Harga Naik, Kementan Klaim Produksi Jagung 2018 Surplus | Villagerspost.com

Harga Naik, Kementan Klaim Produksi Jagung 2018 Surplus

Menteri Pertanian Amran Sulaiman usai acara panen jagung. DPR sayangkan Bulog beli jagung impor ilegal (dok. distanak.bantenprov.go.id)

Jakarta, Villagerspost.com – Kementerian Pertanian mengklaim, produksi jagung nasional hingga akhir tahun 2018 aman, bahkan surplus, meski harga di pasaran naik. Produksi jagung diperkirakan mencapai 30,05 juta ton hingga akhir tahun ini. Angka tersebut menunjukkan adanya peningkatan produksi sebesar 12,55 persen dalam lima tahun terakhir.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Gatot Irianto mengatakan jumlah jagung hingga akhir tahun melebihi kebutuhan, karena jumlah konsumsi di tahun 2018 diperkirakan hanya mencapai sebanyak 15,56 juta ton. “Produksi jagung itu 2017 diperkirakan sampai akhir tahun 30,05 juta ton pipilan kering. Sedangkan konsumsi itu 15,56 juta ton jadi masih ada surplus,” kata dia di dalam konferensi pers, di Jakarta, Senin (1/10).

Dari jumlah produksi tersebut, Gatot memaparkan, produksi jagung tertinggi berada di bulan Februari yaitu mencapai sebanyak 4,29 juta ton dari luas panen sebesar 859 ribu hektare. Sementara produksi terendah diperkirakan terjadi di bulan November yaitu hanya mencapai sebesar 1,52 juta ton. Untuk bulan Oktober ini, Gatot juga memperkirakan akan terjadi panen raya di 35 kota yang akan menambah jumlah produksi hingga mencapai 600 ribu ton lebih.

Terkait surplus produksi, Gatot menyatakan, komoditas jagung yang berlebih diekspor ke luar negeri. Dia mengungkapkan, ekspor jagung mengalami peningkatan ekspor dibanding tahun 2017 sebanyak 1.700-an ton menjadi 261 ribu ton lebih, dengan negara tujuan ekspor adalah Filipina dan Malaysia.

Sementara itu, terkait kenaikan harga jagung meski diklaim produksi surplus, Gatot mengatakan, saat ini harga jagung tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah pasokan. Namun juga, dipengaruhi beberapa hal lain, yaitu akses dan keterjangkauan. Dengan begitu, hukum ekonomi tidak berlaku untuk kondisi ini.

“Yang di Jawa memang jualannya bagus dan permintaan tinggi maka harga naik. Tetapi ada daerah lain yang infrastruktur belum terpenuhi sehingga biaya produksi kan harga tinggi,” jelasnya.

Diakui Gatot, saat ini harga jagung mengalami peningkatan sejak April hingga September yang mencapai Rp4.150 per kilogram (kg) di tingkat petani. “Jadi ini bukan masalah intervolume produksi tetapi juga dipengaruhi ketersediaan, keterjangkauan, dan ketersediaan,” sambung dia.

Lebih lanjut, Gatot mengungkapkan agar daerah produksi jagung bisa memiliki infrastruktur yang memadai. Dengan begitu, harga jagung bisa jauh lebih terjangkau untuk masyarakat. “Saya kira mohon dibantu supaya dukungan infrastruktur dibantu prioritas pembangunan karena nggak semua dapat akses baik jadi bisa lebih terjangkau,” paparnya.

Sebelumnya, Direktur Serealia, Ditjen Tanaman Pangan Kementan, Bambang Sugiharto juga menyatakan, berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS) disimpulkan produksi dan pasokan jagung tahun 2018 surplus sebesar 12 juta ton pipilan kering (PK). Perhitungan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menyimpulkan realisasi luas tanam bulan Juni-September 2018 mencapai seluas 1,31 juta hektare, dengan perkiraan panen bulan September-Desember seluas 1,26 juta hektare.

Dari perhitungan tersebut, diprakirakan produksi yang dihasilkan sebesar 7,18 juta ton PK. Dari sisi konsumsi, diperkirakan pada bulan tersebut kebutuhannya mencapai 5,13 juta ton PK yang terdiri untuk konsumsi langsung, industri pakan, peternak layer, industri pangan lainnya dan produksi benih.

“Artinya dari hitungan itu saja, kita masih ada surplus 2,05 juta ton PK di periode bulan September-Desember. Kondisi tersebut menunjukkan suplai jagung akan tetap aman sampai akhir tahun,” tegas kata Bambang.

Bambang mengatakan, pemantauan di lapangan posisi panen besar sudah mulai terjadi di berbagai daerah antara lain Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Gorontalo. Bahkan, survei bersama tim satgas pangan dengan tim Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan pada awal September menunjukkan panen sudah mulai terjadi besar-besaran di Kabupaten Bantaeng dan Jeneponto.

Panen di Sulsel diperkirakan akan mencapai 25.000 hektare di bulan September ini. Total produksi September di Sulsel diperkirakan mencapai 87.000 ton. Sedangkan di Jawa Timur Oktober-November panen jagung diperkirakan akan mencapai berturut turut 79.000 ha dan 111.000 ha. Total produksi Jawa Timur di dua bulan ke depan diperkirakan akan mencapai 320 ribu ton dan 699.000 ton.

Menurut perhitungan Kementan, dari data SP BPS-Percepatan Penyediaan Data (PPD) yang di update setiap bulan, periode September-Oktober, dipredikasikan akan ada panen seluas 540 ribu hektare. Panen jagung di bulan September tersebar di beberapa wilayah sentra seperti Tuban, Sumbawa, Janeponto dan Bantaeng.

Sebenarnya panen dan produksi jagung berlangsung sepanjang tahun. Siklus tahunan produksi jagung menunjukkan bahwa puncak panen utama terjadi pada bulan Februari-April, puncak panen ke dua pada Juli-Agustus dan puncak panen ke tiga pada Oktober-Desember awal. “Pemantauan tim dari Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menunjukkan panen jagung akan meluas lagi pada bulan Oktober hingga awal Desember. Periode ini merupakan puncak panen ke 3 dalam tahun ini,” ungkap Bambang. “Pengamatan kita selama ini juga menggunakan drone sehingga benar-benar dapat terpetakan secara utuh sebaran luas pertanaman jagung”, ungkap Bambang lebih lanjut.

Besarnya produksi jagung ini juga didorong oleh pengalokasian 2,8 juta hektare benih jagung premium telah. Sampai Bulan Agustus pertanaman jagung sudah mencapai 3,02 juta hektare, dimana 16,61% diantaranya adalah program bantuan Kementan. “Kekeringan yang terjadi saat ini juga tidak menjadi kendala pada pertanaman jagung, karena konsentrasi penanaman saat ini pada lahan-lahan bekas sawah yang masih memiliki kelembaban cukup untuk ditanam jagung,” tambah Bambang.

Terkait kenaikan harga jagung, Bambang mengklaim, harga jagung di lapangan juga tidak sebesar yang banyak diberitakan. Berdasarkan informasi dari Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan (PPHTP) Gatut Sumbogodjati, pada Bulan September harga jagung hanya sekitar Rp3.691 bahkan 3 bulan yang lalu harga jagung sempat turun di Provinsi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara hingga Rp2.887.

Bambang meyakini, harga jagung yang dinilai meningkat di akhir-akhir ini dinilai bukan karena kekurangan stok. Karena dari harga di tingkat petani tersebut, ditambahkan dengan biaya processing dan penyusutan bobot akibat pengeringan sebesar 15 persen maka harga jagung di pengguna akhir tidak lebih dari Rp 4.250 per kg.

Hal ini menunjukkan disparitas harga di petani dan di industri yang menjadi indikasi diperlukannya pembenahan rantai pasok jagung. “Persoalan jagung bukan hanya masalah produksi. Kenapa pada saat harga tinggi banyak yang komplain masalah produksi. Padahal jelas-jelas data menunjukkan produksi kita surplus. Jadi yang harus kita garisbawahi adalah persoalan konektivitas sentra produksi ke pengguna jagung yang memusat di beberapa provinsi saja,” tegas Bambang.

Untuk mengatasi hal tersebut, Kementan berinisiatif menyediakan 1.000 alat pengering (dryer) untuk pengolahan pascapanen, agar jagung bisa disimpan dan ditransportasikan dengan baik sehingga bisa meminimalisir terjadinya disparitas harga. Di Indonesia kapasitas pengeringan industri pakan masih rendah karena sebagian masih belum memiliki dryer atau ruang penyimpanan yang cukup besar.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *