Greenpeace: Industri Tidak Bisa Hanya Berkutat di Daur Ulang

Kegiatan audit sampah plastik di Bali oleh aktivis greenpeace (dok. greenpeace)

Jakarta, Villagerspost.com – Greenpeace Indonesia menilai, industri tidak bisa hanya berkutat pada upaya daur ulang dalam penanganan sampah plastik. Jurukampanye Urban Greenpeace Indonesia Muharram Atha Rasyadi mengatakan, berdasarkan sumber daya yang dimiliki, produsen barang kebutuhan sehari-hari (fast moving consumer goods atau FMCG) seharusnya mempunyai kemampuan untuk menciptakan sistem pengiriman alternatif melalui konsep penggunaan kembali dan isi ulang.

“Dengan kata lain, tidak lagi menjadikan skema daur ulang sebagai solusi utama atas peliknya masalah plastik baik di Indonesia maupun dunia,” ujar Atha dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Rabu (20/3).

Pasalnya, daur ulang saja belum cukup bahkan tidak mampu menjadi jawaban yang tepat sampai saat ini. Di negara maju, misalnya, tingkat daur ulang plastik yang dikumpulkan oleh rumah tangga seringkali kurang dari 50%.

“Sebagai contoh, kebijakan NestlĂ© terbaru masih berkutat pada peningkatan komponen kemasan plastik yang bisa didaur ulang. Ini sangat disayangkan mengingat skala bisnis perusahaan yang sangat besar, yang seharusnya mampu menjadi contoh bagi banyak perusahaan untuk mengedepankan reuse dan refill,” ujar Atha

Atha menjelaskan, tanggung jawab produsen sudah tertera jelas dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Khususnya Pasal 15, di mana produsen harus bertanggung jawab atas sampah kemasannya yang sulit atau tidak bisa terurai oleh lingkungan. Hal ini utamanya dapat dilakukan dengan mengubah model bisnis mereka.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan baru-baru ini juga berencana mendorong para produsen untuk menarik kembali sampah plastik yang dihasilkan mereka. “Sebagai bentuk ketegasan atas peraturan yang berlaku, pemerintah harus menerapkan sanksi yang jelas bagi para produsen,” lanjutnya.

Produsen memegang peranan strategis dalam mengurangi sampah plastik yang berada di masyarakat. Perkembangan bisnis mereka cukup pesat seiring dengan peningkatan konsumsi masyarakat. Bisnis sebagian besar perusahaan FMCG tumbuh 1-6% setiap tahun.

Hal ini bisa menjadi indikator sampah plastik yang dihasilkan oleh industri juga semakin besar. Maka semakin tinggi pula risiko kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh sampah plastik. Menurut The World Economic Forum, secara global 32 persen dari kemasan plastik tidak tertangkap di sistem pengumpulan, dan akhirnya menghasilkan dampak yang signifikan terhadap lingkungan dan makhluk hidup, seperti temuan sampah plastik di sejumlah bangkai satwa laut.

“Oleh sebab itu, solusi mengurangi sampah plastik tidak cukup hanya dengan kebijakan kepala daerah yang melarang penggunaan kantong plastik. Kita butuh komitmen serius dari pelaku industri untuk mengubah kemasan dengan menghindari plastik sekali pakai,” Atha menegaskan.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *