Hadapi Gejolak Harga Pangan, Kementan Bangun Toko Tani | Villagerspost.com

Hadapi Gejolak Harga Pangan, Kementan Bangun Toko Tani

Pasar Desa. Pemerintah akan kembangkan Toko Tani Indonesia untuk redam gejolak harga (dok. denpasarkota.go.id)

Pasar Desa. Pemerintah akan kembangkan Toko Tani Indonesia untuk redam gejolak harga (dok. denpasarkota.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Menghadapi gejolak harga pangan, Kementerian Pertanian bakal membangun sebuah model Toko Tani Indonesia. Nantinya TTI akan menjadi pusat kegiatan jual beli pangan yang lokasinya difokuskan pada daerah yang seringkali mengalami gejolak harga pangan.

Gejolak harga memang kerap terjadi saat musim panen. Ketika itu, biasanya harga yang diterima petani rendah sehingga sebagai produsen, petani mengalami tekanan. Pada saat itulah pemerintah harus melakukan intervensi kebijakan harga.

Sebaliknya, ketika harga melambung tinggi, konsumen yang umumnya berpendapatan rendah mengalami kesulitan untuk mengakses pangan. “Hal ini menjadi tekanan bagi pemerintah untuk mengendalikan harga,” ungkap Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Garjita Budi dalam workshop persiapan Toko Tani Indonesia, Rabu (9/9) lalu seperti dikutip pertanian.go.id.

Berbagai strategi penanganan harga kebutuhan pangan yang telah dilakukan sebelumnya belum bisa mengatasi permasalahan pasokan dan harga pangan. Hingga Agustus 2015, telah dilakukan pemantauan terhadap calon TTI di wilayah Jabodetabek, Bandung dan Semarang.

Sebagian TTI telah berjalan dan TTI lainnya masih dalam proses penjajakan dan belum diverifikasi. Komoditas pangan yang diprioritaskan dalam TTI saat ini adalah beras, minyak goreng dan gula, dan kedepannya akan dikembangkan pada bahan pokok strategis lainnya, seperti daging sapi, cabe dan bawang merah.

“Keberadaan TTI ini diharapkan dapat memperpendek rantai perdagangan pangan sehingga petani sebagai produsen pangan dapat memperoleh marjin keuntungan dan konsumen dapat membeli kebutuhan pangan dengan harga terjangkau,” kata Garjita.

Kegiatan workshop TTI dibuka oleh Kepala BKP, dan dihadiri oleh Perum Bulog serta Tim Gugus Tugas Kementerian Pertanian. Tujuan pertemuan workshop TTI ini adalah menghimpun masukan dari berbagai stakeholder terhadap kerangka pemikiran dan pendalaman materi kegiatan TTI sehingga dapat menghasilkan rumusan teknis yang lebih komprehensif dengan mengakomodir kepentingan semua pihak.

Terkait rencana pengembangan Toko Tani Indonesia ini, Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengajukan anggaran sebesar Rp200 miliar dalam APBN 2016. Dana itu, kata Amran, akan digunakan untuk membangun 1000 unit Toko Tani di seluruh Indonesia tahun depan.

Dalam kesempatan rapat kerja dengan Komisi IV DPR membahas rencana kerja Tahun Anggaran 2016, Amran mengatakan, keberadaan Toko Tani ini sangat penting untuk menjaga harga di tingkat produsen maupun konsumen. Dengan adanya lembaga semacam “Bulog” di tingkat desa ini, Amran berharap, harga pangan bisa dijaga pada level yang menguntungkan petani, namun tak memberatkan konsumen.

“Jadi di seribu Toko Tani ini kita menempatkan komoditas strategis berdasarkan keunggulan komparatif suatu daerah, sehingga bisa memotong rantai pasokan yang selama ini terlalu panjang,” kata Amran di DPR, Senin (14/9).

Toko Tani ini, kata Amran, diharapkan dapat menjadi solusi bagi stabilisasi harga pangan sehingga pemerintah tak perlu menugaskan Perum Bulog melakukan operasi pasar saban kali harga pangan melonjak naik. Tugas itu nantinya akan diambil alih Toko Tani yang akan beroperasi sepanjang tahun.

Operasional Toko Tani ini sendiri nantinya akan dikelola bersama antara Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian dan Bulog. Menurut Amran, jika Toko Tani bisa berjalan, maka rantai distribusi pangan bisa dipangkas.

Dalam operasionalnya, Toko Tani akan membeli bahan-bahan pangan strategis langsung dari petani di sentra-sentra pangan, lalu menjualnya langsung kepada masyarakat, tidak banyak perantaranya. Produsen bisa memasok langsung ke Toko Tani untuk menjaga harga agar tidak menjadi permainan pedagang jika rantai distribusi terlalu panjang. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *