Hadapi Era Industri 4.0, KKP Dorong Industri Akuakultur Berbasis E-Commerce | Villagerspost.com

Hadapi Era Industri 4.0, KKP Dorong Industri Akuakultur Berbasis E-Commerce

Petambak keramba jaring apung melakukan penggantian jaring (dok. bpbl batam)

Jakarta, Villagerspost.com – Era Industri 4.0 atau revolusi industri ke-4 turut menghadirkan tantangan dan peluang bagi bisnis akuakultur. Untuk menghadapi persaingan perdagangan global yang semakin ketat Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) terus mendorong akuakultur berbasis e-commerce digital.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto mengatakan, teknologi digital akan mengefisiensi mata rantai pasok industri perikanan dan pemberdayaan bagi pembudidaya kecil. “Selama ini distribusi produk perikanan budidaya umumnya melewati rantai bisnis yang panjang mulai dari pembudidaya ikan hingga ke konsumen akhir, akibatnya terdapat akumulasi margin dalam komponen harga akhir yang membebani konsumen,” ujarnya dalam Seminar dan Kick Off Aquatica Asia & Indoaqua 2018 bertema Transform Aquaculture Businnes Into Industry di Jakarta, Kamis (29/8).

Dengan teknologi digital, kata Slamet, pembudidaya ikan dapat memasarkan produknya langsung ke konsumen tanpa melewati rantai pasok yang panjang sehingga biaya transaksi menjadi lebih mudah. “Dengan demikian, akumulasi margin yang sebelumnya terjadi dapat ditekan dan dinikmati oleh pembudidaya ikan dalam bentuk harga jual yang lebih baik, sementara konsumen mendapat harga yang lebih murah,” terangnya.

Slamet memaparkan, ada empat tujuan mengapa KKP mendorong industri akuakultur berbasis e-commerce. Pertama, memperpendek rantai distribusi yang tidak efisien karena mendekatkan produsen ikan dengan pasar ritel (eceran). Kedua, memberikan kepastian harga di pembudidaya ikan dan konsumen.

Ketiga, meningkatkan konektivitas serta menghilangkan batas jarak, ruang dan waktu untuk menyediakan sarana input dan pasar dalam pengembangan industrisasi akuakultur. Keempat, menghadirkan model bisnis akuakultur yang efisien di tengah-tengah masyarakat.

“Teknologi informasi dapat mengefisienkan rantai distribusi, sehingga harga jual di tingkat konsumen lebih murah dari pasar tradisional, serta pemanfaatkan teknologi informasi dalam akuakultur juga dapat digunakan untuk mendapatkan informasi ketersediaan benih unggul, pakan, sarana dan prasarana produksi,” jelasnya.

Lebih lanjut, Slamet menjelaskan, transformasi industrialisasi akuakultur di era industri 4.0 menuju otomatisasi dan digitalisasi harus meliputi beberapa hal. Pertama, transformasi dari berorientasi pada eksploitasi sumberdaya alam (SDA) menunju efisiensi SDA, jasa dan peningkatan nilai tambah dan produktivitas.

Kedua, transformasi dari penggunaan unskilled tenaga kerja menuju penciptaan lapangan kerja yang benar-benar diperuntukkan bagi SDM terlatih sedangkan lapangan kerja untuk unskilled tenaga kerja dapat berkurang. Ketiga, transformasi dari kondisi akses pasar yang terbatas dan daya saing produk yang rendah menuju akses pasar yang terbuka luas (hyper koneksi), berdaya saing tinggi dan manajemen yang efisien.

Industri 4.0 tentunya menjadi ajang baru sekaligus tantangan bagi sub sektor akuakultur, bagaimana menciptakan sistem akuakultur yang efisien berbasis digitalisasi teknologi. “Kita bersyukur, di era digitalisasi saat ini telah lahir banyak sekali startup di kalangan anak-anak muda kreatif termasuk sebagai startup di bidang teknologi digital di bidang akuakultur, dimana mereka mampu menghadirkan model bisnis akuakultur yang efisien di tengah-tengah masyarakat,” tegas Slamet.

Seperti startup InFishta, Crowde, dan Venambak yang mengembangkan financial technology (Fintech) seperti pengembangan model crowfunding bagi berbagai pembiayaan usaha akuakultur, dengan model ini diharapkan akan menarik lebih banyak investasi. “Di sisi lain tentunya akan membantu pembudidaya untuk scale up atau meningkatkkan kapasitas usahanya,” ujar Slamet.

Ada juga startup E-Fishery yang mengembangkan teknologi peralatan atau sarana budidaya seperti authomatic feeder yang mengembangkan teknologi feeder otomatis berbasis android. Dengan teknologi ini, maka kegiatan budidaya akan lebih efisien dan efektif baik waktu, tenaga maupun biaya karena mampu menurunkan FCR.

“Melalui kerjasama antar berbagai pihak, terlebih peran dari startup ini, maka bisnis akuakultur ke depan akan mampu berdaya saing dan tidak ketinggalan dari sektor-sektor lainnya dalam pemanfaatan teknologi digital, dan sudah barang tentu akan mendorong percepatan pemanfaatan potensi ekonomi sumberdaya akuakultur bagi kemajuan perekonomian secara nasional,” terang Slamet.

Untuk diketahui, Ditjen Perikanan Budidaya bersama PT Permata Kreasi Media, Trobos Communication (Tcomm) sebagai Event Organizer juga startup Minapoli, Amoeba PT Telkom akan mengadakan event Aquatica Asia & Indonesian Aquaculture (Indoaqua) pada tanggal 28-30 November 2018 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, mendatang. Event mencakup kegiatan forum bisnis, hacking marathon (hackathon), job fair, startup gallery, expo dan seminar hasil penelitian perikanan.

Melalui penyelenggaraan event tersebut diharapkan seluruh stakeholders akuakultur dapat bertemu, berdiskusi, berbagi informasi, melakukan transaksi bisnis, mencapai kesepakatan-kesepakatan kerjasama dan hal bermanfaat lainnya.

Output yang ingin dicapai dari kegiatan ini adalah untuk, pertama, meningkatkan peluang ekspor di bidang perikanan budidaya. Kedua, sebagai pemacu pertumbuhan investasi di bidang perikanan budidaya bagi daerah-daerah potensial. Ketiga, sebagai akselerasi pertukaran informasi dan teknologi di bidang perikanan budidaya baik lokal maupun global. Keempat, untuk meningkatkan penerapan teknologi yang adaptif dan inovatif oleh pelaku usaha perikanan budidaya. (humas_djpb)

Pada kesempatan yang sama, Thomas Darmawan, Ketua Komtap Industri Pengolahan Makanan dan Protein KADIN Indonesia, sekaligus Ketua Bidang Perikanan APINDO menyampaikan, konsumsi prosuk ikan per kapita di Indonesia tahun 2018 pada sebesar 43,88 kg/kapital/tahun. Sehingga dibutuhkan peran teknologi informasi berbasis e-commerce seperti Go-Food, GoBox, Blibli, Tokopedia, dan lain-lain.

“Untuk menjadi eksportir perikanan yang handal serta Feed to The World (penyumbang makanan bagi dunia), sangat diperlukan peran industri digital untuk menciptakan produk masa depan, seperti ditampilkan produk dengan inovasi baru, produk-produk siap saji dan pengolahan dan pengemasan terstandardisasi,” tambah Thomas.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *