Greenpeace Luncurkan Situs Pelacak Pencemaran PLTU Batubara | Villagerspost.com

Greenpeace Luncurkan Situs Pelacak Pencemaran PLTU Batubara

Salah seorang warga Batang membentangkan spanduk meminta Presiden Jokowi menyelamakan petani dan nelayan Batang lewat pembatalan proyek PLTU Batang (dok. greenpeace)

Salah seorang warga Batang membentangkan spanduk meminta Presiden Jokowi menyelamakan petani dan nelayan Batang lewat pembatalan proyek PLTU Batang (dok. greenpeace)

Jakarta, Villagerspost.com – Greenpeace Indonesia hari ini meluncurkan sebuah situs online interaktif yang dapat memberikan gambaran tentang pencemaran hasil pembakaran batubara di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di puluhan kota di seluruh Indonesia. Situs ini diberi nama revolusienergi.org yang dapat memberikan informasi kepada warga tentang tingkat polusi udara, risiko kematian dini, serta jumlah kasus penyakit yang diderita akibat pencemaran udara akibat PLTU batubara.

Team Leader Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Hindun Mulaika mengatakan, tujuan dari pembuatan situs ini adalah untuk memberikan gambaran tentang tingkat pencemaran udara akibat polusi dari PLTU Batubara di puluhan  kota besar di seluruh Indonesia. Partikulat-partikulat berbahaya seperti PM 2.5 dan PM 10 (partikulat matter atau partikel dengan diameter kurang dari 2,5 milimeter dan 10 milimeter) yang berasal dari pembakaran batubara dapat menyebar hingga radius 500-1000 kilometer dari lokasi PLTU berada.

“Meskipun pada sebuah wilayah atau kota tidak terdapat PLTU batubara, namun bahaya dari partikulat ini akan tetap mengancam warga yang hidup di kota tersebut,” kata Hindun dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Rabu (27/4).

(Baca juga: Dikepung Tambang Batubara, Kondisi 3 Desa di Kalimantan Hancur)

Hindun menegaskan, situs ini sangat berguna dan mudah digunakan, dimana pengguna hanya perlu memasukkan nama kota tertentu, dan selanjutnya pengguna dapat mengakses data termasuk jenis penyakit serta risiko kematian dini akibat polusi yang berasal dari pembakaran batubara. “Para pengguna dapat membagikan tautan ke laman media sosial mereka, dan menandai kerabat atau teman yang tinggal kota tersebut,” ujarnya.

Peneliti Greenpeace Hilda Meutia menerangkan, situs ini dibuat menyusul peluncuran laporan hasil studi tentang polusi udara akibat PLTU Batubara yang dikeluarkan oleh Greenpeace pada tahun lalu. Dalam laporan tersebut Harvard University melakukan pemodelan suasana atmosfer yang disebut GEOS-CHEM, yang mampu menghitung risiko penyebaran polusi udara akibat PLTU Batubara, dan memprediksi angka risiko kematian dini akibat berbagai penyakit pernapasan seperti Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), jantung iskemik, paru-paru, hingga stroke.

“Banyak anggota masyarakat tidak mengetahui sumber pencemaran udara yang mereka hirup sehari-hari. Pencemaran udara tidak hanya berasal dari asap kendaraan bermotor namun juga bersumber dari PLTU Batubara yang beroperasi saat ini,” kata Hilda.

Penyebaran partikulat pembunuh seperti PM 2.5 yang tidak kasat mata, mengakibatkan berbagai macam penyakit pernapasan yang diderita masyarakat yang hidup di kota-kota besar di Indonesia. “Wanita dan anak-anak adalah kelompok yang paling rentan mengidap penyakit pernapasan ini,” ujarnya.

Indonesia seharusnya tidak meniru model pembangunan di China dan India, dua negara yang saat ini harus menghadapi tingkat polusi udara yang sangat parah dan berbahaya bagi kesehatan rakyatnya karena ketergantungan dua negara tersebut yang sangat tinggi terhadap batubara. “Saat ini, China dan India mulai mengurangi ketergantungan mereka terhadap bahan bakar fosil yang kotor ini, karena kerugian sangat besar yang harus ditanggung rakyatnya akibat kebijakan energi mereka yang keliru,” terang Hilda.

Karena itu, menurutnya, sudah saatnya Indonesia menghentikan ketergantungan yang sangat tinggi terhadap energi kotor batubara, dan segera beralih ke sumber energi terbarukan yang bersih dan berkelanjutan. “Rencana proyek listrik 35.000 Megawatt dimana sebagian besar menggunakan sumber energi batubara akan mengancam masa depan anak-anak Indonesia yang seharusnya bersih dan aman,” pungkas Hilda. (*)

Ikuti informasi terkait pencemaran batubara >> di sini <<

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *