Greenpeace: HSBC Ada di Balik Kasus Kebakaran Hutan Indonesia | Villagerspost.com

Greenpeace: HSBC Ada di Balik Kasus Kebakaran Hutan Indonesia

Pembukaan lahan gambut untuk perkebunan sawit PT Andalan Sukses Makmur, anak perusahaan Bumitama Gunajaya Agro Group, di dekat Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Barat (dok. greenpeace/kemal jufri)

Pembukaan lahan gambut untuk perkebunan sawit PT Andalan Sukses Makmur, anak perusahaan Bumitama Gunajaya Agro Group, di dekat Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Barat (dok. greenpeace/kemal jufri)

Jakarta, Villagerspost.com – Greenpeace Internasional hari ini menerbitkan laporan terbaru yang mengungkapkan, bagaimana HSBC, bank terbesar Eropa telah memberikan pinjaman ratusan juta dolar Amerika Serikat ke sejumlah perusahaan kelapa sawit yang merusak hutan di Indonesia. Dalam laporan itu, bertajuk “Dirty Bankers” itu Greenpeace mengungkapkan bagaimana peran HSBC dalam kebakaran hutan Indonesia.

Greenpeace mengungkapkan, sepanjang lima tahun terakhir saja, HSBC telah menjadi bagian dari sindikat perbankan yang mengatur pinjaman senilai US$16,3 miliar dan mencapai hampir US$2 miliar untuk obligasi, kepada enam perusahaan kelapa sawit yang telah menghancurkan kawasan hutan hujan tropis, gambut dan habitat Orangutan di Indonesia.

Enam perusahaan tersebut adalah: Bumitama, Goodhope, IOI, Noble, POSCO Daewoo dan Grup Salim/Indofood. Jurukampanye Senior Hutan Greenpeace Asia Tenggara Annisa Rahmawati mengatakan, selama ini HSBC mengklaim sebagai bank yang terhormat dengan kebijakan yang  bertanggungjawab terkait deforestasi.

“Tapi entah bagaimana kata-kata bagus ini terlupakan ketika menandatangani kontrak. Deforestasi menyebabkan meluasnya kebakaran yang mengancam kesehatan jutaan orang di seluruh Asia Tenggara, dan iklim global kita. Jadi kenapa HSBC membantu dengan miliaran dollar kepada perusahaan-perusahaan ini untuk mengipasi api?” katanya dalam pernyataan tertulis yang diterima Villagerspost.com, Selasa (17/1).

Deforestasi dan penghancuran gambut oleh sektor kelapa sawit dan bubur kertas di Indonesia secara luas telah diakui sebagai akar penyebab kebakaran hutan dan asap. Laporan dari Universitas Harvard dan Columbia memperkirakan lebih dari 100 ribu orang dewasa yang meliputi Asia Tenggara telah mati secara dini dari krisis asap tahun 2015.

Nilai kerugian keuangan sangat besar. Bank Dunia memperkirakan kerugian biaya kebakaran hutan Indonesia tahun 2015 mencapai US$16 miliar, dua kali perkiraan nilai tambah ekspor bruto kelapa sawit Indonesia tahun 2014.

Laporan ini memaparkan pinjaman dan layanan keuangan dari HSBC kepada perusahaan kelapa sawit yang  bertanggung jawab atas: Petama, penghancuran hutan hujan, termasuk habitat orangutan. Kedua, perebutan tanah dari masyarakat setempat. Ketiga, beroperasi tanpa izin legal. Keempat, pelanggaran hak pekerja dan penggunaan buruh anak. Kelima, kebakaran hutan. Keenam, pengeringan dan pengembangan di atas gambut kaya karbon.

Menurut Annisa, banyak dari tindakan-tindakan ini melanggar hukum dan regulasi di sektor perkebunan Indonesia. Memberikan pinjaman kepada perusahaan-perusahaan ini juga berarti telah melanggar kebijakan keberlanjutan HSBC sendiri. “Dukungan keuangan yang disediakan HSBC dan bank-bank internasional lainnya bertolak belakang dengan opini publik dan perusahaan konsumen yang meminta sawit diproduksi secara berkelanjutan,” tegasnya.

Perusahaan-perusahaan sektor kelapa sawit di Indonesia secara sengaja membuat rumit struktur korporat untuk menghindari pemeriksaan. Tapi dengan menganalisa data keuangan perusahaan dan rekening perusahaan, begitu juga dengan penelitian lapangan, Greenpeace Internasional telah melacak mereka yang bertanggungjawab atas kehancuran hutan ini melalui perusahaan induknya ke HSBC dan bank-bank internasional lainnya.

Sementara itu, Nilus Kasmi Seran, masyarakat suku Dayak dan relawan Tim Cegah Api dari Ketapang, Kalimantan Barat mengatakan, krisis asap akibat pembukaan hutan dan gambut setiap tahun telah membahayakan diri dan keluarganya. “Bank dan perusahaan yang mendorong terjadinya krisis tersebut harus bertanggung jawab karena mereka telah merenggut hak asasi kami untuk memperoleh udara bersih. Perusakan lingkungan yang tidak terkendali juga akan memberangus peradaban masyarakat lokal,” ujarnya.

Tahun lalu, International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengubah kategori Orangutan Kalimantan dari “terancam” menjadi “terancam punah”, dan menyebutkan bahwa penghancuran, degradasi dan terkoyaknya habitat mereka’ termasuk  konversi hutan menjadi perkebunan sebagai penyebab utama kepunahan populasi ini.

Greenpeace menganalisa angka yang dirilis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia yang menyebut 31 juta hektare hutan hujan Indonesia telah hancur sejak 1990–hampir setara luas Jerman. “Indonesia kini telah melampaui Brasil sebagai negara dengan tingkat deforestasi tertinggi di dunia, dan hari ini hanya tinggal setengah dari gambutnya yang ditutupi hutan,” pungkas Annisa.

Ikuti informasi terkait kebakaran hutan >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *