H. Mustakim: Keluarga Sejahtera Berkat Perangkap Udang

Mustakim, memeriksa alat perangkap udangnya sebelum dipasarkan (dok. villagerspost.com/suharjo)
Mustakim, memeriksa alat perangkap udangnya sebelum dipasarkan (dok. villagerspost.com/suharjo)

Pangkep, Villagerspost.com – Mulanya, H. Mustakim (48) hanyalah seorang petani biasa yang menggantungkan hidupnya dari hasil budidaya rumput laut. Usaha itu dijalaninya selama puluhan tahun bersama sang istri Hj. Mashuria (42). Namun, usaha budidaya rumput laut itu tak jua kunjung memberikan kesejahteraan bagi keluarga petani asal Desa Pitusunggu, Kecamatan Ma’rang, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan itu.

Musim yang tak menentu, membuat Mustakim sulit untuk bisa mencapai hasil panen maksimal. Gelombang tinggi, kadar air garam yang kadang berlebih, kadang terlalu kurang sering membuat upayanya mengembangkan rumput laut menemui kegagalan atau panen tak maksimal.

Jalan hidup Mustakim mulai berubah ketika dia mendapatkan pelatihan yang merupakan bagian dari program “Beyond Availability” yang dihelat Oxfam bersama Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) yang didukung Yayasan Unilever. Lewat program itu, Mustakim mendapatkan pelatihan pengembangan usaha kreatif untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarganya.

“Saya mendapatkan pelatihan membuat perangkan udang dan menjual perangkap udang agar tak semata menggantungkan hidup pada hasil menjual rumput laut,” katanya kepada Villagerspost.com, Rabu (15/3).

Pelatihan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan keluarga petani rumput laut tentang pentingnya pengelolaan keuangan keluarga (pengelola pendapatan dan pengeluaran). Dengan demikian, ekonomi rumah tangga menjadi lebih baik agar keluarga petani memiiki komitmen untuk menerapkan pengelolaan keuangan keluarga yang baik.

Hal tesebut sudah benar-benar dirasakan oleh Mustakim, semakin hari usahanya menjadi semakin berkembang, iapun menjadi semakin kreatif. Perubahan positif pun mulai terasa pada keluarga Mustakim. Salah satunya adalah penghasilan keluarga yang semakin meningkat. “Saya bisa mendapatkan omset jutaan rupiah dari menjual perangkap udang,” ujarnya.

Mustakim menjual satu set perangkap udang sepanjang 8 meter dengan harga Rp450 ribu. Namun usaha ini tidak dijalankan Mustakim dengan mudah. Awalnya, untuk membuat satu set perangkap udang sepanjang 8 meter, ia mengerjakan selama 1 minggu.

“Itupun saya buat berdasarkan pesanan yang masuk, sehinga seringkali produksi hanya dilakukan sekali dalam semiggu,” katanya.

Tetapi saat ini Mustakim sudah mulai bisa membuat satu perangkap dalam waktu satu hari. Sistem pemasaran sudah mulai dikembangkan selain bisa dipesan langsung oleh warga, Mustakim juga mencoba menitipkannya di toko-toko perlengkapan laut, seperti yang terdapat di kecamatan Sigeri, kecamatan Ma’rang dan kota Pangkep.

Untuk sistem pembayaran, Mustakim menyesuaikannya dengan lokasi. Jika dijual ke masyarakat umum, maka harus dibayar tunai. Namun jika dititipkan di toko maka pembayaran dilakukan setelah semua produk terjual.

Saat ini usaha Mustakim pun semakin berkembang. Dia telah memiliki 4 orang karyawan sehingga usaha tersebut tidak lagi dilakukan seorang diri. Melihat perkembagan usahanya, Mustakim berharap ia bisa selalu diberi kesehatan. “Kesehatan tentu penting agar produksi bisa terus berjalan dan pemasaran akan semakin luas,” pungkasnya.

Laporan: Suharjo, jurnalis warga dari Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *