Greenpeace Luncurkan “Detox Catwalk” Ungkap Aksi Nyata Perusahaan Fashion Global Atasi Pencemaran

Limbah cair dari saluran liar milik perusahaan tekstil mengalir ke anak Citarum (dok. komunitas elingan)
Limbah cair dari saluran liar milik perusahaan tekstil mengalir ke anak Citarum (dok. komunitas elingan)

Jakarta, Villagerspost.com – Greenpeace hari ini meluncurkan “Detox Catwalk”, sebuah platform online yang berisi penilaian sejauh mana upaya merek-merek atau brand fashion besar menghapuskan penggunaan bahan-bahan kimia berbahaya dari rantai suplai mereka demi mengatasi pencemaran air. Inditex (pemilik Zara), Puma dan Valentino bergabung dengan 13 merek lainnya duduk di peringkat “Detox Leader”. Sementara merek olahraga Nike dan LiNing masuk peringkat “Greenwasher” akibat kegagalannya menunjukkan aksi nyata yang kredibel untuk Detox.

“Perusahaan fashion yang telah mengeluarkan komitmen Detox dalam empat tahun terakhir menguasai sekitar 10% pasar busana dan sepatu global. Karenanya kami yakin ini adalah momentum penting dalam menciptakan standar baru dalam fashion ramah lingkungan, membuka data rantai suplai dan pada akhirnya menunjukkan bahwa busana indah bisa dibuat tanpa menyebabkan pencemaran,” ujar Jurukampanye Detox Greenpeace Indonesia, Ahmad Ashov Birry dalam siaran pers yang di terima Villagerspost.com, Kamis (19/3).

Detox Catwalk menilai seberapa jauh perusahaan-perusahaan mengubah komitmennya menjadi kenyataan dengan berbagai kriteria kunci. Termasuk bagaimana kerja yang sudah mereka lakukan untuk menghapuskan bahan-bahan kimia berbahaya dari dalam produk mereka. Selain itu juga proses produksi, serta seberapa jauh mereka membuka informasi-informasi penting seperti informasi bahan-bahan berbahaya dalam limbah mereka kepada publik.

“Kemajuan yang telah dibuat oleh merek-merek fashion besar dalam mengeliminasi bahan kimia berbahaya serta membangun transparansi informasi bahan berbahaya, tidak hanya menjadi berita baik bagi konsumen akan tetapi juga menjadi awal yang baik bagi masyarakat, termasuk yang tinggal di pinggiran sungai seperti di Citarum di Jawa Barat yang menjadi pusat produksi tekstil nasional. Sorotan kini ada pada Pemerintah untuk segera memperkuat regulasi terkait manajemen bahan kimia berbahaya untuk menjamin masa depan yang bebas toksik,” tegas Ashov.

Pentingnya mengatasi segera pencemaran air sangatlah mendeesak dilakukan segera di negara-negara seperti Indonesia, dimana 75% sungai-sungainya tercemar, termasuk oleh limbah industri dan dimana setidaknya 80% masyarakat tidak mempunyai akses kepada air bersih. Banyak diantara masyarakat masih bergantung pada sungai dan sumber-sumber air lainnya. 80% polusi industri di Sungai Citarum yang merupakan sumner disebutkan berasal dari industri tekstil.

“Detox Catwalk memperlihatkan 16 perusahaan fashion yang telah mulai menghilangkan bahan-bahan kimia beracun, termasuk bahan yang bisa mengganggu hormon seperti nonylphenol, phthalates, dan PFC. Mereka juga telah meluncurkan data polusi dari para pemasok mereka lewat platform online independen, semua itu adalah terobosan besar membuat perusahaan-perusahaan yang belum melakukan aksi nyata seperti Nike terlihat sangat jauh tertinggal di belakang,” Ashov menambahkan.

Kampanye Detox Greenpeace yang diluncurkan empat tahun lalu mendesak merek-merek fashion untuk mengeluarkan komitmen menghilangkan seluruh bahan kimia berbahaya pada 2020 dan membuka kepada publik bahan-bahan kimia berbahaya apa saja yang dibuang dari pabrik mereka ke lingkungan sekitar. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *