Harga Bawang Putih Melonjak, Diduga Ada Permainan | Villagerspost.com

Harga Bawang Putih Melonjak, Diduga Ada Permainan

Bawang putih di pasar tradisional (dok. pemprov jabar)

Jakarta, Villagerspost.com – Tingginya harga bawang putih di pasaran dinilai merupakan sebuah fenomena yang tak wajar. Harga bawang putih yang menyentuh angka Rp60 ribu dinilai tak masuk akal. Pasalnya, meski ada isu penghentian impor dari China, sebelumnya sudah dilakukan impor bawang putih dalam jumlah yang cukup besar.

Anggota Komisi IV DPR RI Andi Akmal Pasluddin menduga ada permainan spekulan dibalik melonjaknya harga bawang putih ini. “Tahun lalu kan kita sudah impor bawang putih cukup besar, dan ini mestinya masih ada 133 ribu ton bawang yang putih yang tersebar di gudang-gudang pedagang. Mestinya janganlah menahan-nahan stok ini demi mengerek harga dengan isu menakutkan (virus Corona),” kata Akmal, dalam siaran persnya, Selasa (11/2).

Akmal juga mempertanyakan mengapa begitu cepat harga bawang putih naik akibat isu penghentian impor dari china untuk mencegah virus Corona. “Tidak sewajarnya bawang putih ini naik dengan alasan virus Corona,” tegasnya.

Politikus PKS itu mengatakan, penghentian impor bawang putih dari China saat ini sudah sangat tepat. Tapi menurutnya, tidak wajar harga bawang putih yang biasanya rata-rata Rp20 ribu per kg, kini melonjak hingga Rp60 ribu kg, bahkan hingga Rp68 ribu per kg.

Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) pada hari Minggu (9/2) merilis data harga bawang putih di Provinsi DKI Jakarta sudah mencapai Rp68.350 per kg, di Kalimantan Timur mencapai Rp59.000 per kg, dan di Yogyakarta mencapai Rp58.750 per kg. Akmal menyatakan, mestinya masih ada pasokan 133.000 ton bawang putih hingga Maret tahun 2020 ini yang merupakan sisa impor tahun 2019 lalu.

Menurutnya, Pemerintah mesti turun tangan, menghukum pedagang nakal dengan mencabut izinnya jika masih bermain-main menyengsarakan rakyat. “Perekonomian kita ini sudah sangat rapuh. Banyak ujian bagi rakyat kita mulai dari pertumbuhan ekonomi nasional yang minim, iklim investasi yang buruk, UMKM-UMKM banyak yang gulung tikar, dan segala bencana alam yang terjadi di mana-mana. Jangan ada lagi segolongan orang yang mencoba membuat rakyat kita makin sengsara dengan mempermainkan harga komoditas yang dipakai masal,” tegasnya.

Akmal menekankan kepada Kementerian Pertanian, melalui Direktorat Jenderal Hortikultura agar melakukan komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk aparat sehingga stok bawang putih yang ditahan oleh segelintir orang dapat ditelusuri. Menurutnya, kelangkaan komoditas bawang putih ini sengaja diciptakan dengan mempermainkan supply and demand. Koordinasi dengan Bulog juga penting dilakukan agar segera melakukan operasi pasar.

Para importir dan para pedagang besar harus dipaksa melepas stoknya sehingga ada penurunan yang menjangkau daya beli masyarakat. “Penghentian impor bawang putih ini seharusnya berdampak jangka panjang. Jangka Pendek mestinya tidak terpengaruh karena stok masih ada berdasar data resmi Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian,” ujarnya.

“Penjarakan saja para pedagang yang sengaja menimbun stok komoditas dengan tujuan menaikkan harga. Karena aktivitas para spekulan model begini yang selama ini merusak tatanan bernegara kita,” pungkasnya.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *