Hari Pangan Sedunia, KRKP Gelar Konser Virtual: “Lagu untuk Negeri Agraris” | Villagerspost.com

Hari Pangan Sedunia, KRKP Gelar Konser Virtual: “Lagu untuk Negeri Agraris”

Acara konser virtual” “Lagu untuk Negeri Agraris” yang digelar KRKP dalam memperingati Hari Pangan Sedunia (dok. krkp)

Bogor, Villagerspost.com – Perbaikan sistem pangan nasional menuju sistem pangan yang lebih berdaulat, adil, dan resilien, menjadi fokus utama yang diusung Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) dalam peringatan Hari Pangan Sedunia tahun 2020 ini. Peringatan hari pangan ini dikemas dikemas dalam konser virtual bertajuk: “Lagu untuk Negeri Agraris”, pada Sabtu 17 Oktober 2020 malam.

Dalam kegiatan tersebut KRKP melakukan kick off menuju gelaran Indonesian Food Sistem Summit 2021 dan peluncuran dashboard sistem pangan. Grup musik Akar Bambu, kelompok musik pro lingkungan dan musisi Rara Sekar yang juga pegiat pertanian urban tampil dalam konser virtual tersebut.

Akar Bambu membuka konser dengan lagu-lagu bertema seputar desa dan pertanian. Salah satunya adalah nomor bertajuk “Soedirman Soedjono (1)” yang bercerita kegelisahan seorang petani tua soal siapa yang bakal meneruskan pekerjaannya sebagai seorang petani. Kegelisahan itu digambarkan dalam lirik pertanyaan sang kakek kepada cucunya: “Jika suatu nanti Kakekmu telah pergi, siapa yang akan menanam padi. Jika suatu nanti, Engkau telah dewasa hijaukah tanah ini?”

Koordinator Nasional KRKP Said Abdullah yang tampil sebagai salah satu host dalam acara ini mengungkapkan, lagu tersebut relevan dengan situasi saat ini dimana anak-anak muda masih jarang yang mau terjun menekuni dunia pertanian. “Indonesia sangat kaya, seperti surga, apa saja bisa tumbuh, namun berkurangnya anak muda yang ingin menjadi petani suatu saat juga bisa mengakibatkan semakin berkurangnya lahan pertanian, ini harus menjadi perhatian kita bersama,” tegas pria yang akrab disapa Ayip itu.

Untuk menyemangati anak muda agar mau terjun ke dunia pertanian, di sela-sela penampilan para musisi, juga diputarkan kiprah petani muda yang rela meninggalkan pekerjaannya di kota besar untuk pulang ke kampung halamannya di Pematang Siantar, untuk mengembangkan pertanian organik. Petani muda adalah Apni Olivia Naibaho pendiri usaha pertanian organik Siantar Sehat sekaligus salah satu finalis Duta Petani Muda 2016.

Apni yang adalah seorang anak muda berpendidikan pasca sarjana, dan sebenanya sudah mendapatkan pekerjaan yang sangat layak di Jakarta, ternyata berani nekat pulang ke kampung halaman karena menuruti panggilan hatinya untuk mengembangkan pertanian, mengelola lahan yang kecil memberi contoh bagi petani yang lebih tua untuk mengembangkan pertanian organik.

Apni yang memulai usahanya di tahun 2015, mengembangkan pertanian organik di kawasan bernama Blok Songo, yang berjarak 30 menit bersepeda motor dari rumahnya di Pematang Siantar, Sumatera Utara. “Saya menyewa lahan untuk bercocok tanam, alasannya sederhana, bagaimana mungkin petani bisa tertarik kalau mereka belum melihat contohnya?” ujarnya.

Apni melibatkan mereka untuk menggarap lahan pertanian sayuran organik. Dan di tahun 2016, mulai ada dua petani perempuan yang tertarik dan mengikuti langkah Apni mengembangkan bertani sayur organik. “Saat ini sudah ada 7 petani sayur organik di Blok Songo yang bertani sayur organik, saya juga ikut melibatkan pemerintah setempat ikut bertani sayur organik di tempat ini,” terang Apni.

Apni sendiri melalui Siantar Sehat bertugas melakukan pemasaran atas produk-produk sayuran organik para petani di Blok Songo. Untuk itu Apni bergerilya berjualan sayur organik dari satu instansi pemerintah dan swasta ke instansi pemerintah dan swasta lainnya.

“Harapan saya dengan pertanian organik petani merasakan manfaat pertama dari sisi pendapatan yang bertambah, kedua lahan yang mereka kelola tejaga kesuburannya, ketiha mereka juga makan sayur yang baik dan sehat,” tegas Apni.

Kiprah Apni, kata Ayip, juga menegaskan pentingnya peran perempuan dalam produksi pangan sejak dari mengelola tanah hingga tersaji di meja makan. “Saya diingatkan bahwa perempuan adalah sosok penting yang mempunyai peran penting dalam pertanian yang tidak tergantikan mulai dari menyiapkan benih,” ujar Ayip.

Penghargaan terhadap perempuan dalam konteks sebagai pejuang pangan ini diekspresikan oleh musisi Rara Sekar yang membawakan dua lagu berjudul “perempuan” dan “apathy”. Rara bercerita, lagu “perempuan” terinspirasi dari pengalamannya sebagai perempuan baik di Indonesia dan di dunia yang secara umum mengalami banyak kesulitan dan tantangan.

“Menjadi petani pun perempuan susah, petani perempuan tantangannya lebih berlapis, tetapi perempuan punya kekuatan yang sangat besa krena peran reproduktifnya menjaga kehidupan, melahirkan anak, menyediakan makanan bagi keluarga, mengurus tanah lahan pertanian dan memuliakan benih,” jelasnya.

Sedangkan lagu “apathy” merefleksikan sikap apatis dirinya yang merasa tak mampu berbuat apa-apa melihat perjuangan kaum perempuan Kendeng yang berjuang menentang penggusuran lahan mereka untuk keperluan pabrik semen sampai harus berunjuk rasa dengan menyemen kaki-kaki mereka di depan istana.

“Itu miris banget melihat perempuan yang merawat menjaga tanah tetapi dia harus berjuang, sengsara demi melindungi kita, melindungi anak-anaknya dari eksploitasi atas nama pembangunan,” jelas Rara.

Terkait penghargaan terhadap para petani, perempuan dan produsen pangan skala kecil yang menjadi tulang punggung penyedia pangan di Indonesia, Siti Khoirun Nikmah Head of Program Management Oxfam Indonesia, melalui tayangan video yang diputar pada acara tersebut menyampaikan, rasa terimakasihnya kepada para petani.

“Saya berterimakasih kepada para petani, perempuan pejuang pangan, mereka sangat berjasa bagi kita semua,” ujar Nikmah.

Rasa terimakasih ini merupakan ungkapan tulus mengingat petani di tengah situasi yang tidak mudah karena pandemi Covid-19, terus bekerja tidak mengenal lelah menghasilkan pangan untuk kita semua. “Saat ini adalah peringatan Hari Pangan Sedunia, saatnya kita berterimakasih kepada para petani. Terimakasih petani, terimakasih perempuan pejuang pangan, jaya selalu petani kita,” tegas Nikmah.

Sementara itu, Witoro, Ketua Badan Pengurus KRKP menegaskan, momentum Hari Pangan Sedunia ini adalah momen pengingat bahwa kita semua berperan dalam menciptakan sistem pangan yang lebih sehat, adil, berkelanjutan dan tangguh. “Penghargaan setinggi-tingginya kita sampaikan kepada para pahlawan pangan kita, khususnya kepada keluarga buruh tani, petani kecil, terlebih para perempuan petani,” ujar Witoro.

Witoro juga mengingatkan, pandemi Covid-19 ini menjadi bukti rapuhnya sistem pangan dunia saat ini yang dikuasai oleh industri pangan global. Karena itu KRKP berkesimpulan perlu ada solusi inovatif dalam membangun kembali sistem pangan yang lebih baik dan tahan goncangan.

Sejalan dengan itu, tegas Witoro, ada momentum besar yang digagas oleh Sekjen PBB yakni KTT Sistem Pangan yang akan dihelat di tahun 2021 mendatang. “KRKP menangkap momentum itu dengan merancang serangkaian kegiatan dengan tema Indonesia Food System Summit,” ujar Witoro.

“Pada hari ini KRKP bersama beberapa pihak melaunching Indonesian Food System Summit sebagai tanda dimulainya serangkaian kegiatan menyongsong KTT Sistem Pangan PBB tahun depan,” tegasnya.

Terkait langkah ke depan setelah lauching IFSS ini, Dewan Pakar KRKP David Ardhian mengajak semua pihak meletakkan komitmen yang sama untuk bergotong royong menyelenggarakan IFSS tahun depan. “Saya berpesan khusus kepada anak muda, mahasiswa, entrepreneir muda, petani muda, pegiat muda urban farming, saya pastikan di Indonesia Food System Summit kalian tidak akan duduk di kursi belakang,” tegas David.

“Kalian akan duduk di kursi depan. Kalian yang akan memimpin kita semua, membawa kita semua menuju sistem pangan yang tangguh, kuat, berkeadilan dan resilien. Karena kalian adalah pemilik masa depan pangan negeri ini,” tambah David.

Acara peringatan Hari Pangan Sedunia ini ditutup dengan hitungan mundur menuju rangkaian acara menuju Indonesian Food System Summit. Untuk lebih lengkapnya, susunan acara dan berbagai kegiatan terkait IFSS dapat diakses di dashboard.sistempangan.org.

Editor: M. Agung Riyadi

Facebook Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *