Hari Air Sedunia: Derita Buruh Sawit Terpapar Air Tercemar

Buruh perkebunan sawit (dok. sawit watch)

Jakarta, Villagerspost.com – Kualitas air, khususnya air sungai di Indonesia semakin memburuk. Hal ini menjadi kekhawatiran sendiri di tengah peringatan Hari Air Sedunia yang diperangi setiap tanggal 22 Maret. Dalam peringatan yang mengambil tema: “Menghargai Air” kali ini, kualitas air sungai menjadi sorotan utama.

Beberapa contoh vitalnya peran sungai dalam penyediaan air bersih diungkap oleh Sawit Watch di beberapa perkebunan sawit di Papua. Kondisi buruh sawit di Arso Timur Kabupaten Keerom, Papua misalnya. Para buruh yang tinggal di perumahan area perkebunan hanya mengandalkan air sumur yang disediakan perusahaan dan waduk di tengah perkebunan sawit dengan pemberlakuan sistem irigasi buka tutup guna mengaliri air dari sungai sekitar.

Akibatnya, jika musim kering/kemarau, air menjadi persoalan utama karena sumur dan sistem irigasi tidak akan bekerja sama sekali. Untuk mengatasi kelangkaan air, para buruh perkebunan mengandalkan waduk yang letaknya cukup jauh. “Air waduk ini sangat keruh dan dipenuhi dengan dedaunan kering dan jentik nyamuk, padahal digunakan untuk mandi cuci kakus (MCK),” kata Hady Saputra dari Sawit Watch, dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Selasa (23/3).

Hadi memaparkan, aliran air memang hanya ditarik dengan pipa air biasa tanpa ada filter dan digunakan mesin penarik air untuk menambah tekanan air agar dapat mengalir ke rumah/barak buruh. Sedangkan, untuk kebutuhan minum dan memasak, keluarga buruh mengandalkan sumur sebagai sumber air minum satu-satunya yang jaraknya kurang lebih dua ratus meter dan ditempuh dengan berjalan kaki.

Hal serupa terjadi di area perkebunan sawit di Kabupaten Sorong, Papua Barat. “Mama-mama masyarakat adat Moi Klamono dipaksa untuk menempuh perjalanan jauh untuk sekadar menjangkau akses air bersih. Hal ini lantaran sumber air di area perkebunan telah tercemar oleh limbah dari penggunaan bahan-bahan kimia beracun di pengoperasian perkebunan,” papar Hadi.

Kelangkaan air bersih tak hanya dialami para buruh sawit di Papua. Kekhawatiran masyarakat akan kelangkaan air bersih juga dialami oleh Masyarakat di Kabupaten Sambas dan Ketapang, Kalimantan Barat.

Masyarakat di kedua kabupaten ini mengeluhkan pencemaran air di sungai dan sumber air mereka akibat penggunaan pupuk dan pestisida yang berlebihan dalam perkebunan maupun limbah minyak sawit dari pengolahan minyak sawit mentah yang masuk ke aliran sungai. Hal ini berakibat pada pencemaran air dan menurunnya jumlah ikan tiap tahunnya.

Sawit Watch mencatat hingga tahun 2020 terdapat sebanyak 72 komunitas masyarakat yang berkonflik dengan perkebunan sawit untuk isu kerusakan lingkungan. Perkebunan sawit tidak hanya menyebabkan terjadinya penurunan kualitas air bersih. Dalam konteks yang lebih berat, hadirnya perkebunan sawit juga dapat mengakibatkan hilangnya (mengering) sungai-sungai kecil atau aliran anak sungai di suatu wilayah di sekitar perkebunan.

“Jika hal ini sudah terjadi, maka akan berdampak pada hilangnya budaya dan kearifan lokal masyarakat adat atau masyarakat setempat yang secara turun temurun melakukan pemanfaatan dan pengelolaan air di wilayah tersebut,” jelas Hadi.

Riset ECOTON pada tahun 2018 mengungkapkan, dalam pendataan pestisida dan pupuk yang dilakukan, menemukan 5 (lima) agen aktif pestisida, 4 (empat) di antaranya amat sangat beracun dan 9 jenis pupuk yang mengandung logam berat yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

Pupuk dan pestisida mencemari sungai melalui praktik-praktik yang tidak memenuhi prosedur dan regulasi seperti mengubah ukuran penyemprot dan pemupukan sembarangan dan penanaman sawit di bantaran sungai.

“Tidak hanya meracuni lingkungan, paparan pestisida dan pupuk juga meracuni buruh penyemprot dan pemupukan yang mayoritas adalah perempuan,” kata Riska Darwamati dari ECOTON.

Paparan pada saat bekerja disebabkan oleh tidak digunakannya alat perlindungan diri (APD) yang lengkap. Hal tersebut terjadi karena tidak disediakan oleh perkebunan ataupun ketiadaan informasi dampak kesehatan paparan senyawa beracun tersebut. Kondisi ini masih ditambah dengan tidak tersedianya air bersih bagi buruh untuk membersihkan diri/dekontaminasi setelah bekerja.

“Pada kasus yang ekstrem, seperti yang dialami oleh buruh kebun di Kalimantan Timur, air kanal atau sungai tercemar untuk kebutuhan sehari-hari termasuk air minum,” ujar Riska.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published.