Harga Cabai Makin Pedas, Petani Desa Pucuk Jadi Jutawan

Ilustrasi perkebunan cabai rakyat (dok. pemkot malang)

Jakarta, Villagerspost.com – Pedasnya cabai di pasaran membawa berkah tersendiri bagi para petani cabai di Desa Pucuk, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Para petani cabai di Desa Pucuk, mendadak jadi jutawan. Kini, mereka tak hanya mampu membangun rumah, tetapi juga membeli mobil dan motor dari hasil panen cabai.

Salah satu petani cabai, Umiyati mengaku, dirinya bisa membangun rumah sejak satu bulan terakhir dari hasil panen cabai. “Satu bulan terakhir, saya bisa mendapatkan uang hingga 15 juta rupiah per minggu, setiap kali panen,” ujarnya, Selasa (30/3).

Umiyati mengaku, harga cabai hasil panennya, saat ini dihargai sebesar Rp90 ribu per kilogram. Bahkan, dia pernah merasakan harga hingga Rp100 ribu per kilogram. “Tetapi saat ini harganya sudah turun, “ujar Umiyati.

“Saat ini, harga tertinggi berada di angka Rp90 ribu per kg dan terendah di angka Rp65 ribu per kg,” tambahnya.

Listiyanto, petani cabai yang memiliki luas lahan mencapai satu hektare, mengaku bisa menghasilkan sepuluh kali panen cabai. Dengan harga saat ini, dia bisa menghasilkan uang hingga mencapai Rp100 juta. Listyanto mengaku, uang tersebut langsung dia pakai untuk membeli mobil. “Beli mobil dengan sepuluh kali panen, harga cabai macam-macam,” ujarnya.

Cabai hasil panennya, dihargai beragam. Tertinggi Rp90 ribu per kg, dan terendah Rp70 ribu per kg. “Ya masih lebih baik dari dulu paling murah 5 ribu 4 ribu, sekarang naik terus bisa beli mobil dua mingguan dengan luas lahan 800 meter persegi,” ungkap Listiyanto.

Kepala Desa Pucuk Nanang Sudarmawan bersyukur harga cabai petani di desanya bisa dihargai tinggi. “Alhamdulillah sejak harga cabai mahal perekonomian warga meningkat. Banyak dibelikan barang-barang seperti sepeda motor, setahu saya ada puluhan sekitar 30-50 motor. Paling banyak jenis motor matic dan ada juga beli mobil,” ujarnya.

Warga desa, kata Nanang, membeli puluhan motor dan mobil secara kontan dari hasil keuntungan panen cabai, saat harga menembus Rp90.000-Rp 95.000 per kilogram di tingkat tengkulak atau pengepul.

Menurut Nanang, paling banyak petani cabai yang memborong kendaraan motor berada di Dusun Pucuk lantaran wilayah lebih luas dan mayoritas penduduknya adalah petani cabai. “Paling banyak di Dusun Pucuk petani cabai yang beli kendaraan. Beberapa ada yang merenovasi atau membangun rumahnya dari kayu jadi permanen,” jelasnya.

Di Desa Pucuk, hampir 95% dari total sekitar 1.100 kepala keluarga (KK) yang tersebar di lima dusun seperti, Dusun Wotgaru, Dusun Pucuk,Dusun Brejel Lor, Dusun Brejel Kidul, Dusun Kwarigan, memang bekerja sebagai petani cabai. Kini dengan makin pedasnya harga cabai, mereka beramai-ramai membeli hewan ternak, perhiasan, kendaraan roda dua, roda empat, bahkan renovasi rumah.

Pemerintah Desa Pucuk menyambut antusias saat warganya mendapat rezeki berlimpah dari laba penjualan si pedas tahun ini. Kenaikan harga cabai ini, kata Nanang, dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan petani cabai di Dawarblandong.

“Alhamdullilah tahun 2021 ini masyarakat Desa Pucuk panen cabai banyak, jadi hampir setiap hari beli sepeda motor. Pemdes sangat senang dengan hasil pertanian masyarakat di Desa Pucuk jadi petani bisa makmur,” tegas Nanang.

Dia menjelaskan, harga cabai tahun 2021 ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kali ini sangat tinggi, dan bertahan hampir dua bulan. Mulai dari harga Rp 50.000 di awal panen Februari lalu, terus merangsek naik hingga mencapai Rp95.000.

Selain itu, minimnya ketersediaan cabai di luar daerah membuat petani di Kecamatan Dawarblandong menjadi pemasok. Lantaran, di Kecamatan Dawarblandong yang hampir sebagian mata pencaharian warganya bertani memiliki hasil panen yang melimpah kali ini.

Pengiriman pun dilakukan, hingga Kota Semarang, Surabaya, Gresik bahkan pulau Bali. “Sekali panen memperoleh dua sampai tiga kuintal. Itu setiap seminggu sekali kalau dikalikan sekitar Rp24 juta dan bisa panen bisa sampai 10-12 kali satu petani dikirimnya justru keluar,” papar Nanang.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *