Greenpeace: Harga Batubara Setara Nyawa Manusia

Munjiah, 50 tahun, memegang hasil pemeriksaan yang menemukan adanya noda hitam di paru-paru yang diduga kuat disebabkan oleh pencemaran dari asap PLTU Batubara di Cilacap, Jawa Tengah (dok. greenpeace).

Bali, Villagerspost.com – Greenpeace mengungkapkan, batubara bukanlah energi murah. Batubara bahkan energi dengan harga yang sangat mahal tak terhingga karena risikonya adalah bisa mengancam nyawa manusia. Hal itu diungkapkan Greenpeace di ajang Coaltrans, forum pertemuan pemangku industri batubara besar global yang dimulai hari ini, Senin (7/4), di Nusa Dua, Bali.

Acara ini digelar kurang dari seminggu setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan bahwa sembilan dari sepuluh orang di dunia menghirup udara yang terkontaminasi polutan dalam level yang berbahaya. “Meningkatnya kembali penggunaan batubara, gas dan minyak bumi pada 2017, yang artinya tidak hanya meningkatkan emisi CO2 tetapi juga meningkatkan emisi polutan udara beracun, membawa risiko bagi kesehatan masyarakat. Ini harus diatasi segera,” ujar Lauri Myllyvirta, ahli polusi udara Greenpeace.

Polusi udara dari pembangkit listrik tenaga batubara di Asia Tenggara telah berkontribusi pada 20.000 kematian dini per tahun. Jika rencana pembangunan PLTU-PLTU baru berjalan, diperkirakan angka ini bisa meningkat hingga 70.000 dari bermacam penyakit seperti kanker paru-paru, stroke, serta penyakit pernafasan, menurut riset dari Universitas Harvard dan Greenpeace International.

Para pelaku industri fosil saat ini sedang berkumpul, membangun jaringan, dan melakukan kesepakatan-kesepakatan bisnis di sebuah hotel mewah di Bali, pulau indah yang saat ini sedang menghadapi persoalan serius terkait batubara. Beberapa unsur masyarakat di Celukan Bawang sedang berupaya menentang rencana ekspansi PLTU di daerah tersebut, yang akan berdampak pada lingkungan serta sumber penghidupan masyarakat sebagai petani dan nelayan.

Beberapa hari lalu aktivis Greenpeace Indonesia juga menghalau tongkang-tongkang pengangkut batu bara yang secara ilegal memasuki Taman Nasional Karimunjawa. Riset dan dokumentasi yang dilakukan Greenpeace memperlihatkan betapa praktik ilegal ini merusak terumbu karang dan berdampak pada penghasilan nelayan setempat.

“Saat industri batubara berkumpul di Bali untuk menyelamatkan masa depan bisnis mereka, kesehatan dan pencaharian masyarakat Indonesia sedang terancam. Negeri ini tidak layak mendapatkan masa depan yang dibangun di atas batubara. Ini saatnya pemerintah berfihak pada masyarakat dibanding industri fosil, dan segera beralih ke energi terbarukan,” ujar Hindun Mulaika, Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia.

“Lagipula batubara adalah industri yang akan segera berakhir. Tidak hanya kesadaran global akan dampak buruknya, tetapi investor-investor besar mulai enggan menaruh modalnya di sektor ini dalam rangka menghindari risiko aset yang terbengkalai,” jelas Hindun.

Konferensi industri batubara terbesar di Asia yang dihadiri pejabat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ini menunjukan bahwa pemerintah masih memberikan dukungan yang sangat besar terhadap dominasi batubara, yang sudah jelas terbukti menghasilkan polusi tinggi dan dampak sosial ekonomi terhadap masyarakat setempat.

Batubara telah menjadi sumber energi yang ditinggalkan, dan digantikan oleh sumber energi terbarukan di belahan dunia lainnya seperti Amerika dan Eropa. Bahkan negara-negara di Asia TImur seperti China juga telah memanfaatkan tenaga surya dan angin dengan kapasitas yang sangat besar.

Deutsche Bank, bank terbesar di Jerman, telah menyatakan akan menghentikan mendanai proyek batubara sebagai bagian dari komitmen terhadap Kesepakatan Paris untuk menghentikan dampak perubahan iklim. Selain itu, badan pendanaan internasional seperti Bank Dunia, Bank Export Import Amerika Serikat, dan Bank Eropa untuk Rekonstruksi dan Pembangunan, juga memutuskan untuk berhenti berinvestasi di pembangkit listrik tenaga Batubara.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *