Greenpeace Kembali Gelar Unjuk Rasa Damai di Kapal Pengangkut Sawit Wilmar, Stolt Tenacity

Aksi relawan Greenpeace menentang minya sawit merusak hutan yang diangkut kapal Stolt Tenacity di pelabuhan Rotterdam, Belanda (dok. greenpeace)

Jakarta, Villagerspost.com – Relawan dari Greenpeace Belanda menggelar aksi damai di kapal tanker Stolt Tenacity saat akan bersandar di pelabuhan Rotterdam, Sabtu (24/11). Tim aktivis tersebut menambatkan diri di sisi kapal kargo tersebut yang mengangkut produk minyak sawit hasil perusakan hutan, milik perusahaan Singapura yakni Wilmar yang merupakan pedagang minyak sawit terbesar di dunia dan pemasok untuk perusahaan makanan ringan Mondelez.

Mereka telah memasang spanduk dengan pesan ‘Drop Dirty Palm Oil’ sebagai bentuk protes damai terhadap deforestasi hutan di Indonesia yang terjadi di perkebunan kelapa sawit. Lara Wido, yang perempuan asal Riau, ikut terjun dalam aksi di Rotterdam itu. Lara yang juga anggota dari Tim Pencegahan Kebakaran Greenpeace, selama ini menjadi saksi kehancuran hutan di Riau akibat pembukaan lahan sawit dengan cara dibakar

“Di dekat desa saya, perusahaan kelapa sawit membakar lahan untuk membuka lahan perkebunan. Setiap tahun kebakaran hutan dan lahan selalu terjadi. Setiap tahun warga terpapar kabut asap yang mencekik dan pohon-pohon hangus menjadi abu. Sebelumnya saya berada di garis depan untuk memadamkan api, tetapi hari ini saya mengambil tindakan jauh dari rumah untuk memberi tahu Oreo bahwa mereka harus berhenti menggunakan minyak sawit yang berasal dari hasil perusakan hutan,” ujarnya, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com.

Aksi ini merupakan aksi lanjutan, setelah sepekan lalu enam relawan dari Greenpeace International menunda kapal yang sama selama dua hari di dekat Selat Gibraltar. Para pemanjat tersebut ditahan selama 33 jam di kabin oleh kapten kapal, namun dibebaskan tanpa tuntutan hukum apa pun.

Greenpeace menyerukan kepada Mondelez, pembuat biskuit Oreo, untuk memutus hubungan dengan pemasok utamanya, Wilmar, hingga terbukti minyak sawitnya bukan berasal dari produsen perusak hutan atau eksploitasi manusia. Investigasi Greenpeace International mengungkap kegagalan total Wilmar untuk memutuskan hubungannya dengan penggundulan dan pembakaran area hutan. Mondelez adalah salah satu pembeli minyak sawit terbesar di dunia, dan menggunakannya untuk produk terkenal mereka, termasuk Oreo, Ritz, dan Cadbury.

“Minyak kelapa sawit dapat diproduksi tanpa menggunduli dan membakar hutan sesuai janji Mondelez hampir satu dekade yang lalu. Sebaliknya, perusahaan yang membuat 40 miliar biskuit Oreo setahun, masih terus menggunakan minyak sawit yang berasal dari perusakan hutan. Sudah saatnya Oreo memimpin perubahan dengan memberi contoh dan menjauhi Wilmar hingga terbukti bahwa minyak sawitnya terbebas dari deforestasi,” ​kata Koordinator Kampanye dari Greenpeace Belanda Andy Palmen.

Analisis pemetaan terbaru oleh Greenpeace International menemukan bahwa produsen minyak sawit dalam rantai pasokan Mondelez telah menghancurkan 70.000 hektare hutan di seluruh Asia Tenggara dalam dua tahun. Aksi ini adalah bagian dari kampanye Greenpeace International untuk mengakhiri deforestasi dan terkait emisi CO2, perampasan lahan dan penyalahgunaan hak-hak buruh dalam produksi minyak sawit. Deforestasi di kawasan tropis telah menghasilkan lebih banyak emisi gas rumah kaca setiap tahun daripada seluruh Uni Eropa, mengungguli setiap negara kecuali Amerika Serikat dan China.

“Kita harus melindungi hutan tersisa jika kita bersungguh-sungguh membatasi kenaikan suhu hingga 1,5 ° C seperti yang diminta oleh Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) pada bulan Oktober,” tegas Palmen.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *