Harga Anjlok, Petani Kopi Gayo Tak Lagi Tanam Kopi | Villagerspost.com

Harga Anjlok, Petani Kopi Gayo Tak Lagi Tanam Kopi

Maharadi di kebun kopi miliknya (dok. pribadi)

Takengon, Villagerspost.com – Harga kopi yang terus menerus mengalami penurunan, membuat petani kopi Gayo di tiga kabupaten penghasil kopi Gayo di Aceh, mulai beralih ke tanaman lain. Para petani beralasan, jika tetap bertahan menanam kopi, mereka akan jatuh ke lembah kemiskinan.

Salah seorang petani kopi Gayo Maharadi, mengaku khawatir dengan turunnya harga kopi semenjak Covid-19 melanda dunia. “Panen di Tahun ini banyak petani kopi di kawasan Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues merugi. Dampak turunnya harga kopi sangat berpengaruh terhadap kebutuhan petani kopi,” kata Maharadi, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Rabu (13/1).

Maharadi mengungkapkan, hasil musim panen selama dua bulan ini, membuat petani kopi menjadi susah. Harga kopi yang sebelum pandemi berada di kisaran harga Rp10.000 sampai Rp12.000 ribu per-bambu (setara 1,2 kilogram), namun setelah pandemi harga menjadi Rp6000, bahkan Rp5000 per-bambu.

Harga ini sangat merugikan petani, sebab petani harus merelakan biaya petik senilai 2000-2500 ribu rupiah per-bambunya,” jelas Maharadi.

“Hitungannya sudah mendekati bagi dua hasil dengan jasa petik. Belum lagi petani harus mengeluarkan biaya perawatan dan pemupukan. Tentu harga ini tidak adil bagi petani,” tambahnya.

Jika terus berlangsung, kata dia, turunnya harga kopi ini bisa menjadi fenomena yang bakal membelenggu keturunan petani kopi Gayo. “Fenomena ini saya sebut sebagai¬†coffee farmer circle¬†atau lingkaran siklus petani kopi,” jelas Maharadi.

“Meskipun petani di sini pemilik kebun dan petani, kalau dibiarkan belenggu kemiskinan ini akan menjadi masif. Bisa saja anak petani kopi di Gayo akan susah melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi,” ujarnya.

Sementara, di sisi lain, kata Maharadi, pengusaha lokal dan luar negeri tidak merasa rugi seberapa pun nilai harga kopi. “Karena mereka pebisnis dan pengusaha memang jadi tidak mengenal kata rugi,” kata Maharadi. Pasalnya, meski harga di petani jatuh, harga kopi yang disajikan di cafe-cafe dan restoran, faktanya, tetap tinggi.

Oleh karena itu, dia menyarankan sebaiknya petani kopi beralih saja ke komoditas yang lain. “Petani harus realistis melihat kondisi pandemi ini. Belum ada jaminan harga kopi akan normal kembali dalam beberapa tahun ini. Kalaupun masih dipertahankan, pengeluaran akan lebih banyak di pemupukan, dan perawatan,” terang Maharadi.

Jika para petani kopi Gayo sejahtera dengan lahannya, petani akan cenderung mempertahankan. Sebaliknya, jika tak terjamin, petani akan mencari nilai ekonomi lebih baik. “Sikap ini yang harus dipilih petani,” tegasnya.

Menurut Maharadi, semua pilihan tersebut ada di petani kopi Gayo untuk menentukan sikap di masa sulit ini. Petani kopi Gayo harus membuka mata dan beradaptasi pada tanaman lain yang potensi pasarnya bagus untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Untuk diketahui bersama, jumlah masyarakat petani yang terlibat dalam usaha Kopi Gayo di tiga kabupaten, yaitu Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues mencapai 78.624 KK, dengan luas lahan 101.473 hektare. Total produksi kopi Arabika Gayo mencapai 61.761 ton per tahun, dengan rata-rata produktivitas 773 ton/hektare.

Berdasarkan data jumlah produksi kopi dari dua wilayah Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah adalah 66,249,275 ton/tahun, dengan asumsi produksi per bulan sebanyak 5.520,77 ton. Saat ini yang sudah terealisasi berdasarkan estimasi di dinas perdagangan Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah selama kurun waktu Januari sampai dengan April 2020 adalah 22,083 ton. Sedangkan belum terealisasi terhitung dari bulan Mei sampai dengan Desember 2020 sebanyak 44,160 ton.

Yang menjadi masalah, menurut Maharadi, belum ada kesepakatan pembelian dari buyer luar negeri, hingga berdampak turunnya harga kopi Gayo. Selain itu kebutuhan industri, distribusi, transportasi dan logistik juga menjadi kendala saat ini.

Selain itu saat itu saat pengepul kopi kesulitan untuk menjual stok kopi yang sebelumnya di kumpulkan dari petani. “Alasan inilah kemudian menjadi dasar petani kopi harus beralih ke tanaman lain,” jelas Maharadi.

Maharadi mengatakan, yang lebih ironi adalah, Pemerintah Provinsi Aceh dan dua Pemerintah Kabupaten penghasil kopi Gayo, justru terkesan mengabaikan penderitaan petani Kopi. “Mereka terkesan mengabaikan petani yang sesungguhnya yang selama ini mengharumkan nama daerah,” ujarnya.

Petani kopi selama ini menjadi andalah mengangkat perekonomian daerah. Dari jumlah produksi dan estimasi nilai ekonomi, petani dari ketiga kabupaten/kota penghasil kopi Arabika Gayo ini, bisa menyumbangkan devisa hingga sebesar Rp13,3 triliun per tahun. Namun di sisi lain, arah kebijakan Pemerintah Provinsi Aceh tidak berpihak kepada petani kopi.

Contohnya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) 2021 sebesar Rp16,9 triliun, tidak ada yang dianggarkan untuk berpihak kepada petani kopi di Gayo. “Tidak ada diberikan stimulus mengerakan ekonomi kami,” ujar Maharadi.

Gubernur, Bupati, DPRA, DPRK mereka abai terhadap penderitaan kami. Mereka menipu kami dengan janjinya. Salahkah kami menjadi petani yang tak kaya dan miskin rezeki ini,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *