wilmar serius melakukan reformasi, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuktikan pasokan minyak sawit bersih dari kegiatan deforestasi dengan membuat para pemasok minyak sawit menerbitkan semua peta konsesi mereka,” kata Kiki dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Rabu (4/7).

Pengunduran diri Martua Sitorus, terjadi satu minggu setelah Greenpeace mengungkap keterlibatan Martua dengan perusahaan Gama Plantation yang bertanggung jawab atas praktik deforestasi besar-besaran di Indonesia. Saudara iparnya, Hendri Saksti yang menjabat sebagai Kepala Wilmar untuk Indonesia, juga ikut mengundurkan diri.

Investigasi Greenpeace Internasional mengungkapkan bahwa Gama sebuah bisnis minyak sawit ternyata dijalankan oleh para eksekutif senior Wilmar dan anggota keluarga mereka, telah merusak kawasan hutan seluas dua kali lipat kota Paris sejak 2013. Padahal perusahaan Wilmar telah berkomitmen untuk mengakhiri segala aktivitasnya dengan deforestasi.

Greenpeace juga menyerukan kepada para perusahaan produk merek dan dagang untuk menangguhkan bisnis dengan Wilmar hingga pelanggaran ini diselesaikan sesuai dengan kebijakan ‘tanpa deforestasi, tanpa gambut, tanpa eksploitasi’ (NDPE), dimulai dengan mempublikasikan peta konsesi untuk semua kelompok produsen dalam rantai pasokan kelapa sawit Wilmar.

Terkait deforestasi yang dilakukan oleh Gama, foto dan video udara yang diambil oleh Greenpeace International menunjukkan praktik deforestasi masih aktif terjadi di dua konsesi perusahaan Gama di Papua, Indonesia. “Hasil investigasi kami mengungkap rahasia perusahaan Wilmar. Rupanya selama bertahun-tahun, Wilmar dan Gama telah bekerja bersama dengan modus menggunakan perusahaan Gama dalam melakukan pekerjaan kotor sehingga Wilmar nampak bersih dari praktik deforestasi,” kata Kiki.

“Sekarang kebenaran telah terungkap, dan sekarang CEO Wilmar Kuok Khoon Hong harus segera bertindak untuk menyelamatkan reputasinya. Wilmar harus segera memutus semua pemasok minyak sawit belum dapat membuktikan pasokan sawit mereka bersih dari praktik deforestasi,” tegas Kiki.

Gama merupakan salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit terbesar di Indonesia, didirikan oleh salah satu pendiri Wilmar, Martua Sitorus dan saudaranya Ganda pada 2011. Konsesi Gama dimiliki dan dikelola oleh anggota keluarga Ganda dan Martua Sitorus, yang merupakan Kepala Wilmar dan Wakil Kepala untuk Indonesia.

Pada Desember 2013, Wilmar menjadi perusahaan kelapa sawit pertama yang menerbitkan kebijakan ‘tanpa deforestasi, tanpa gambut, tanpa eksploitasi’ (NDPE)yang diterapkan pada perkebunannya sendiri dan para pemasoknya. Hasil analisis pemetaan dan satelit menunjukkan bahwa Gama telah menghancurkan sekitar 21.500 hektare hutan atau lahan gambut bahkan sejak Wilmar membuat komitmen nol deforestasi.

Wilmar juga memiliki catatan sejarah pernah menghindari tanggung jawab atas pelanggaran hak asasi manusia dan lingkungan dengan penjualan konsesi yang paling kontroversial kepada Gama. Darwin Indigo seorang General Manager Wilmar yang bertanggung jawab mengurus bisnis perdagangan di Indonesia merupakan putra dari salah satu pendiri perusahaan Gama dan Ganda, serta mengelola setidaknya satu perusahaan Gama. Saudara lelaki Darwin yakni Andy Indigo juga mengelola konsesi Gama yang lain.

Analisis data perdagangan menunjukkan bahwa Wilmar terus memperdagangkan minyak sawit dari Gama ke banyak merek terbesar di dunia, meskipun Wilmar sebenarnya menyadari bahwa Gama melanggar kebijakan NDPE yang diterapkan mereka sendiri soal pembukaan lahan hutan.

“Wilmar telah memperdagangkan minyak sawit dari Gama di seluruh dunia, termasuk ke perusahaan produk merek-merek terkenal dunia seperti P&G, NestlĂ©, dan Unilever. Perusahaan produk merek tidak boleh membiarkan penipuan ini berlalu tanpa perlawanan dan tidak punya pilihan selain menangguhkan semua bisnis dengan Wilmar hingga terbukti perusahaan ini hanya memperdagangkan minyak sawit bersih dari produsen yang bertanggung jawab,” kata Kiki Taufik.

Wilmar menyangkal tidak memiliki pengaruh apapun terhadap Gama, meskipun Wilmar mengakui dalam balasan faks kepada Greenpeace International bahwa Gama memang dikelola oleh eksekutif senior Wilmar dan anggota keluarga mereka.

Sektor perkebunan di Asia Tenggara terkenal karena sering menggunakan modus perusahaan cangkang yang dikelola oleh manajer atau anggota keluarga untuk menyembunyikan praktik deforestasi. Bulan lalu, Greenpeace memutuskan hubungan dengan Asia Pulp and Paper (APP), perusahaan kertas terbesar di Indonesia, setelah mendeteksi pengrusakan hutan di dua konsesi yang terkait dengan APP dan perusahaan induknya Sinar Mas Group.

Wilmar berada di dalam dewan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), konferensi dua kali dalam setahun dimulai pada Senin, 25 Juni 2018 di Paris kemarin. Setidaknya satu perusahaan Gama, S&G Biofuel Ltd, juga merupakan anggota RSPO.

Berdasarkan aturan keanggotaan RSPO, perusahaan yang memiliki personel manajemen atau kontrol yang sama harus diperlakukan sebagai satu kesatuan kelompok. Ini sebagai bentuk tanggung jawab Wilmar atas apa yang terjadi di konsesi milik Gama.

Greenpeace menyerukan kepada RSPO untuk menegakkan aturan-aturannya dengan mewajibkan Wilmar dan Gama untuk mendaftar sebagai satu kesatuan kelompok dan menangguhkan (keanggotaan) Wilmar hingga hutan hujan yang dihancurkan oleh perusahaan Gama dipulihkan.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *