Gugatan PLTU Celukan Bawang, Penggugat Ajukan Bukti Baru | Villagerspost.com

Gugatan PLTU Celukan Bawang, Penggugat Ajukan Bukti Baru

Kapal Greenpeace Rainbow Warrior, bertandang ke Celukan Bawang, dukung warga tolak PLTU batubara (dok. greenpeace)

Jakarta, Villagerspost.com – Greenpeace Indonesia dan masyarakat Bali yang menggugat Surat Keputusan Gubernur Bali Nomor: 660.3/3985/IV-A/DISPMPT tentang Izin Lingkungan Hidup Pembangunan PLTU Celukan Bawang, mengajukan bukti baru untuk memperkuat gugatan mereka. Bukti baru itu diajukan dalam persidangan di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Denpasar, Kamis (19/7) kemarin yang beragendakan penjelasan saksi ahli dari pihak tergugat.

Bukti baru yang diajukan adalah fakta terkait tidak adanya sosialisasi yang menyeluruh pada warga terdampak. “Dari pertemuan yang diadakan warga Desa Celukan Bawang dengan perangkat desa pada Senin (16/7) lalu yang difasilitasi oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) terungkap, pada tanggal 28 Agustus 2016 tidak ada sosialisasi kepada warga, terkait dengan rencana pembangunan PLTU Celukan Bawang tahap 2,” kata kuasa hukum warga dari LBH Bali Dewa Putu Adnyana, dalam siaran pers yang diterima Villagerpost.com, Jumat (20/7).

Dewa mengungkapkan, dua warga yang namanya tercatut dalam berita acara sosialisasi telah mengakui dan menyerahkan pernyataan tertulis bahwa mereka tidak pernah hadir dan tidak menandatangani daftar hadir acara sosialisasi rencana pembangunan PLTU Celukan Bawang berdaya total 2×330 MW. “Sedangkan satu orang lainnya tidak hadir tetapi diminta tanda tangan di rumahnya,” tambahnya.

Dalam persdiangan itu, penggugat juga meminta kepada majelis hakim agar dilakukan pemeriksaan setempat (PS) di Desa Celukan Bawang yang kemudian tidak dikabulkan. “Padahal PS tersebut dinilai sangat penting untuk majelis hakim membuat keputusan yang lebih berkeadilan dengan mengetahui situasi nyata yang ada di lapangan, juga mengkonfirmasi kebenaran bukti-bukti yang diajukan oleh penggugat dan tergugat,” ujar Dewa.

Sidang Kamis kemarin menghadirkan saksi ahli dari pihak tergugat, Gubernur Bali, dan tergugat intervensi, PT PLTU Celukan Bawang, yang beberapa pernyataannya memperkuat gugatan warga. Saksi ahli yang dihadirkan oleh Tergugat Intervensi dari SUCOFINDO, Budi Utomo, mengkonfirmasi bahwa lokasi dan jumlah titik pengambilan sampel air yang selama ini dilakukan untuk mengetahui dampak PLTU Celukan Bawang tahap 1 sepenuhnya ditentukan oleh pihak perusahaan.

Widiatmoko, konsultan independen yang juga dihadirkan sebagai saksi ahli bidang teknologi PLTU mengkonfirmasi bahwa penggunaan teknologi Once-Through Cooling System dipilih dengan pertimbangan ekonomis dan saksi ahli tidak dapat menjelaskan dampak lingkungan dari penggunaan teknologi ini secara menyeluruh. “Teknologi ini bahkan sudah dilarang penggunaannya di beberapa negara bagian di Amerika Serikat dan Kanada,” kata Widiatmoko dalam kesaksiannya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *