Harapan Menuju Indonesia Sehat Mental

Acara seminar dan workshop kesehatan mental masyarakat yang digelar HOPE for Indonesia (dok. hope for indonesia)

Jakarta, Villagerspost.com – Tepat di peringatan hari Kesehatan Mental Sedunia tanggal 10 Oktober 2019 lalu, Kesehatan Mental Indonesia menerima laporan adanya seorang ibu yang hendak melakukan percobaan bunuh diri bersama ketiga orang anaknya. Ibu tersebut diduga mengalami depresi pasca melahirkan dan gangguan emosional, yang seharusnya sudah dirujuk ke psikiater.

Bersyukurlah si ibu tersebut dapat diselamatkan dari tindakan menghilangkan nyawanya. Dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitarnya, sangat membantu ibu tersebut dalam proses pemulihan kejiwaannya. Tanggal 11 Oktober keesokan harinya, sebuah laporan kembali masuk dari seorang Ibu yang mengalami depresi karena banyaknya tekanan hidup. Masih lekat juga dalam ingatan, beberapa waktu lalu, ada seorang mahasiswa strata2 yang gantung diri dan seorang ibu yang membunuh anaknya di Bandung.

Kasus gangguan mental seperti ini memang bak fenomena gunung es di masyarakat kita, yang muncul ke permukaan hanyalah ujung kecil dari timbunan masalah kesehatan mental yang dialami masyarakat. Data WHO terbaru menunjukkan, dalam setahun ada 800 ribu orang yang meninggal di seluruh dunia, akibat bunuh diri. Hal ini dapat dimaknai, ada satu orang yang meninggal karena bunuh diri setiap 40 detik. Dan dari satu kali angka kejadian bunuh diri, terdapat 20 kali percobaan bunuh diri.

Melihat fenomena di atas, lembaga-lembaga di Indonesia yang peduli pada kesehatan mental, berkolaborasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kejadian depresi yang menyebabkan bunuh diri melalui gerakan yang disebut HOPE for Indonesia. Diinisiasi oleh Dandiah Care dan Kesehatan Mental Indonesia, gerakan ini bermaksud meningkatkan kesadaran masyarakat terkait upaya peningkatan kesehatan mental, dengan memfokuskan diri pada isu depresi pada orang tua dengan usia produktif dan generasi Z.

HOPE for Indonesia menyelenggarakan kegiatan di tiga kota, yaitu Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta. Kegiatan di Yogyakarta telah berlangsung tanggal 12 Oktober 2019, berupa workshop Anger Management. Kegiatan HOPE for Indonesia di Bandung dilaksanakan di Hotel Aston Pasteur Bandung tanggal 13 Oktober 2019.

Ada banyak ahli yang terlibat dalam kegiatan HOPE di Bandung. Hadir di antaranya adalah penemu Talents Mapping Abah Rama Royani dan Psikolog Asep Haerul Gani. Acara dimulai dengan sambutan dari ketua pelaksana Dandi Birdy dan Diah Mahmudah, dengan slogan “There is always a HOPE for everyone”.

Ketua Kesehatan Mental Indonesia, Ricky Firmansyah mengingatkan kembali pentingnya kesadaran masyarakat akan kesehatan mental. “Siapkan waktu 20 menit untuk menyatakan bahwa, jika ada yang butuh teman bicara, saya bersedia mendengarkan Anda dan meluangkan waktu untuk Anda,” katanya mengingatkan. Bila setiap orang bersedia meluangkan waktu untuk duduk dan mendengarkan orang terdekatnya yang memiliki masalah, maka harapannya adalah angka terjadinya gangguan kesehatan mental akan menurun.

Acara pagi juga diisi oleh sambutan dari Ketua BKKBN Provinsi Jawa Barat, Dra. Kunkun Dewi Kurniaty. Dia mengingatkan, BKKBN bukan hanya mengurus program Keluarga Berencana, namun juga menangani peran keluarga agar dapat membantu terbentuknya masyarakat yang sehat mental. Hadir pula Aria Siregar, ketua Himpunan Psikologi Indonesia regional Jawa Barat yang mengapresiasi semangat kolaborasi yang diusung HOPE.

Dalam kesempatan itu, Rama Royani memaparkan data hasil riset Talents Mapping (tool pemetaan bakat) pada 18.000 Gen Z. Hasilnya didapati, generasi Z membutuhkan tugas (alasan hidup) yang jelas serta spesifik yang sesuai dengan bakat dan kekuatan diri agar hidupnya merasa lebih produktif dan bermakna.

Sesi berikutnya dilanjutkan oleh Psikolog Asep Haerul Gani yang menyampaikan 4 ciri orang sehat mental mengacu pada definisi WHO terbaru. “Yaitu orang yang merealisasikan potensi diri, orang yang bekerja produktif, tangguh terhadap tekanan, dan berkontribusi terhadap masyarakat,” paparnya. Asep juga memaparkan pengaruh media sosial pada kesehatan mental. “Orang sehat mental harus menggunakan kemampuan terbaiknya ketika berselancar di media sosial,” tegasnya.

Kelas siang dibagi dua dengan peserta pasangan suami istri dan generasi Z. Kelas pasangan membahas tentang Baby Blues dan depresi pasca melahirkan, yang diisi oleh Psikiater Dokter Untung Sentosa, Sp.Kj, M.Kes dan Ayah ASI, Idzma Mahayattika.

Dokter Untung menyatakan pentingnya segera melaporkan diri dan orang terdekat ke tenaga kesehatan saat mendapati terjadinya gangguan emosional. “Gangguan ini dapat ditandai dengan beberapa gejala, di antaranya menangis terus menerus, merasa hebat (waham), mendengarkan suara atau penglihatan yang tidak ada sumber konkretnya (halusinasi), atau pikiran cepat beralih,” ujarnya.

Sementara Idzma memaparkan mengenai pentingnya peran mendampingi pasangan pasca melahirkan. “Jumlah kejadian baby blues dan depresi pasca melahirkan pada ibu, sebenarnya dapat jauh berkurang dengan adanya dukungan suami,” ujarnya.

Di kelas lainnya yang berisi peserta generasi Z, praktisi Talents Mapping Nisrina Rizkia, psikoterapis Hena Rustiana, dan Datuk Fitra memandu topik yang membahas tentang Melejitkan Potensi generasi tersebut. Peserta diarahkan untuk memfokuskan diri dengan mengembangkan kekuatan mereka, dan menyiasati kelemahan mereka dengan lebih banyak berkolaborasi. Selain itu peserta diberikan keterampilan mengelola emosi dan Psychological First Aid.

Acara ditutup dengan workshop Anger Management oleh Psikolog Diah Mahmudah dan Dandi Birdy, dengan mengusung slogan: “Control you anger, before it control you”. Disini dikupas beragam kasus akibat fatalnya tidak mampu mengelola marah, yang dilengkapi dengan pemaparan teori dan ditutup dengan lamgsung praktek self healing therapy juga teknik relaksasi.

Rangkaian kegiatan HOPE for Indonesia berikutnya akan diadakan hari Sabtu, 20 Oktober 2019 ini di Hotel Sahati Pejaten Jakarta. Acara yang akan datang akan dihadiri oleh Abah Rama Royani, Ricky Firmansyah, Psikolog Herdyan Loberto, Psikiater dr.Rama Giovani, Sp.Kj, ibu Melly Kiong, dengan kelas kecil yang diisi Psikolog Ine Indriani, Dr.Rena Latifa, Rully Mujahid, Hena Rustiana, dan mini workshop Anger Management dan Self Healing Therapy oleh Psikolog Diah Mahmudah dan Dandi Birdy.

Untuk donasi acara ini dan mendukung gerakan HOPE for Indonesia, agar lebih banyak lagi anak remaja dan keluarga yang sadar akan kesehatan mental, dapat mengirimkan dana ke rekening BCA a.n. Maryama Amany Khansa no.7772163676.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *