Halangi Penangkapan Kapal Pencuri Ikan, Susi Berang Pada Vietnam | Villagerspost.com

Halangi Penangkapan Kapal Pencuri Ikan, Susi Berang Pada Vietnam

Kapal-kapal Vietnam pelaku pencurian ikan di perairan Indonesia ditangkap aparat KKP (dok. kkp.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti berang atas ulah kapal milik Vietnam Fisheries Resources Surveillance (VFRS) yang menghalangi KRI Bung Tomo saat akan menangkap empat kapal pencuri ikan asal Vietnam. Susi pun menyampaikan protes keras terhadap Pemerintah Vietnam.

“Perbuatan ini selain bukan pertama kali oleh Vietnam Fisheries Resources Surveillance (VFRS), ini dalam menghalangi aparat penegak hukum Indonesia, pada tanggal 19 Februari kapal VFRS ini bernama KN-241 melakukan hal yang sama saat kapal PSDKP (Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan) Hiu Macan 01 menangkap kapal empat Vietnam di Natuna utara,” kata Susi, di Bandung, Senin (25/2).

Protes disampaikan Susi setelah kejadian ditangkapnya empat kapal ikan asing (KIA) asal Vietnam oleh Indonesia pada Ahad (24/2) pagi. Sebanyak empat KIA Vietnam berhasil ditangkap oleh KRI Bung Tomo (TOM)-357 di bagian utara landas kontinen Laut Natuna, Kepulauan Riau. Keempat kapal tersebut dikawal oleh dua kapal VFRS, kapal patroli Vietnam yang dilepaskan oleh TNI AL lantaran melakukan manuver berbahaya.

Melalui Kementerian Luar Negeri, Susi meminta pemerintah Vietnam melalui koridor diplomatik resmi agar memberikan penjelasan terkait dengan insiden tersebut. Atas kejadian tersebut dia mengapresiasi kinerja TNI AL yang telah menjadi garda terdepan terhadap ancaman kapal asing dan menunjukan bahwa Indonesia tidak memberikan toleransi terhadap siapapun yang mencuri ikan di perairan Indonesia.

Susi menganggap jika pemerintah Indonesia hanya menanggapi pencuri ikan dengan tindakan yang lembut, hal itu tidak akan memberikan efek jera akan lebih banyak lagi KIA yang masuk ke Indonesia. “Kalau perlu saya perintahkan untuk langsung ditenggelamkan saja di tengah laut, boleh di laut kita kok,” katanya.

Sebelumnya KRI TOM-357 menangkap empat kapal berbendera Vietnam di perairan Natuna Utara. Keempat kapal tersebut diduga menangkap ikan tanpa izin (illegal fishing). “Keempat kapal itu diduga mencuri ikan dengan alat tangkap trawl di Landas Kontinen Laut Natuna, Indonesia, pada posisi 06 derajat 12 LU-06 derajat 25’50 BT,” kata Susi.

Penangkapan dilakukan pada Minggu (24/2) sekitar pukul 07.40 WIB. Saat itu kapal TNI AL KRI TOM-357 melakukan patroli dan berhasil mengamankan empat kapal Vietnam dengan nomor lambung BV 525 TS bermuatan 1 palka, BV 9487 TS dua palka, BV 4923 TS satu palka, dan BV 525 TS bermuatan kosong.

Selain menangkap empat kapal, KRI TOM-357 juga berhasil mengusir dua kapal Vietnam Fisheries Resource Surveillance (VFRS) milik pemerintah Vietnam. Dua kapal tersebut diduga menjadi pengawal dari empat kapal pencuri ikan yang ditangkap.

Saat itu, kata Susi, kapal VFRS bernama Kiem Ngu 2142124 dan 214263 menerobos masuk ke wilayah zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia dan melakukan manuver membahayakan terhadap KRI TOM-357 yang sedang menggiring empat kapal yang ditangkap ke Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut di Tanjung Pinang, Riau.

“Berdasarkan penelusuran, VFRS merupakan lembaga pemerintah di bawah Kementerian Pertanian dan Pengembangan Daerah Tertinggal Vietnam,” ucapnya.

Menurut Susi, VFRS tercatat memiliki 100 kapal pada 2013 yang berfungsi mengontrol kegiatan perikanan dan menangkap kapal ikan asing yang masuk perairan Vietnam. “Namun mereka (kayaknya) punya tugas tambahan mengawal kapal untuk curi ikan,” kata Susi.

Susi menegaskan, Vietnam sebagai state party dari convention on the internasional for preventing collision at sea 1972 (COLREGS 1972) melanggar Rule 8 COLREGS 1972 yaitu Action to Avoid Collison. Kemudian perbuatan memotong laju KRI TOM-357 menimbulkan risiko keselamatan dari awak kapal patroli KRI TOM-357 yang sedang melaksanakan tugas berdasarkan pasal 73 UNCLOS dan Pasal 66C UU Nomor 31/2004.

“Perbuatan VFRS Kiem Ngu 2142124 dan 214263 merupakan bentuk obstruction of justice (merintangi proses hukum) karena menghalangi KRI TOM-357 yang sedang melaksanakan tugas,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu Susi memaparkan, Kementerian Kelautan dan Perikanan berhasil menenggelamkan 488 kapal “illegal fishing” di perairan Indonesia dari Oktober 2014 hingga Agustus 2018. Diantaranya ada 276 kapal asal Vietnam yang paling banyak ditenggelamkan.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *