Harga Udang Merosot, Penyakit WFD Merajalela, Petambak eks Dipasena Menjerit

Petambak eks Dipasena membahas isu kemandirian bersama Menteri KKP Susi Pudjiastuti (Dok. Dipasena)
Petambak eks Dipasena membahas isu kemandirian bersama Menteri KKP Susi Pudjiastuti (Dok. Dipasena)

Jakarta, Villagerspost.com – Para petambak udang di Pesisir Utara Lampung menjerit lantaran harga udang terus merosot dan penyakit udang yaitu white feses desease (WFD) tengah merajalela. Penderitaan para petambak mandiri eks Dipasena ini semakin menyayat mengingat mereka beberapa bulan lalu justru baru dikunjungi oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Susi saat itu berjanji membantu para petambak.

Kini di tengah penantian janji-janji Susi yang tak kunjung terealisasi, pasca kunjungannya ke bumi dipasena beberapa bulan ribuan keluarga petambak mengeluhkan kondisi usaha budidaya yang mereka jalani. Mengelola tambak udang bagi mereka mulai kurang ekonomis ketika serangan penyakit udang WFD mewabah, ditambah lagi berlakunya kenaikan harga pakan sebesar Rp250 per kilogram, plus merosotnya harga udang yang kini hanya Rp53.000/Kg.

Arie suharso, salah seorang petambak menuturkan bahwa penurunan harga udang kali ini cukup drastis. Dalam seminggu udang turun hingga Rp10 ribu. Sementara informasi harga udang di luar negeri masih cenderung stabil.

“Kami sudah tidak harapkan apapun dari pemerintah dalam merevitalisasi aset eks dipasena, sekarang semua kami kerjakan secara mandiri. Masa iya urusi harga udang saja pemerintah tidak bisa, jangan cuma sebut target,” ujar Arie kepada Villagerspost.com, Jumat (5/6).

Arie pun menambahkan bahwa kondisi seperti ini biasanya dimaklumi oleh petambak, namun melihat informasi harga udang diluar yang cenderung stabil, dia menilai bahwa ada ketidakberesan alur produksi di dalam negeri. Sementara itu para pengepul lokal mengatakan bahwa saat ini pabrik-pabrik tengah di penuhi oleh udang-udang kiriman dari perusahaan besar dari Sumatera Selatan dan Lampung yang seharusnya langsung mengekspor hasil panen para plasmanya.

“Kondisi fakta produksi, operasional dan tantangan penyakit WFD yang kini tengah di hadapi para petambak udang, sungguh berbalik arah dengan target produksi yang digemborkan oleh kementerian kelautan perikanan, yang menyampaikan bahwa tahun ini produksi udang akan naik 32% mencapai 785.000 ton,” pungkas Arie.

Sebelumnya, pada awal Maret lalu, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengunjung petambak mandiri eks Dipasena di Rawajitu, Lampung. Dalam kunjungan kerja yang sekaligus menghadiri acara hari kebangkitan petambak itu, Susi Pudjiastuti menyampaikan kepada petambak bahwa dirinya siap membantu memediasi petambak untuk menyelesaikan masalah dan polemik yang selama ini mereka alami. Baik itu dengan pihak perbankan maupun dengan perusahaan yang dulu menjadi inti.

“Saya janji membantu petambak ,asal petambak komitmen menjaga kelestarian dan keberlanjutan lingkungan dalam usaha budidaya,” ujar Susi.

Susi menambahkan, dirinya adalah pihak yang bertanggung jawab untuk menjalankan kedaulatan perikanan di negeri ini. “Yang mana semangat kemandirian itu saya temukan di para petambak Dipasena,” tegas Susi.

Selain Susi, dihadapan para petambak, Gubernur Lampung Ridho Ficardo juga menyampaikan janjinya untuk memprioritaskan pembangunan jalan poros Rawajitu sebagaimana yang penah ia janjikan kepada petambak beberapa waktu yang lalu.

Sementara itu Susi menyampaikan bahwa pihaknya akan membantu petambak menjadi juru runding persoalan antara petambak dengan pihak perusahaan. “Saya juga akan membantu pengembangan sumberdaya manusia di bumi Dipasena,” ujarnya. (*)

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *